Satu Lapan

2.6K 194 6
                                        

Jungkook, kaki pemuda itu melangkah lesu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Menutup asal pintu ruangan. Mendudukan tubuhnya di pinggir tempat tidur, dia menunduk menyembunyikan tatapan kosongnya, anak itu masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tanpa dia sadari buliran bening menetes membasahi tangannya yang kemerahan bercampur dengan bekas minuman coklat yang mulai mengering. Dia menangis ?, entahlah ... pemuda itu masih tertunduk mematung dalam diam.

Dia merasa sakit, bukan di tangan dan dadanya yang terkena coklat panas, bukan juga di pipi yang masih membekas merah itu.

Sakit seperti ada sesuatu yang remuk, perih seperti ada luka sayatan. Jungkook masih terus mencari dimana letak sakitnya, dimana letak kesalahannya, mengacuhkan air mata yang mengalir membasahi pipinya dan terjun bebas di punggung tangannya. Hingga dia mendengar samar-samar namanya disebut.

Kakak keduanya yang sedari tadi memerhatikannya dari ambang pintu yang tak tertutup sempurna. Dia sudah menyerukan nama Jungkook 3 kali dan dipanggilan keempat itulah sang adik menatapnya.

Ya Tuhan... sungguh ia tak ingin melihat wajah itu, lagi. Wajah yang dihiasi air mata tanpa disadari oleh si empunya.

Yoongi melangkah mendekati Jungkook yang masih setia dengan diamnya.

"Kau belum tidur rupanya," sapa Yoongi.

"Ha?" Jungkook membeo sejenak lalu menggeleng sebagai jawaban.

"Kau baru pulang bimbel?" Tangannya terulur meraih tangan Jungkook. Dia membersihkan sisa coklat yang kembali basah karena tangisnya.

"Hm..." Jungkook mengangguk.

Yoongi dengan telaten membersihkan luka adiknya. Mengoleskan salep pada tangan dan dadanya agar luka itu tak melepuh nantinya.

"Apa kak Jin membenciku?. Rasanya menyakitkan." ucap Jungkook ketika Yoongi menyeka air mata dan pipi merahnya. "Aku tak apa jika Papa membenciku bahkan memukulku karena Papa sudah jadi milik Soomi sekarang. Tapi jangan Kakak, disini aku cuma memiliki kalian untuk pulang."

"Hei... kak Jin cuma emosi sesaat. Kita menyayangimu." Mengelus surai hitam adiknya. "Apa kau masih tidak suka orang lain menyentuhmu?" tambah Yoongi.

Jungkook mengangguk sebagai jawaban.

Yoongi terkekeh pelan. "Lalu berapa banyak orang yang kau pukul di luar sana kalo dia tiba-tiba menyentuhmu?" tanyanya.

"Aku memang nggak suka kalo tiba-tiba disentuh, tapi aku bukan preman kak... Lagian akan ada orang yang selalu bersamaku diluar sana."

"Disini juga ada 6 kakak yang selalu bersamamu dan menjagamu. Tapi kenapa kamu masih tak suka dengan Mama? kau membencinya ?"

Jungkook mengangguk pelan. "Aku takut Kak, sangat takut."

Yoongi terdiam menatap adiknya yang tertunduk. sisi Jungkook yang tak pernah Yoongi lihat. Mereka mengira Jungkook hanya membenci Mamanya itu seperti anak yang membenci ibu tirinya. Ternyata selama ini adiknya hidup dipenuhi rasa takut di rumahnya sendiri. Rumah yang harusnya memberi rasa nyaman baginya.

"Tidurlah. Pakai pakaian yang longgar dan halus untuk menjaga lukamu itu. Mereka akan menemanimu malam ini." Menunjuk dua orang yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.

Jimin dan Taehyung, mereka berdua juga melihat kejadian malam ini dan akhirnya memutuskan untuk tidur menemani adiknya.

"Ayo kita main game malam ini !" seru Taehyung.

"Nggak ada game-gamean ya, adikmu lagi sakit. Tidur!, atau kakak sita HP kalian bertiga." tegas Yoongi.

"Galaknya..." ketiganya kompak mengucapkan kata itu.

Shine on MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang