"Pasien akan bangun beberapa jam kedepan. Pertumbuhan sel kanker pada pankreasnya sudah mencapai 80%. Sesak napas terjadi karena peradangan dan pembengkakan yang mendesak paru-parunya. Kita juga menemukan kerusakan pada hati karena penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan dan juga karena kanker itu sendiri. Kita akan melakukan operasi pengangkatan pankreas. Untuk hatinya kita butuh pendonor untuk melakukan transplantasi."
.
.
.
"Seokjin... maaf jika bunda harus menitipkan satu permintaan lagi di bahumu sebagai kakak tertua. Tolong perhatikan semua adik-adikmu, terutama Jungkook. Anak itu suka memendam semuanya sendirian, dia takut jika ada hal yang mungkin membuat yang lain marah, khawatir, sedih, ataupun menyakiti. Dia pintar menyembunyikan semuanya dibalik tingkahnya yang aktif. Jadi, jika kamu merasa ada yang aneh langsung tanyakan empat mata, bukan hanya Jungkook, tapi semuanya. Kamu bisa kan ?, jangan khawatir bunda akan selalu bersamamu"
.
.
.
"Cih, apanya yang besok ? bahkan kamu nggak memberi kakak waktu sampai saat tiba, Dek." Seokjin menggenggam tangan Jungkook yang belum juga membuka matanya.
Seokjin menyesal atas kalimat "mungkin besok" yang dia ucapkan sebelum terlelap. Harusnya malam itu dia menemani Jungkook, mendengarkan segala ceritanya, dan bertanya tentang apapun yang ingin dia ketahui tentang adiknya itu.
"Maafin kakak, Dek. Maafin Seokjin, Bunda." Dua kalimat permintaan maaf itu dia rapalkan berkali-kali, hingga suara pintu ruangan yang terbuka membuatnya sedikit terkejut.
"Bagaimana ?, ada tanda-tanda dia akan bangun ?" tanya Joohun yang baru saja masuk dan duduk di kursi seberang.
Seokjin hanya menggeleng, lalu keheningan pun terjadi. Keduanya tenggelam dalam pikiran penuh penyesalan masing-masing. Hingga suara erangan lirih membuat mereka beranjak dari duduknya. Menatap lekat mata sayu yang perlahan terbuka.
Mata jungkook perlahan terbuka, sedikit menyernyit karena silau cahaya lampu dan juga seluruh badanya yang terasa remuk.
"Pa... Kak Jin..." lirih Jungkook saat netranya berhasil menangkap dua sosok yang saat ini memandangnya penuh kekhawatiran.
"Iya sayang... Papa disini." ucap Joohun lembut sembari mengelus surai Jungkook. "Jin, tolong panggilkan dokter." pinta Joohun.
"Iya pa... kak Jin panggilkan dokter dulu ya, Dek." Mengelus tangan Jungkook pelan sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Jungkook memalingkan wajahnya ke arah lain. Pikirannya terlempar ke masa lalu saat dirinya terbangun di brankar rumah sakit kerena demam berdarah dan pingsan di sekolah, mendapati Bundanya sendirian menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Jungkook membencinya.
Dia benci ketika lagi-lagi orang terdekatnya khawatir karenanya. Dia tak pernah menginginkan hal itu.
"Kenapa sayang ?... apa ada yang sakit ?" tanya Joohun.
Jungkook hanya menggeleng, dia tak ingin melihat mata ayahnya. Hal itu membuat hatinya teriris begitu juga bagi Joohun.
Joohun paham tentang putranya itu, dia memilih untuk kembali duduk disamping Jungkook menunggu sang dokter.
"Mama dan kakak yang lain akan menyusul kesini. Saat ini hanya papa, kak Seokjin, dan kak Yoongi yang menemanimu. Kak Yoongi sedang membeli makanan untuk sarapan. Papa baru saja dari ruangan dokter. Kamu tau, nak ? kamu akan sembuh, Papa pastikan hal itu, jadi kamu jangan khawatir ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Shine on Me
FanfictionTentang kehidupan seorang Jungkook dan ke enam kakaknya. Hidupnya yang hanya seperti "haha hihi" ternyata menyimpan begitu banyak duka lara. Hingga tiba saat dimana keenam kakaknya sadar bahwa adik kesayangannya selama ini hidup dengan topeng yang s...
