Empat Satu

2.7K 197 18
                                        


"Pasien dalam keadaan koma, kami tak bisa menentukan kapan putra bapak akan tersadar. Kita juga tidak bisa melakukan operasi , karena keadaan pasien yang rentan dan beresiko tinggi. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesehatan Jungkook, maka dari itu kami meminta bantuan pada semua keluarga untuk  tetap tegar dan selalu berdoa untuknya. Terimakasih"

Begitulah yang dikatakan Clay sebagai dokter Jungkook dua hari lalu dan sampai saat ini Jungkook belum juga mau untuk membuka matanya. Dia masih setia memejamkan matanya di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat medis, alat yang menopang hidupnya saat ini. Terbaring sendirian tanpa seorangpun yang berada disisinya, pihak keluarga hanya bisa menatapnya dari balik kaca, atau sesekali mereka diijinkan di dalam sana untuk beberapa menit.

Napasnya teratur dan cenderung pelan, suara elektrokardiogram yang seperti bom waktu bagi Joohun atau bahkan semua yang sedang duduk di ruang tunggu itu. Semuanya tertunduk, terus memanjatkan doa tanpa henti kepada yang kuasa, berharap tak akan pernah ada suara nyaring dari dalam sana.

Disisi lain, Joohun, Seokjin, dan Yoongi disibukkan juga dengan kasus Soomi. Tenaganya terkuras karena harus bolak-balik ke kantor polisi, rumah,  dan rumah sakit. Menuntut hukuman yang setimpal bagi Soomi meskipun tanpa hadirnya saksi kunci, yaitu Jungkook.

Jimin dan Taehyung sudah mengetahui semuanya. Reaksi mereka sama dengan Hoseok dan Namjoon. Namun Jimin masih bisa mengontrol emosinya ketimbang Taehyung.

Taehyung yang mengamuk sudah dalam prediksi semua kakaknya dan Joohun. Baginya, kehilangan Jungkook berarti kehilangan satu-satunya adik yang dia punya. Adik yang dia minta, adik yang selalu dia nantikan kehadirannya, adik yang dulu tak pernah dia ijinkan siapapun menyentuhnya kecuali anggota keluarga.

Bahkan dia dengan sadar mengumpat dan menyumpah serapahi Joohun. Dia melampiaskan semua amarahnya dengan deruan air mata yang tak hentinya membasahi pipinya. Itu hanya sementara dan Taehyung akan tenang setelahnya.

.

.

.

.

Hari ini adalah sidang keputusan hukuman bagi Soomi dan juga Joohun. Semua yang ikut serta dalam kasus Soomi hadir untuk bersaksi. Di pihak Jungkook ada Joohun, Seokjin, Yoongi, dan Namjoon untuk bersaksi. Jeon pun datang untuk sekedar melihat atas permintaan Yoongi.

Setelah semua serangkaian proses persidangan, Jaksa memberikan hukuman 20 tahun penjara atas tuntutan pembunuhan. Sedangkan Joohun dihukum 15 bulan penjara karena penganiayaan terhadap anak dan melindungi pelaku pidana.

Semua menerima tanpa ada bantahan dan kasus selesai menyisakan sidang perceraian untuk Joohun dan Soomi.

Tak ada raut bahagia atas dipenjarakannya Soomi. Terutama Joohun, hukumannya mungkin tak seberat Soomi, namun dia benar-benar menyesal atas semua keterlambatan langkahnya untuk melindungi keluarga.

Bagi Joohun, bukan hasil putusan yang membuatnya tersiksa, namun dia harus mendekam di penjara saat putra bungsunya dalam keadaan koma. Tak bisa berada di sisinya saat sang bungsu benar-benar tak berdaya. Hukuman Tuhan yang ini sungguh menyiksanya, meremukkan batinnya, dan mungkin dia tak akan memaafkan dirinya sendiri.

Menyesali semua janji yang pernah dia ucapkan disaat pemakaman Hana, sang istri. Dia mengingkarinya. Joohun berpikiran, mungkin ini cara Hana menegurnya. Mencoba mengingatkan Joohun bahwa dia telah salah langkah . Mengkhianati istri dan ketujuh putranya. Apalagi menyakiti sang bungsu, itu adalah hal yang sangat Hana benci. Tak ada yang boleh menyakiti semua putranya kecuali dirinya, begitulah hal yang sering Hana gaungkan.

Jika ada kata lain diatas kata menyesal, mungkin itulah yang akan Joohun sematkan dalam dirinya sekarang. Dia selalu berdoa disetiap detik agar bisa meminta maaf kepada Jungkook meskipun dia mungkin tak pantas untuk mendapatkan hal itu.

Shine on MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang