Jeon berdecih kesal ketika melihat seorang bocah 12 tahun lebih muda darinya sedang asik rebahan setelah memalak makanannya tanpa dosa. "Lo tuh harusnya pulang ke rumah, ini minggu akhir bulan jadi lo bisa nginep dan ngumpul sama keluarga, bukan malah geleyoran disini, Jung."
"Lo berisik banget, Jeon. Gue pengen rebahan disini bentar pelit amat. Lagian lo juga nggak ada jadwal kencan."
"Gue batalin karna ada bocil disini."
"Bagus deh, artinya gue udah bantu lo biar nggak nambah tu dosa."
Dia hanya bisa menghela nafas pasrah. Percuma berdebat dengan bocah keras kepala macam Jungkook, tak kan ada habisnya.
Terhitung 2 bulan setengah Jungkook tinggal di asrama dan dia pulang ke rumahnya hanya sekali. Padahal papanya menggambil sistem dimana Jungkook bisa berkunjung ke rumah setiap akhir pekan dan pulang setiap akhir pekan di akhir bulan. Namun yang terjadi, Jungkook lebih memilih berlama-lama di tempat Jeon lalu berkunjung ke rumah sebentar dan kembali ke asrama. Baginya, tak ada lagi tempat untuk dia pulang.
Jeon dan juga Jungkook bukanlah keluarga. Mereka bertemu 5 tahun yang lalu dan dekat hingga sekarang, bahkan Jungkook lebih dekat dengan Jeon ketimbang keluarganya.
Mekipun terlihat bajingan, tapi Jeon selalu mengiyakan apa yang Jungkook mau apapun itu, entah baik atau buruk asalkan tak menghilangkan nyawa seseorang. Dapat dilihat dari sifat Jungkook yang kurang ajar, itulah hasil didikan Jeon. Dan orang yang bisa membuat Jungkook aman adalah Jeon.
"Eunbi masih sering main kesini ?" tanya Jungkook memecah keheningan diantara mereka.
"Jarang, dia sekarang kerja di cafe. Dan lebih sering main bareng teman barunya"
Senyum tipis terukir di wajah Jungkook. "Dia memang serius dengan cita-citanya."
Jeon menutup laptop yang sedari tadi berada dihadapannya. Menatap bocah yang rebahan memainkan HPnya. "Kalo lo ?. Lo juga serius ama cita-cita lo ?"
"Lo dari dulu selalu nanyain hal itu setiap akhir bulan. Udah kayak absen pengambilan gaji."
Jeon terkekeh mendengar gerutuan bocah itu. Dia memang selalu menanyakan hal itu setiap bulan, seperti apa cita-cita Jungkook ?, apa yang Jungkook inginkan untuk masa depan ?, apa yang akan Jungkook lakukan kedepannya ?. Pertanyaan yang selalu membuat Jungkook memutar bola matanya dan mendengus kesal pastinya.
Bahkan Jeon sudah hafal dengan jawaban yang akan keluar dari mulut bocah itu. Nggak ada, nggak tau, entah, hanya tiga kata itu dan beberapa deret alasan yang mengikutinya.
"Lo timbang ngomel mending langsung jawab aja."
"Cih," Entah kenapa Jeon selalu menanyakan hal itu. Meskipun jawaban yang akan keluar selalu sama dan tentunya Jeon sudah hapal betul, tapi menjawab pertanyaan yang satu ini hukumnya wajib bagi Jungkook. Jika tidak, dia akan terus dibombardir dengan pertanyaan yang sama sampai dia menjawabnya.
"Gue belum ada cita-cita Jeon, lo juga udah hapal gimana jawabannya. Tujuan gue tetep sama seperti saat kita pertama bertemu. Dan lo juga tau hal itu yang membuat gue bertahan sampe sekarang."
"Setelah itu ?" Seakan tak puas dengan jawaban yang dia dengar barusan.
Jungkook mengedikkan bahunya acuh dan lanjut sibuk dengan ponselnya.
"Lo tuh harus punya rencana kedepan, Jung. Kayak... lo mau kuliah dimana ? jurusan apa ?, bekerja yang layak, mengejar cita-cita, menikah, punya anak, liburan, punya cucu, cicit, menua bersama." jelas Jeon yang mencoba memberi pengertian.
Namun, gelak tawa seketika keluar dari mulut bocah yang ada didepannya. "Gimana gue bisa termotivasi ?, orang yang ngomong aja gagal nikah beberapa tahun lalu. Bahkan hidupnya berantakan setelahnya dan hanya bisa mengandalkan bocah SD yang setia menjadi badutnya." ledek Jungkook.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shine on Me
FanfictionTentang kehidupan seorang Jungkook dan ke enam kakaknya. Hidupnya yang hanya seperti "haha hihi" ternyata menyimpan begitu banyak duka lara. Hingga tiba saat dimana keenam kakaknya sadar bahwa adik kesayangannya selama ini hidup dengan topeng yang s...
