Dua Lima

2.9K 244 24
                                        


Pagi ini, tepat di hari ketiga Jungkook sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Tak perlu waktu lama untuk membereskan barang-barang bawaan yang terpakai sebelumnya. Terlihat Jungkook yang sudah rapi sedang bermain HP milik Jeon di ruang rawat sembari menunggu si pemilik mengurus administrasi rumah sakit.

"Jung," panggil Jeon dari ambang pintu. "Ikut gue bentar."

Tanpa perlu bertanya, Jungkook segera bangkit mengikuti langkah Jeon menyusuri lorong rumah sakit, hingga keduanya sampai di depan sebuah ruangan. Jungkook tersenyum miring setelah membaca papan nama ruangan tersebut, Spesialis Onkologi.

Jeon pun merangkul pundak Jungkook dan memasuki ruangan setelah mengetok pintu dan mendapat izin dari dalam sana.

Keduanya duduk berhadapan dengan dokter perempuan yang terbilang masih muda, mungkin kurang lebih seumuran dengan Jeon.

"Kim Jungkook ?" sapa dokter tersebut.

Yang dipanggilpun mengangguk. "Ya ?"

"Saya Clarissa Yuma, spesialis onkologi yang akan menanganimu mulai hari ini," ucap dokter itu memperkenalkan dirinya sembari menyiapkan beberapa berkas atas nama Kim Jungkook. Gimana sekolahmu ? berjalan lancar ?." Sedikit basa-basi dia lalukan.

"Hmm... lancar kok, Dok." jawab Jungkook yang nampak tak ingin berbasa-basi.

"Panggil Kak Yuma aja. Saya agak risih dipanggil dengan gelar," jelasnya. Jungkook hanya mendengar dan mengangguk paham. Dokter perempuan itu tersenyum dihadapan Jungkook. "Sudah berapa lama kamu sering mengalami sakit perut ?." tanyanya.

"Tiga bulan ? empat bulan yang lalu ?. Sekitar musim ujian kenaikan kelas kemarin, dan sering muncul sebulan terakhir ini."

"Selama itu apakah kamu sudah pernah periksa ke tempat lain ?"

Jungkook menggeleng. "Saya kira hanya sakit maag biasa, jadi saya hanya mengkonsumsi obat maag dan anti nyeri dari apotek. Tapi setelah masuk ruangan ini, mungkin memang ada yang bermasalah di tubuh saya. Jika tidak keberatan, bisakah anda menjelaskan apa yang terjadi, Dok ?, ah— kak Yuma," Sedikit canggung diakhir kalimatnya.

Jeon yang sedari tadi diam dibuat terkesiap dengan perkataan Jungkook. Tak seperti apa yang dia bayangkan, ternyata anak itu lebih dari siap menerima keterangan dari dokter.

Dokter itu kembali mengulum senyum sembari membuka berkas hasil pemeriksaan Jungkook. "Beberapa hari lalu kamu menjalani pemeriksaan disini dan bahkan kamu juga dirawat disini. Hasil yang kami dapat dari tes darah CA 19-9 hasilnya lebih dari batas normal yang harusnya kurang dari 37U/mL tapi milikmu berada di angka 45,8U/mL, itu menunjukkan ada yang bermasalah dengan pankreasmu. Hasil CT-Scan juga menunjukkan adanya pertumbuhan sel kanker disana. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kanker itu tumbuh di sel eksokrin atau endokrin."

Hening, tak ada tanggapan apapun dari Jungkook. Dia hanya menatap ke arah bekas-berkas yang ada di depannya. Anak itu benar-benar kosong tak tau harus bagaimana. Hingga dititik dia tersenyum, senyum sendu penuh kepasrahan, merasa lucu dengan kehidupannya.

"Seberapa parah ?" tanya Jeon, dia mengusap punggung Jungkook lembut penuh kekhawatiran. Dia tak suka dengan topeng yang dipasang Jungkook saat ini. "Sudah seberapa parah kanker itu tumbuh ?"

"Jangan patah semangat, Jungkook. Kita masih beruntung dapat mendiagnosis ini lebih awal. Banyak kasus kanker pankreas terlambat diketahui karena gejala-gejala yang diabaikan dan baru disadari ketika sudah menyebar ke organ lain. Tapi tidak untukmu, kamu masih di stadium awal dimana akan lebih mudah untuk proses penyembuhan asalkan kamu rutin dan teratur menjalani pengobatan. Karena pankreas termasuk organ pencernaan, mungkin kamu akan mengalami rasa sakit setelah makan, jadi saya harap mulai saat ini sebisa mungkin kamu harus mengkonsumsi makanan bertekstur lembut dan sehat. Saya yakin kamu anak yang tangguh, kamu pasti bisa melaluinya."

Shine on MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang