For information, kisahnya sudah release sampai tamat di Karya Karsa/ Google playbook yaaa
yang pengen nglarisin bisa cus ke dua platform itu
===================================
"Aku ada ujian pagi ma, sarapan di mobil aja ya." Shanon tampak berlari menuruni tangga.
"Ok, minum aja dulu susunya." Almiera yang juga tampak terburu-buru segera menyambar tiga potong sandwich buatannya dan memasukkannya ke dalam kotak bekal kemudian dengan terburu-buru keduanya berjalan keluar dari rumah.
"Bi Sum, kita berangkat ya." Pamit Shanon.
"Iya non, hati-hati bu nyetirnya." Ujar Bi Sum yang sedang asyik menyirami bunga di taman.
Setelah mobil menyala dan perlahan meninggalkan area halaman rumah Almiera, keduanya mulai sibuk masing-masing. Almiera sibuk menyetir sementara Shanon sibuk membaca buku pelajarannya.
"Shan . . ." Almiera menoleh sekilas.
"Ya . . ." Shanon juga menoleh pada ibunya.
"Mama mau ngomong, tapi takut ganggu konsentrasi kamu." Ujar Almiera.
"Santai aja ma, aku cuman baca lembar terakhir yang belum sempet kebaca semalem." Jawab Shanon. "Emang mau ngomong soal apa?" Tanya Shanon.
"Em . . . " Almiera menelan ludah, dia mencoba mempertimbangkan sekali lagi apa yang ingin dia bicarakan dengan Shanon. "Pulang sekolah aja kita bahas ya." Almiera mengurungkan niatnya. "Kamu fokus dulu sama ujian pagi ini." Kata sang ibu.
"Ok." Shanon mengangguk. Dia kembali membuka buku sambil mengunyah sandwich yang dibungkus oleh ibunya untu di makan di dalam mobil.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka tiba di gerbang sekolah. Shanon mencium tangan ibunya, "Sukses ya buat ujiannya." Kata Almiera.
"Ok ma. Hati-hati ya." Kata Shanon. Begitu Shanon keluar dan berjalan ke arah gerbang sekolah, Almira menunggu sampai Shanon menghilang di balik pagar. Tapi sesuatu yang aneh terjadi, langkah Shanon terhenti dan seseorang berjalan mendekatinya.
Almiera mengamati dari jauh, rupanya itu Panji.
"Sial!" Gumam Almiera. Panji nekat menemui Shanon di sekolahnya pagi ini.
"Shan . . ." Panji memanggil nama puterinya itu dan Shanon menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah sumber suara dan ekspresi gadis itu mendadak berubah. Dia menunduk dan memacu langkahnya lebih cepat menuju gerbang.
"Shan . . . Shanon. . . papa mau bicara." Panji berusaha mengejar Shanon tapi Shanon berlari dan segera menembus kerumunan anak-anak lainnya membuat Panji tertahan. Almiera yang menyaksikan kejadian itu merasa tidak bisa tinggal diam.
"Panji!" Teriak Almiera membuat pria itu menoleh dan berbalik ke arahnya. Setidaknya dengan mengalihkan perhatian Panji, Shanon bisa dengan tenang memasuki kelasnya, walaupun sudah barang tentu konsentrasinya akan hancur setelah apa yang terjadi padanya.
Almiera mendekati Panji dengan wajah kesal, "Kamu apa-apaan sih? Kan aku bilang tunggu aku ngomong sama Shanon. Kenapa kamu nggak dengerin aku?!" Protes Almiera, "Kamu main dateng ke sekolah, nodong Shanon kaya gitu, kamu nggak tahu kan kalau pagi ini dia ada ujian?!" Almiera menjadi semakin marah pada Panji.
"Ya salah kamu juga, kenapa kamu semalam matiin telepon sebelum aku selesai ngomong!" Panji balas menyalahkan Almiera.
"Ini terakhir kali aku lihat kamu nemuin Shanon sembarangan. Kamu pikir setelah apa yang kamu lakuin, kamu bisa seenaknya nemuin Shanon seperti itu? Kamu nggak pikirin psikis tu anak, hah?!" Almiera mendongak menantang Panji. "Egois kamu!" Almiera menambahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Almiera
RomanceKisah tentang seorang wanita yang sudah berumahtangga selama duabelas tahun, tapi kemudian tiba-tiba di tinggalkan begitu saja oleh suaminya karena wanita lain. Perceraian tidak bisa di hindarkan lagi, dengan berpegang pada tanggungjawabnya untuk me...
