32

11.5K 692 19
                                        

Vena membukakan pintu rumahnya, mendapati Sayre yang mengenakan jubah panjang yang menutupi kepala sampai kaki. Di balik jubah itu, ia mengenakan kemeja sutra berwarna putih dan celana bahan hitam yang halus. Vena melangkah mundur, mengulum senyum sambil membiarkan Sayre masuk. Tanpa bicara, Sayre melangkah masuk ke dalam, menatap Vena yang menutup pintu rumahnya dengan canggung.

Ketika pintu sudah tertutup, Vena berbalik menatap Sayre yang terdiam. Dibanding saat ia pertama menerobos masuk ke dalam rumah Vena, Sayre kelihatan lebih tenang hari ini. Vena tersenyum lagi.

"Ikut aku," ujarnya melangkah menuju ke dalam kamarnya.

Sayre dengan patuh mengikuti Vena, menutup pintu kamar Vena saat berada di dalam kamarnya. Vena berdiri menghadapnya sambil bersedekap. Perempuan itu kelihatan cantik dengan gaun tidur merah gelap dari bahan satin dengan model tali spageti yang panjangnya hanya selutut. Sayre dengan hati-hati melepaskan jubahnya, meletakkannya di gantungan yang ia temukan dan menatap Vena.

Mereka saling bertatapan sejenak tanpa bicara. Vena mengamati Sayre dari atas ke bawah, sementara Sayre menatapnya penuh kerinduan, kecemasan dan kasih sayang. Sayre sedikit takut saat ia melihat Vena membukakan pintu untuknya. Ia takut jika malam ini akan jadi kali terakhirnya menjadi milik Vena. Walau sekarang statusnya sendiri tidak jelas, tetapi Sayre tetaplah mendeklarasikan dirinya sebagai milik Vena sampai Vena sendiri yang membuangnya. Yang Sayre harap, Vena tidak akan pernah membuangnya.

Ekspresi Sayre membuat Vena menghela napas, luluh dan tidak tega juga membuat Sayre seperti ini. Ia memasang senyum lembut, membuka tangannya dan bersiap menerima Sayre. "Kemari."

Sayre langsung melangkah lebar, menyambut Vena dengan pelukan erat yang hangat. Ia menunduk, menenggelamkan wajahnya di leher Vena sambil menghirup aroma sabun mandi yang Vena pakai. Sayre menitikkan air mata lagi, merasa lega dalam pelukan Vena.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi," lirih Sayre parau.

"Tidak peduli selapar apa pun dirimu, jangan pernah menggigit tuanmu, Sayre," balas Vena lembut membuat Sayre mengeratkan pelukannya. "Jangan diulangi."

"Tidak akan kuulangi. Maafkan aku." Sayre menggumam.

"Aku memaafkanmu," balas Vena, mengelus rambut Sayre sayang. "Aku juga minta maaf karena membuatmu cemas. Kau pasti sangat gelisah sampai membuatmu datang sendiri ke Selatan."

"Kau pergi tanpa sepatah kata pun. Terlebih, kau langsung pergi setelah baru pulih dari koma." Suara Sayre terdengar lemah. "Aku bahkan tidak bisa bertanya langsung padamu, apakah kau baik, apakah ada yang sakit, atau apa aku bisa melakukan sesuatu untukmu."

"Itu karena kudengar kau akan menikahi Gladys Harbor-"

Sayre menggeleng, langsung memotong dengan tegas. "Aku tidak akan menikah. Jika kau tidak menikah, aku juga tidak akan menikah. Kalau aku memang harus menikah, maka orang yang kunikahi haruslah dirimu."

Vena tertawa pelan, melepaskan pelukan Sayre yang enggan melepaskannya. Ia menangkup wajah lelaki itu dengan kedua tangannya, mengusap wajahnya yang basah karena air mata.

"Ya ampun. Kau menangis lagi, huh?" Vena menatap Sayre sembari menghapus air matanya.

"Itu karena aku sangat merindukanmu." Lelaki itu cemberut, membuat wajahnya kelihatan begitu manis. Vena terkekeh, mengecup bibirnya lembut.

"Aku minta maaf, Sayre. Kau tidak akan melihatku tiba-tiba pergi lagi. Aku akan selalu memberitahumu jika aku akan bepergian."

"Kau berjanji?"

Vena mencubit pipi Sayre gemas. "Kau tahu jika aku tak pernah mengingkari janjiku."

Sayre tersenyum puas, menatap Vena yang kembali mendekat dan mencium bibirnya lembut. Ia membalas ciumannya dengan manis, mengerang sedikit saat Vena dengan nakal menyentuh tubuhnya dan mulai melepaskan kancing kemejanya. Vena mendorong tubuh Sayre lembut hingga jatuh terduduk ke ranjang, menyentuh seluruh tubuh bagian atasnya dengan sensual yang membuat Sayre berulang kali mengembuskan napas memburu.

The Love CureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang