Jam dinding Vena menunjukkan pukul setengah dua belas siang saat Sayre terbangun. Tirai kamarnya masih belum dibuka. Vena hanya membiarkan sedikit cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Sayre melirik Vena yang duduk bersandar di bantal yang ditempelkan ke kepala ranjang, setengah berbaring sambil mengelus rambutnya lembut. Sayre langsung tersenyum saat melihat wajah Vena, menggeser tubuhnya dan memeluk pinggang Vena.
"Selamat pagi," bisiknya parau membuat Vena tertawa.
"Selamat siang." Vena mengoreksi. Ia menunduk untuk mengecup kening Sayre. "Tidurmu nyenyak?"
"Tidak pernah lebih nyenyak dari ini." Sayre tersenyum lebar.
Vena kembali mengecup kening Sayre, membiarkan Sayre beranjak bangkit dan duduk di ranjang. Lelaki itu masih telanjang, hanya ditutupi selimut dengan seluruh tubuh terdapat banyak bekas hasil cinta yang mereka buat semalam. Tubuh Vena juga dalam keadaan yang sama, kecuali, ia sudah segar kembali dan mengenakan gaun tipis yang baru dan kelihatan nyaman. Sayre merenggangkan tubuhnya, menatap Vena dengan senyum manis.
"Kau tidak bekerja?" tanya Sayre.
"Tidak," sahut Vena singkat, tak mau repot-repot menjelaskan. "Kita akan menghabiskan seharian di rumah sebelum kembali ke Timur empat hari lagi. Paduka Kaisar mengirim surat padaku dan menyuruhku membawamu kembali ke Timur."
"Kau akan tinggal di Timur lebih lama bersamaku, 'kan?" tanya Sayre.
"Ya. Kau akan kesepian jika tidak ada aku."
Sayre mendekat pada Vena, memeluknya erat dan merebahkan kepalanya dengan manja ke bahu Vena. "Benar. Aku akan kesepian. Selama kau tidak ada, aku juga sangat kesepian."
Vena membalas pelukan Sayre, mengelus rambutnya sayang. "Kau tidak akan kesepian lagi sekarang."
Sayre mengangguk, memeluk Vena lebih lama dan bermanja-manja padanya. Namun, Vena mendorongnya supaya menjauh.
"Mandilah. Aku sudah buatkan sarapan selama kau tidur. Yah, walau sebenarnya sekarang sudah jam makan siang."
"Kau memasak untukku?" Sayre menatap Vena tidak percaya.
"Kenapa? Kau tidak mau kumasakkan?" sahut Vena menggoda.
Ia buru-buru menggeleng. "Tentu saja aku mau!"
"Kalau begitu, mandilah."
Sayre mengangguk, turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya. Sementara, Vena beranjak bangkit, membuka tirai dan menyiapkan pakaian untuk Sayre. Ia tersenyum jahil saat melihat pakaian yang ia siapkan, membayangkan reaksi Sayre saat melihatnya karena ia tahu lelaki itu pasti akan memberikan reaksi yang manis. Sayre keluar dari kamar mandi sekitar lima belas menit kemudian, sudah bersih dan segar setelah menggunakan semua perlengkapan mandi yang disiapkan Vena. Ia mengenakan jubah mandi Vena yang hampir tidak muat di tubuhnya, tetapi masih bisa ia kenakan untuk menutupi tubuhnya.
"Sudah selesai?" Vena mendekat pada Sayre, meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Sabunmu wangi. Aku suka wanginya," kata Sayre memberi tahu.
"Akan kukirimkan yang sama ke kediamanmu supaya kau beraroma sepertiku," balas Vena. "Tapi, aku akan membunuhmu jika ada perempuan lain yang menggunakannya."
"Aku tidak suka perempuan lain. Lagi pula, aku hanya milikmu," protes Sayre dengan bibir cemberut.
Vena tertawa lagi, berjinjit untuk mengecup bibir Sayre seraya mengeringkan rambutnya. "Ya, kau hanya milikku."
Sayre bersemu, menarik tubuh Vena mendekat dan memeluknya seraya membiarkan Vena mengeringkan rambutnya. Selesai dengan kegiatannya, Vena menatap Sayre dengan senyum jenaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Love Cure
Storie d'amoreMATURE! [Completed] Vena Lilian adalah perempuan mesum bagi Sayre Hawthorne. Vena panggilannya, keturunan setengah manusia dan elf yang terkenal sebagai pemimpin Serikat Dagang Lily. Perempuan 25 tahun itu tidak punya keinginan menikah, makanya ia m...
