Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

43. Puzzle (End)

4K 206 79
                                        


Vote, tanda kebajikan ⭐

➴➵➶➴➵➶➴➵➶➴➵➶➴➵➶

Dokter bersama seorang Suster masuk keruangan setelah mengetuk pintu dua kali, membuat Raga dan Jio melepaskan pelukannya. Kondisi Jio sudah lebih tenang setelah menangis dipelukan Raga, walaupun belum ada kesepakatan jelas yang diambil.

"Maaf saya mengganggu. Hasil CT scan sudah keluar," Dokter itupun duduk di kursinya dan membuka amplop besar berwarna cokelat. Setelah mengamati foto dan beberapa keterangan di lembaran kertas, Dokter sampai pada kesimpulan.
"Harus dioperasi, malam ini paling lambat," putusnya.

Raga dan Jio sama-sama terdiam, tak ada yang menanggapi dokter di depannya. Pikiran mereka berdua tidak sedang mengarah pada tujuan yang sama.

Hingga akhirnya Raga sekali lagi mencoba bicara dengan kekasihnya,"Dek, Mas cuma nggak ingin kamu menyesal. Pikirkan tentang Zaa juga Sayang,"

Jio menatap Raga dengan sendu. Benar juga, sedari tadi nama Zaa luput dari pertimbangannya. Tapi keegoisannya masih tak mengijinkan Raga berkorban apapun, walaupun ini berhubungan dengan nyawa.

"Mas akan baik-baik saja Sayang, Mas Janji!" yakin Raga sekali lagi, digenggamnya kuat tangan Jio.

Setelah menunggu jeda beberapa saat akhirnya keluar jawaban dari Jio. "Mmm.. " katanya sambil mengangguk pelan.

Tiga orang yang menyaksikan itu seketika bernapas lega. Terutama Raga, langsung dipeluk bayik kesayangannya itu. Beginilah Jio yang dia kenal. Baik hati.

"Baik kalau begitu, silahkan ikuti Suster untuk mengisi data dan segera lakukan prosedur. Saya akan segera koordinasi dengan tim untuk menyiapkan operasi," sela sang Dokter.

"No!" protes cepat dari Jio. "Nggak boleh ada data," terangnya.

Sang Dokter terlihat jengah dengan sikap Jio, begitu juga Suster disampingnya. Bisa dipahami, Jio memang terkesan rewel, padahal sedang urgen.

"Dek, ini sudah jadi prosedur, hanya mengisi data saja kok untuk kami konfirmasi," sang Dokter masih berusaha ramah dengan Jio.

"Silahkan lakukan prosedur, tanpa data. Atau tidak sama sekali," ancam Jio tegas tapi tak terkesan marah.

"Saudara ini jangan seenaknya sendiri dong! Ini sudah jadi aturan," kali ini Suster yang bicara, agaknya dia sudah tak sabaran dengan Jio.

Jio justru menanggapinya dengan senyum sarkas. "Tidak ada satu aturan pun yang bisa menyalahkan kami jika kami menolak donor darah ini. Itu hak kami," tegas Jio dengan mata menbunuh ke arah Suster.

"Nyawa orang lho ini. Kamu jangan main-main! Pakai sedikit saja empatinya!" tukas sang Suster makin ketus yang justru mendapat teguran dari sang Dokter.

Menyaksikan perdebatan itu, Raga tak bisa berbuat banyak. Jio memang punya alasan kuat walaupun tidak secara gamblang ia sampaikan. Dan menurutnya, dia lebih baik mengikuti rules yang Jio buat, toh ujung-ujungnya demi kebaikannya juga.

Jio tak terpancing emosi, justru seringai senyumnya makin sarkas. Diambilnya tas di pangkuan Raga, mendapatkan card holder di dalamnya dan mengeluarkan beberapa kartu identitasnya, termasuk ID keanggotaannya di beberapa laboratorium ternama. Dijejer satu persatu kartu itu di meja.

"Sebelum anda mengatakan saya tak punya hati, lebih baik saya tunjukkan bahwa profesi saya cukup mengajarkan saya untuk berpikir kritis. Saya paham apa yang saya katakan Sus, saya tidak berlebihan ketika saya meminta kerahasiaan data. Saya punya alasannya! Dan saya tau itu boleh." balas Jio.

The Replica (BxB||End) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang