"Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo lakukan dengan cepat. Aku tidak sabar melihat mereka terbaring kurus kering tanpa memiliki kekuatan apapun."
Seketika Mavi dan Lucy berteriak histeris kala lima bajak laut gemuk yang mengawal mereka sedaritadi kini menarik dan mendorong badan mereka. Lucy yang tadinya sudah melupakan akan ketakutannya pun kembali merasakan ketakutan.
Kali ini ketakutannya semakin menjadi-jadi.
Aprilla terlihat telah memasuki goa yang teramat besar itu. Goa yang tadinya gelap gulita, seketika menjadi terang-benderang ketika kakinya melangkah masuk ke dalam sana.
Kapten Ores yang melihat Aprilla telah memasuki goa pun memerintahkan awak kapalnya untuk segera mengikuti wanita itu.
"TOLONG! TOLONG AKU!" teriak Lucy sekeras-kerasnya. Gadis itu terus berusaha berbalik untuk meminta pertolongan kepada teman-temannya yang tengah bersembunyi, namun—mereka terlihat hanya diam dengan memandang dirinya dengan tatapan menyedihkan. "Tolong aku, kumohon..."
BUGHH
Sebuah batu permata berwarna merah pekat dilempar, mengenai punggung Kapten Ores, membuat keadaan mendadak hening dan semua pergerakan terhenti.
Seketika Kapten Ores bersama awak kapalnya perlahan berbalik untuk melihat pelaku yang berani-beraninya melemparnya dengan batu permata merah pekat. Saat mereka semua berbalik, dilihatnya seorang gadis berdiri dengan bahu naik-turun, menggenggam batu-batu alam dan menatap sang Kapten dengan sorot mata tajam.
"Hey, Kapten jelek! Kemari kau! Aku akan melawanmu!"
Sang Kapten menatap Alerina dengan tatapan tajam. Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Ck, anak kecil menyusahkan juga ya ternyata—"
Melihat sang kapten melangkahkan kaki selangkah, Alerina langsung membungkuk, mengambil sebuah batu bulat abu-abu tua dan kemudian melemparkannya ke arah sang kapten.
Begitu batu itu dilempar, batu bulat itu langsung berubah menjadi burung, menyerang sang sasaran.
Melihat Kapten Ores mulai teralihkan fokusnya, Er, Demetrius dan Sage mulai mengambil txoria stone sebanyak yang bisa mereka genggam, kemudian melemparkannya kuat-kuat ke arah bajak laut-bajak laut itu.
Batu-batu itu benar-benar berubah menjadi burung pada umumnya, menyerang para bajak laut-bajak laut itu, membuat keadaan mendadak ricuh seketika. Para pria-pria bau berbadan besar itu terlihat lari kesana-kemari, berusaha melindungi diri mereka dari patukan dari txoria stone.
"BOMBARDA!" Sage terbang dengan sapu terbangnya ke arah dua peri yang tengah berdiri di antara kerumunan ricuh sembari memeluk satu sama lain.
Sage baru saja menghancurkan rantai yang merantai tubuh dua temannya.
Merasakan rantai telah terlepas dari tubuh mereka, Mavi mengenggam tangan sang adik, kemudian terbang bersama di udara, mendekati Alerina, Er, Demetrius, Froze, Valir dan Cyrus yang tengah asik melempar txoria stone sembari tertawa puas.
"Alerina!" Lucy langsung memeluk tubuh gadis itu erat, membuat txoria stone yang tergenggam pun terlepas dari tangannya. "Alerina! Terima kasih! Terima kasih karena telah datang untuk menyelamatkanku!"
"SIAPA YANG BERANI MENGACAUKAN PULAUKU!" Suara lantang bagai sebuah microfon itu terdengar, membuat keadaan ricuh itu hening seketika.
Dari jauh sana, Aprilla keluar dari goa dengan kaki yang tidak menapak di tanah. Wajahnya merah, seperti akan kembali berubah menjadi api iblis.
"PERGI! CEPAT!" teriak Mavi ketika melihat Aprilla yang tengah mencari-cari dirinya.
Mavi yang baru saja ingin mengambil Alerina untuk terbang bersama seketika terdiam ketika melihat tubuh Alerina telah melesat dari tanah hanya dalam satu detik dan telah berpindah ke sapu terbang milik Sage. Penyihir jahil itu membawa Alerina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fae Circle
Teen FictionBerawal dari mencari sebuah jamur melingkar saat sedang melaksanakan perkemahan, yang konon katanya merupakan jalur masuknya para peri ke dunia mereka. Alerina, gadis yang sama sekali tidak mempercayai mitos itu tiba-tiba masuk ke dalam dunia peri...
