Tiga orang anak laki-laki bertelanjang dada berjalan sembari menatap sekelilingnya asing, diikuti oleh dua orang laki-laki yang mengenakan baju campuran daun dan karung goni.
Mereka berlima berjalan di sebuah hutan yang sangat asing. Hutan yang tidak pernah mereka injak sebelumnya.
"Apakah kita benar-benar tersesat?" tanya anak laki-laki berambut cokelat bergelombang dan sedikit mengembang. Aria.
Sudah tiga jam lamanya mereka berjalan-jalan seperti orang bodoh di hutan ini. Terlihat raut frustasi dari kelimanya.
Anak berambut pink dan berambut blonde yang mengenakan baju di antara kelimanya pun langsung menghela napas frustasi. Mengacak rambut, kemudian duduk dengan marah di tanah yang dilapisis dedaunan kering itu.
"Kan, sudah kubilang. Jangan berlagak sok tau! Ini bukan Pulau Cassius yang kecil! Ini adalah pulau campuran! Lihat! Ini sangat besar!" omel laki-laki berambut blonde yang memiliki bibir imut seperti bayi. River. Laki-laki yang paling tinggi di antara mereka semua.
Tadi pagi saat mereka terbangun, mereka terkejut karena tau-taunya mereka sudah berada di ruang tamu Cyrus. Mereka berlima tidur di sana bersama Cyrus. Tapi, mereka tidak mendapati kehadiran Alerina.
Dan Daniel baru teringat bahwa saat subuh tadi Alerina dan para peri juga penyihir nakal itu sempat datang ke rumah Cyrus. Cukup lama ia berusaha mengingat apa yang mereka lakukan, sampai akhirnya Daniel mengingat bahwa mereka merencanakan misi untuk menyelamatkan dua peri bunga yang diketahui bernama Mavi dan Lucy.
Tapi, ditengah-tengah perbincangan, ia malah tertidur dan saat terbangun, ia tidak menemukan kehadiran Alerina dan dua peri itu. Ia malah menemukan empat temannya dan Cyrus yang tertidur pulas.
Daniel membangunkan mereka semua, terutama Cyrus. Ia mengajak mereka untuk menyusul Alerina dan yang lain, tapi ia tidak tau jalan. Daniel mengatakan kepada yang lain bahwa kita bisa menemukannya karena pulau ini hampir mirip dengan pulau Cassius. Padahal, pulau ini jauh berbeda.
Alhasil, Cyrus yang tidak bisa dibangunkan pun ditinggal dan kini mereka tersesat tidak tau dimana.
"Apakah sebaiknya kita terbang saja?" usul Maxim yang terlihat kelelahan.
Leon—laki-laki berambut pink yang selalu menyetok serbuk peri kini mengangkat tinggi-tinggi kain kalung tempat biasanya ia menyimpan serbuk peri, memberitahu kepada mereka bahwa serbuk peri miliknya habis.
Daniel mendengus lelah. "River?"
River pun ikut mengangkat kalung kainnya dan sama seperti Leon, serbuk perinya juga habis.
Kini wajah mereka terlihat sangat frustasi. Mereka bertiga ikut duduk menyandar pada pohon-pohon yang entah apa namanya. Pohon-pohon itu menjulang begitu tinggi, menutupi teriknya sinar matahari.
"Akhh! Aku sangat lapar lagi! Kenapa di hutan ini tidak ada buah!" gerutu Aria berbaring di tanah sembari memegangi perutnya yang tidak dibalut oleh kain sedikitpun.
Benar. Di hutan ini tidak ada buah seperti saat di pulau Cassius.
Daniel mengela napas kasar, menatap Aria yang mulai merengek karena kelaparan. Matanya yang sipit seperti mata rubah itu menatap Aria sinis. Bibirnya yang tebal seperti bebek berbicara. "Apakah hanya kau yang lapar? Kita semua lapar tau!"
Aria, bukannya diam ia malah semakin merengek karena lapar. Kalau di pulau Cassius, mereka tidak perlu khawatir soal makanan, karena di sepanjang pohon selalu ada buah. Ia jadi stress berada di sini.
Leon, pemuda berambut pink yang mulai jengah karena lelah, ditambah rengekan Aria itu menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa kau tidak makan jamur pink itu? Makanlah, agar perutmu setidaknya sedikit terisi."
•••
TOK TOK TOK
Pintu cokelat yang terbuat dari kayu jati diketuk oleh seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Sudah terhitung enam kali ia mengetuk pintu, namun tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.
"Sorin, aku tau kau di dalam. Bukalah. Aku juga bisa lelah," ujar Jasver dengan suara lemah dan lirih. Sudah sekitar dua puluh menit ia berdiri dan menunggu, namun tak kunjung dibukakan pintu.
Setelah ia memanggil pemilik rumah dengan namanya, tak lama kemudian pintu yang terbuat dari kayu jati itu terbuka, menampilkan seorang wanita tua dengan rambut putih pendek ikal. Raut wajahnya menunjukkan kelelahan, sama seperti Jasver.
Jasver yang tadinya menunduk karena kelelahan pun seketika mendongak ketika pintu dibuka. "Akhirnya kau membukanya juga."
"Lowi tidak ada di sini." Setelah wanita tua bernama Sorin mengatakan hal tersebut, wanita tua itu berniat menutup pintunya, namun Jasver langsung menahan pintunya.
Jasver menghela napas lelah. "Sorin, ayolah. Dimana dia? Jangan menyembunyikannya. Sudah satu bulan kau menyembunyikannya. Biarkan aku bertemu dengan anak itu—"
"Sudah kubilang dia tidak ada di sini!" tegas Sorin.
Sudah satu bulan lamanya wanita tua yang diketahui sebagai Bibi Lowi itu menyembunyikan Lowi. Sudah satu bulan lamanya, tiap kali Jasver datang untuk mencari anak itu, berharap Lowi akan jujur—namun Sorin terus mengatakan bahwa anak itu tidak ada.
Jelas Sorin menyembunyikannya.
"Lalu? Dimana dia?" Kantung mata lebar yang hitam karena kurang tidur, serta mata yang menatapnya penuh harap itu membuat Sorin jadi tak kuasa untuk menatap pemuda itu lama-lama.
Sorin hanya diam, mengalihkan pandangannya dari mata menyedihkan itu.
"Sorin, tolong bantu aku. Aku sangat memohon kepadamu—"
"Harus berapa kali aku bilang? Lowi tidak ada di sini—"
"Aku telah kehilangan orangtuaku sejak kecil, Rin. Aku kehilangan lima sahabatku—dan sekarang? Apakah aku juga harus kehilangan Adikku? Apakah semua orang yang berada di dekatku—semua orang yang aku sayang, apakah mereka harus meninggalkanku? Walaupun aku masih muda, aku juga tidak ingin hidup sendirian. Sendirian itu membuatku kesepian..."
"Jasver—"
"Aku tau aku selalu meninggalkan Adikku sendirian di rumah dan menitipkannya kepadamu. Aku tau aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, aku selalu meninggalkannya dan sangat jarang pulang. Tapi itu bukan berarti aku tidak menyayangi Adikku—"
"Jasver Rune, dengarkan aku—"
"Aku bekerja hanya untuk Alerina. Aku hidup hanya untuk Adikku, Sorin..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fae Circle
Genç KurguBerawal dari mencari sebuah jamur melingkar saat sedang melaksanakan perkemahan, yang konon katanya merupakan jalur masuknya para peri ke dunia mereka. Alerina, gadis yang sama sekali tidak mempercayai mitos itu tiba-tiba masuk ke dalam dunia peri...
