21. punishment

432 64 0
                                        

"Saatnya kalian dihukum peri-peri kecil..."

Mereka semua ditarik secara paksa menuju lantai terbuka kapal. Suara sorak-sorakan riang para bajak laut terdengar. Lantai kapal dipenuhi para bajak laut yang bersorak dan mengangkat-angkat tangan, seperti sedang merdeka.

"A-apa yang terjadi?!" tanya Alerina dengan suara yang sedikit ia tinggikan karena suaranya teredam oleh sorakan-sorakan para bajak laut tersebut.

Mereka terus ditarik dan dilempar tepat di tengah-tengah kapal. Mereka menjadi pusat perhatian dan pusat tontonan.

Alerina memberontak, berusaha melepaskan ikatan tali pada tubuhnya. Satu tali panjang itu mampu mengikat mereka bersebelas.

Sorakan-sorakan itu semakin terdengar ricuh saat Ores—sang kapten Forestone berjalan, memecah lautan bajak laut itu. Kedatangan kapten Ores membuat mereka semua terdiam kaku, terutama Alerina.

Entah kenapa wajah kapten Forestone itu tampak sangat mengerikan saat ini.

Tatapannya tajam. Kantong mata hitam makin membuat kesan sangar melekat pada kapten tersebut. Janggut dan kumis yang kusam dan kering. Bibir yang terlihat tertarik naik ke atas, seakan-akan sedang melihat sesuatu yang menarik.

Kapten Ores terus berjalan dengan tenang, membuat detak jantung Alerina semakin berdetak sangat cepat—karena kapten itu berjalan ke arahnya.

Kapten Ores tersenyum lebar saat dirinya berjongkok tepat di depan Alerina. "Kau benar-benar seperti ibumu, ya? Sangattt keras kepala."

Setelah mengatakan itu, kapten tersebut menoleh ke arah Makito, anak buah kepercayaannya. "Buang mereka semua! Kecuali dua peri bersaudara ini. Mereka akan sangat berguna untukku. Mereka akan menjadi tumbal untuk menghilangkan kutukanku."

Dua peri bersaudara yang dimaksud kapten Ores adalah Mavi dan Lucy.

"Ck, para manusia tidak ada gunanya."

Setelah memerintahkan itu, kapten Ores kembali berbalik ke arah Alerina. Tatapannya begitu tajam dan mengerikan. "Mulai dari anak ini. Dia sangat menyebalkan seperti ibunya–"

"APA!? TIDAK!" Alerina langsung berteriak histeris ketika dua bajak laut tinggi kekar menarik kasar badannya untuk berdiri.

"HEY! LEPASKAN AL!" Er berniat berdiri, namun Ores langsung menendang dadanya, membuat Er tersungkur kesakitan dan terbatuk-batuk.

Sage yang melihat itu berniat membantu Er, namun teriakan Alerina mengalihkan perhatiannya. Gadis itu berteriak meminta tolong dengan mata yang sudah berair. Tiba-tiba kemarahan Sage tersulut.

"HEY BAJAK LAUT BAU! LEPASKAN TEMANKU! KALIAN MAU KUSIHIR JADI KOTORAN UNICORN, KAH?!" Sage berdiri dan berteriak, menyundul sang kapten dengan sangat kuat.

Namun, kejadian berikutnya adalah tubuhnya malah terasa tegang. Tubuh sang kapten tidak oleng sedikitpun. Tubuhnya masih berdiri tegak seperti tidak ada yang terjadi.

"Ahh, sepertinya ada yang lebih menyebalkan dari anak Florence." Sang kapten menatap Sage penuh kemenangan.

"T-TIDAK! J-JANGAN—"

BYURRR

Hanya dengan satu kali kedipan, tubuh Sage langsung terangkat ke udara dan dilempar begitu saja ke laut seperti sebuah boneka.

"SAGE!" Mereka semua berteriak histeris ketika tubuh Sage dilempar begitu saja dan suara teriakannya hilang, berganti dengan suara derunya air laut.

Bagaimana nasibnya?

"Giliranmu gadis kecil," ujar kapten Ores dengan seringaian yang menyeramkan sebelum akhirnya tubuh Alerina diangkat ke udara oleh Makito.

"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak bisa berenang!"

Terdengar tawa penuh kemenangan dari kapten Ores. Kalaupun ia bisa berenang, siapapun tidak akan bisa berenang dalam keadaan kedua tangan diikat ke belakang dan kedua kaki diikat.

Makito terus mendorong gadis itu menuju papan yang gampang goyah. Sampai secara tak sengaja, matanya menatap ke bawah. Airnya begitu tenang dan terlihat sangat dalam, membuat jantungnya mendadak berdetak sangat cepat. Pandangannya mendadak berbayang, seperti papan itu ada dua. Wajahnya pucat.

Gadis itu takut.

Terdengar suara sorakan dan tawa penuh kemenangan dari belakangnya, juga suara teriakan histeris dari teman-temannya. Namun suara-suara itu mendadak seperti teredam. Kepalanya mendadak pusing. Kakinya lemas dan bergetar saking takutnya ia. 

Ia pasrah.

Hanya dalam satu kali dorongan, tubuhnya terjun bebas menuju lautan. Rasa dingin yang menyejukkan langsung menyapa tubuhnya. Kakinya bertumpu pada air dan tak bisa digerak-gerakkan. Matanya tertutup. Pipinya mengembung berusaha menghemat udara yang telah ia simpan saat di darat sana.

Ia sangat pasrah akan ajalnya.

"Ibu, Ayah. Aku akan segera bertemu kalian," batinnya pasrah. Melemaskan seluruh tubuhnya dan membiarkan tubuhnya tenggelam semakin dalam tanpa pergerakan.

Matanya terpejam. Pipinya yang mengembung itu ia hembuskan. Seluruh udara yang ia simpan tadi ia buang secara cuma-cuma saking pasrahnya ia.

Saat ia pasrah akan kondisinya, tiba-tiba Alerina merasakan sebuah tangan menarik bahunya. Melingkarkan tangan di perutnya dari arah belakang.

Sontak Alerina langsung membuka matanya terkejut. Itu adalah Froze. Tepat di depan wajahnya adalah Froze.

Pemuda berambut putih, pemilik wajah yang sangat pucat itu menolongnya. Namun, penampilannya sangat berubah. Alerina bisa melihat telinga panjang seperti telinga duyung. Tangan berselaput dan berlendir seperti tangan Demetrius saat di lautan. Juga—kaki Froze berubah menjadi ekor duyung berwarna hijau.

Alerina terpaku. Gadis itu terdiam shock.

Tak lama kemudian, Demetrius datang dengan Sage berada di punggungnya. Demetrius mengembungkan pipinya, seperti sedang meniup balon. Tak lama kemudian, sebuah gelembung muncul dan langsung terpakai di kepala Alerina. Seperti helm Astronot.

Detik itu juga ia bisa bernapas dan tak jadi menyerah.

Fae CircleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang