Hari ini adalah hari dimana Jia berulang tahun dan pernikahan mereka berdua hanya beberapa hari saja, Alfath sedang sibuk mempersiapkan surprise untuk ulang tahun Jia. Pagi ini Jia di undang di rumah Alfath tapi saat ia masuk di rumah tersebut seperti tak ada orang, ia berkeliling mencari bunda Alfath Jia sudah hafal tempat mana saja favorit bunda Alfath, saat berjalan ke arah taman belakang ia menemukan balon yang di gantung di pohon apel di kebun belakang rumah, ia mengikuti petunjuk itu untuk berjalan ke arah luar rumah lalu melihat ke atas. Matanya berbinar saat ia melihat banyak balon berwarna putih berterbangan di atas kepalanya. Alfath muncul dari balik balon-balon yang terbang.
”Fat?? Apa-apaan ini??? Kamu rencanain ini buat aku Fat?? Sumpah Fat... aku ga nyangka kamu masih inget sama birthday aku...” tanya Jia hampir saja menangis karena terharu.
"Happy Birthday to the love of my life! Today is all about you, and I'm so excited to celebrate another year of life, love, and adventure with you. You're the sunshine that brightens up my day and the stars that light up my night. Your smile is my favorite thing to see, and your laughter is music to my ears. I'm so grateful for the laughter, tears, and memories we've shared so far, and I'm excited for all the amazing things the future holds for us.
I'm so proud of the person you are and the things you've accomplished. Your strength, resilience, and determination are qualities that I admire and aspire to. You're an incredible person, and I feel so lucky to have you in my life.
As we look to the future, I promise to always be there for you, to support you, to encourage you, and to love you with all my heart. I promise to be your rock, your safe haven, and your partner in every sense of the word. I love you more than words can say, and I'm excited to see what the future holds for us ” Alfath berjalan membawa buket bunga mawar dan sekotak kado di tangannya.
Jia berlari lalu memeluk Alfath dengan erat, ia menangis di dalam pelukan Alfath sebelumnya Jia tak pernah merasakan kebahagiaan yang bisa membuatnya menangis seperti ini.
”I made this long text just for you my love, I will always make you special in my daily life ” Alfath mencium pucuk kepala Jia sambil memeluknya.
”I will always remember the long text you gave me, Fat, always remember. I am more and more confident in the path that God has given me because he has arranged our story in such a way that it can be... perfect point like now i always like to be beside you” ucap Jia sambil sesenggukan.
Alfath menatap Jia dengan senyuman yang terukir di ujung bibirnya, rasanya ingin menangis juga tapi ia ingat jika ada satu rahasia yang masih ia simpan pada Jia. Berat untuk mengungkapnya tapi seiring berjalannya waktu Jia harus tau tentang penyakitnya itu.
” sebelum ucap janji di pelaminan besok aku mau tanya sesuatu sama kamu” ucap Alfath menggandeng Jia memasuki rumah.
”mau tanya apa?”
”kalau seandainya aku sakit terus meninggal gimana???” tanya Alfath menatap Jia.
”pertanyaan apa ini? Kok tanya beginian? Kamu sakit apa??? Jangan bilang kamu fomo in aku?? Mau bikin prank ya??” ucapnya menaikan satu alisnya.
”aku cuma tanya, biar kaya di tv doang.... Jadi gimana??? Aku nungguin jawaban kamu di sini”
”aku tau kamu kuat, kita jalanin sama-sama sampai kamu sembuh!! Jadi ga ada kata meninggal deh” Jia menatap Jia dengan senyuman.
”kalau semisal ga bisa sembuh??? Apa yang mau kamu lakuin buat aku??”
”pasti bisa!!, kenapa sih ngeyel banget kalau ga bisa sembuh?? Jangan-jangan kamu tanya kaya gini karena kamu lagi sakit? Kamu sakit beneran? Kamu sembunyi in apa??? Bohong aku ceburin air comberan nih Fat”
”kamu aja boleh tanya gitu kemaren?? Masa aku tanya gini doang ga boleh, masa harus di ulang sih?? Jadi cuma itu jawaban kamu??”
”ah gatau, mending sekarang bahas pernikahan besok deh... Ini udah tanggal 24 sedangkan kita nikahnya tanggal 27”
KAMU SEDANG MEMBACA
ALFATH
Ficção Adolescente"lebih baik aku tenggelam dalam pelukmu, dari pada aku tenggelam dalam laut penyesalan. Ucapan ku memang tak semanis gula namun aku dapat menepati janjiku untuk mu" - Raden Alfath mahavira ...
