Chapter 28
Sonder
By saytheutic
.
.
.
Untuk pertama kalinya, Zello terbangun dengan senyum di bibir. Semalaman, ia tidak sulit untuk tertidur. Tidak juga masalah dengan sesak yang tiba-tiba muncul di tengah malam. Rasanya, Zello terlalu bahagia, hingga penyakitnya hilang seketika.
Kalau boleh, yah, Zello tentu ingin bangun dalam keadaan sehat.
Masih pukul lima pagi, namun Zello harus bergegas menunaikan kewajibannya. Setelahnya, ia harus bersiap-siap karena hari ini mendapatkan jadwal jaga pagi hari. Ditambah, harus memasak untuk sarapan diri sendiri dan keluarganya.
Percakapannya dengan Rean tadi malam seolah sebuah mimpi. Zello tidak pernah menangka, Rean memanggilnya dengan sebutan adik. Tidak juga menyangka bahwa ia bisa mengobrol santai tanpa emosi dengan sang kakak.
Perlahan, Zello bangkit. Agak merasa pening, efek dari hipotensi ortostatik. Namun, Zello tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah, hingga ia dapat dengan cepat bergegas menuju kamar mandi.
Hari ini dimulai dengan baik, dan Zello juga berharap hari ini berakhir baik. Ia berharap masih dapat pulang ke rumah, tidur, kemudian bangun lagi keesokan harinya. Meski tidak tahu pada takdir ke depannya, nyatanya Zello tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Karena saat ini, Zello merasa benar-benar bahagia.
•••
"Lo baru kelihatan jam segini. Apa jangan-jangan, lo nggak pernah salat subuh?"
"Ngaco." Rean menguap sejenak, kemudian menarik kursi makan dan duduk di sana. Ia mengacak surai legamnya yang belum sempat dirapikan. "Gue tadi salat, terus lanjut tidur lagi sebentar."
Zello melirik Rean sejenak, sebelum meletakkan roti bakar yang baru selesai dipanggangnya ke atas piring. Kekehannya terbit. "Lo belum mandi, ya?" tuduh Zello, saat melihat kakaknya itu masih tampak belum siap.
"Udah," jawab Rean singkat, merasa agak pusing karena memilih untuk tidur setelah melaksanakan kewajibannya, sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi. Meski asal, karena air terasa begitu dingin pagi hari ini.
"Lo mau pakai topping apa?" Zello kembali bertanya. "Cokelat? Stroberi? Nanas?"
Rean bangkit dari kursi makan dan berjalan menuju kulkas. Diambilnya sekotak susu dari dalam sana. "Gue lagi nggak nafsu sarapan. Susu aja udah cukup," jawab Rean, yang malah membuat Zello mendengkus. Sungguh, kebiasaan kakaknya itu malah membuatnya lemas sepanjang hari.
"Lo harus sarapan, Kak," titah Zello. Ia meletakkan sepiring roti bakar di dekat gelas susu Rean. "Kalau lo nggak sarapan, nanti lo sakit lagi. Kalau lo sakit lagi, lo nggak bisa ke rumah sakit. Terus-"
"Iya, iya, gue makan rotinya," ujar Rean pada akhirnya. "Ngomong-ngomong, hari ini lo dinas apa?"
"Pagi. Kenapa? Mau numpangin gue sampai rumah sakit?" Zello terkekeh sesaat.
"Boleh." Jawaban itu lantas membuat Zello terdiam. Masih sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Padahal, selama ini Rean selalu menghindarinya di rumah sakit.
Zello berdeham sejenak. "Serius? Emangnya nggak apa-apa kalau kita berangkat bareng? Nanti, reputasi lo jadi jelek, Kak. Masa, punya adik kayak gue?"
"Kenapa lo masih suka dengerin apa kata orang?"
"Karena gue punya telinga. Semua omongan orang masuk gitu aja, terus diproses di indra pendengaran gue. Setelahnya, gue nggak akan bisa lupa sama omongan mereka." Zello tertawa lirih. Ia kemudian menggeleng. "Nggak apa-apa, gue berangkat sendiri aja. Lagian juga, Amartya dekat banget dari sini. Cuma lewat tiga halte, udah sampai."
"Oh, gue jadi ingat. Functional class III, ya?" Rean tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Aktivitas fisik ringan bisa juga menyebabkan sesak napas. Yakin, lo mau jalan kaki sampai jalan raya, terus desak-desakan di bus?"
Zello berdecih sesaat. Hampir lupa, namun Rean malah mengingatkan obrolannya dengan dokternya kemarin. Lantas, ia melipat kedua lengannya di depan dada. Agak kesal sendiri karena penyakitnya justru membuat Zello tampak begitu lemah.
"Baru tiga, belum empat, Kak. Gue masih bisa aktivitas sendiri," ucap Zello pada akhirnya. "Lo tenang aja, gue nggak akan kenapa-"
"Nggak gitu maksud gue. Cuma ...." Rean mengusap belakang lehernya. Ia mengalihkan pandangan, agak merasa canggung. "Kalau lo ada apa-apa, nanti bunda bilang kalau gue nggak bisa jaga adek sendiri. Gue nggak mau diomelin sama bunda kalau kondisi lo menurun lagi."
"Kalau ada apa-apa, seenggaknya lo ada di IGD, 'kan?"
"Gue nggak selalu ada di IGD, Zel. Kadang, gue harus visite pasien juga."
"Oh, di IGD." Zello duduk di hadapan Rean. Dengan posisi kedua tangan menyangga kepala, Zello menatap Rean lekat-lekat. "Ada orang yang lo suka nggak?"
Wajah Rean lantas memerah saat mendengar pertanyaan Zello. "Apa-apaan pertanyaan lo itu? Gue bahkan belum pernah kepikiran buat suka sama orang."
"Ah, nggak seru, nih." Zello bersorak pelan. Ia lalu tertawa. "Siapa tahu, 'kan? Gue mau lihat lo nikah dulu sebelum gue mati. Kalau bisa, sih, lo ngasih gue keponakan. Kalau lo punya keponakan, namanya dibikin mirip kayak gue, boleh nggak? Biar lo selalu ingat gue, gitu."
"Ngaco. Pikiran lo kejauhan," ucap Rean. Ia memilih untuk meminum susunya, kemudian dilanjut memakan roti bakar yang sudah Zello siapkan. "Mendingan, lo bangunin bunda sama ayah. Takutnya malah bablas tidur sampai siang."
"Udah gue bangunin sejak tadi. Palingan lagi siap-siap," jawab Zello. "Gue juga udah siapin makanan buat bunda sama ayah. Biar kita sarapan bareng-bareng. Jarang-jarang, 'kan, meja makan ini penuh."
Rean menyadari bahwa rumah yang saat ini ditempatinya tidak pernah terasa hangat. Ayah dan bunda sibuk dengan pekerjaan, Rean sibuk dengan pendidikannya, sementara Zello harus berada sendiri di rumah. Selama satu tahun, bahkan Rean tidak pernah menanyakan bagaimana keadaan Zello.
Melihat wajah Zello, Rean sadar masih banyak hal yang adiknya itu tutupi. Terlihat seperti baik-baik saja. Namun, manik legamnya memancarkan kesedihan yang begitu mendalam.
"Zel," panggil Rean, setelah sekian lama diam.
"Hm?"
"Kalau ada apa-apa, ngomong ke gue, ya." Ia berdeham pelan. "Soalnya, gue, 'kan, kakak lo. Lo ... bisa cerita apapun ke gue."
Zello tertawa kikuk. Masih merasa canggung dengan perubahan sikap Rean, tapi juga merasa senang. Perlahan, ia menganggukkan kepala.
"Kalau ada apa-apa, gue janji lo bakal jadi orang yang pertama tahu."
•to be continued•
A/n
Kalau udah senang-senang kayak gini, tandanya ....
Aduh, agak gak rela hahahaha. Ternyata mereka lucu juga kalau akur
Jadi ingat cerita lamaku yang kupublish 2015, nama pemerannya mirip Azel :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Sonder
General FictionAzello Narendra mungkin merasa bahwa ia sudah hidup sesuai dengan keinginannya. Cita-citanya sudah tercapai, dan Zello dapat menjalani hidupnya yang sempurna tanpa masalah. Tetapi, Rean, kakaknya, yang selalu menganggap Zello sebagai seorang rival...
