Sonder
What if (2)
by saytheutic
•••
"Selamat pagi, dokter Rean. Mau visite pasiennya, ya?"
Rean berdecak pelan. Tidak disangka bahwa adiknya itu masih terdengar semangat setelah dinasnya berjalan hampir dua belas jam. Kantung mata yang semakin menghitam, namun senyum lebar itu tetap terlukis. Binar di kedua mata yang tampak begitu indah, masih sama seperti ketika pertama kali Rean menyadari keberadaannya.
"Jelas-jelas gue internis." Rean membalas. Ia memasukkan tangan kiri ke dalam saku scrub merah marunnya, sementara tangan kanan menenteng tas kecil yang entah berisi apa. Sama seperti Zello, Rean belum juga terlelap sejak tadi malam. Alasannya sepele—menyelesaikan film yang baru diunduhnya semalam. Lantas, pagi ini Rean sudah menguap lebih dari sepuluh kali sejak menjejakkan kaki ke rumah sakit.
Zello sedikit memiringkan kepalanya. "Lalu, untuk alasan apa dokter Rean yang terhormat menjejakkan kaki di bangsal anak?"
Rean mengangkat tangan, menunjukkan tas jinjing yang dibawanya tepat di depan wajah Zello, membuat laki-laki yang usianya jauh lebih muda itu memundurkan langkah dengan kedua kelopak mata yang mengerjap heran beberapa kali. Alisnya tertaut, menunjukkan raut penuh tanya yang sedikit kontras dengan senyuman. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Zello meraih tas tersebut, mengintip isinya.
"Apa?" Zello bertanya karena Rean tidak juga bersuara.
"Bunda nyuruh gue bawain lo makanan, buat sarapan. Katanya, semalaman lo nggak bisa makan karena banyak pasien pengawasan," jawab Rean panjang.
Zello sendiri tidak ingat kapan kakaknya itu mulai sedikit cerewet (yang ternyata lumayan menyebalkan), namun hal itu membuatnya sangat bersyukur. Setidaknya, hubungan keduanya tidak secanggung sebelumnya. Zello bisa hidup dengan tenang.
"Gue rasa lo nggak baca curhatan gue yang itu. Lo tahu dari mana?" Zello malah balas bertanya.
"Gue sempat baca pas notifikasinya masuk. Bunda juga ngomong ke gue—"
Zello terkekeh pelan, memotong ucapan Rean begitu saja. "Gue nggak ngomong ke bunda sama sekali," ucap Zello. "Ah, nggak usah malu-malu, Kak. Gue senang, kok, diperhatiin sama kakak sendiri. Lagian juga, lo kakak gue. Kenapa, sih, pake malu-malu gitu?"
"Ya ...." Rean berdeham pelan. "Aneh nggak, sih? Maksud gue, setelah sekian lama? Gue kayak nggak tahu harus gimana, sebagai kakak yang baik."
Zello tidak pernah mengerti dengan sikap Rean. Sejak hubungan mereka membaik, Zello selalu berkata bahwa Rean selalu menjadi kakak terbaik untuk dirinya. Laki-laki itu mungkin terkadang mengingat bagaimana hubungan mereka sebelumnya, namun dalam sekejap mata melupakannya kembali begitu saja.
"Lo selalu jadi kakak yang baik buat gue." Zello mengulang kalimatnya. "Thanks, ya. Gue emang butuh banget makan pagi ini, dan uang jajan gue menipis. Gue butuh asupan. Ngomong-ngomong, siapa yang masak?"
Rean berdeham pelan. "Gue yang coba masak," jawabnya pelan.
Zello lantas tersenyum menggoda. "Siapa?" tanyanya, sok tidak mendengar jawaban Rean.
"Gue tahu lo dengar gue." Rean berdecak pelan. "Dinas lo udah mau selesai, 'kan? Gue mau pergi dulu."
"Ke mana?"
"Menurut lo ke mana? Pasien gue ada banyak."
"Oh, iya." Zello mengangguk beberapa kali. Tangannya menepuk pundak Rean dua kali. "Gue pikir, lo bakal nemenin gue makan. Tapi, nggak pa-pa. Gue tahu lo sibuk."
Rean mundur selangkah, membuat tangan Zello terjatuh begitu saja. Berusaha menyunggingkan senyum, Rean lagi-lagi berdeham. Tenggorokannya terasa begitu gatal.
"Nanti, kalau gue bangun, gue bakal bawain makanan buat lo, ya. Buat ngebandingin aja, antara orang yang biasa masak sama orang yang kalau ngerebus air bisa sampai kering." Zello mengerlingkan sebelah matanya. "Lo semangat, ya. Karena gue juga bakal semangat buat tidur hari ini."
Suara bel yang kemudian terdengar membuat Zello dan Rean menoleh. Salah satu lampu yang berada di atas pintu menyala. Ada panggilan, yang mungkin menjadi penutup jam kerja Zello pagi ini.
"Gue lanjut kerja dulu, ya." Zello meletakkan tas yang di bawanya di atas meja nurse station, sebelum berjalan menuju asal panggilan. Namun, ketika Zello sudah setengah jalan, tubuhnya berbalik, sadar bahwa Rean masih memperhatikannya dengan tatapan khawatir.
"Lo tenang aja." Zello berbicara, tidak terlalu kencang, namun Rean masih dapat mendengar suara dan membaca gerakan bibirnya. "Gue bakal selalu baik-baik aja dan hidup selamanya."
Rean menghela napas panjang, berdecak pelan, kemudian tersenyum tipis.
"Ah, dasar."
•what if (2)•
A/n
Di tengah hidup yang penuh keributan ini, aku berusaha napas dulu sebentar
KAMU SEDANG MEMBACA
Sonder
قصص عامةAzello Narendra mungkin merasa bahwa ia sudah hidup sesuai dengan keinginannya. Cita-citanya sudah tercapai, dan Zello dapat menjalani hidupnya yang sempurna tanpa masalah. Tetapi, Rean, kakaknya, yang selalu menganggap Zello sebagai seorang rival...
