chapter 4

10K 438 0
                                        

Kejadian kemarin begitu membekas di ingatan asya. Gadis berhijab itu masih menghindar dari sang suami. Bahkan untuk sekedar menyapa pun rasa nya asya takut. Takut kejadian kemarin terjadi.

"Hari ini saya akan pergi menjenguk keluarga saya yang sakit. Kamu mau ikut tidak?" tanya haikal pada asya yang sedari tadi diam.

Kedua nya tengah sarapan masakan yang asya buat dengan bahan seadanya. Haikal memang belum belanja, biasa nya dia akan belanja di akhir minggu kedua. Dan masih ada dua hari lagi sebelum akhir minggu itu.

"Asya. Saya tanya, kamu mau ikut saya jenguk keluarga tidak? Kalau kamu tidak mau kamu bisa tinggal di sini". Tegur haikal saat asya tak kunjung menjawab pertanyaan nya.

Asya mendongak sekilas menatap haikal, tetapi kembali menunduk saat mata mereka bertemu.

"Kalau asya nunggu nya di rumah bunda aja gimana?" tanya asya mencoba bernegoisasi.

"Tidak". Tolak haikal tegas. "Pilihannya kamu mau ikut saya atau tinggal di sini?".

Asya terdiam, tidak ada yang mau ia pilih dari dua tawaran tersebut. Dia hanya ingin pulang ke rumah bundanya sekarang.

"Gimana asya?" ulang haikal lagi.

Asya pun mengangguk. "A-asya ikut aja". Jawab asya. Sendirian di apartemen ini seperti nya bakal cukup membosankan. Terlebih dia tak kenal siapa siapa di kawasan sini.

"Baiklah. Selesai makan kamu siap siap, kita langsung berangkat". Asya mengangguk.

Selesai sarapan itu asya mengganti baju nya dengan baju yang lebih sopan. Sedangkan haikal menunggu di sofa sambil memangku laptop nya.

"Aku sudah siap".

Asya keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Haikal menyimpan laptop nya dan beralih menatap asya, dari atas hingga bawah.

Kedua pergi menggunakan mobil  milik haikal. Saat memakai Seatbelt asya cukup kesulitan memakainya. Haikal yang melihat itu pun mencoba membantu tetapi tiba tiba asya menjauh seolah menghindari nya.

"Kamu kenapa?" tanya haikal sambil memakaikan seatbelt itu pada asya.

Asya terdiam dengan badan yang dj jauhkan dari haikal. Mengalihkan pandangannya keluar jendela supaya tak bertemu tatap.

"Nggak papa". Lirih asya setelah haikal berhasil membantu nya.

Haikal menghela napas gusar, dia tahu asya masih trauma atas perbuatan nya semalam.

"Asya, saya benar benar minta maaf atas kejadian kemarin.  Jangan takut dengan saya, saya janji tidak akan melakukannya sebelum kamu siap". Kata haikal pada sang istri.

Asya hanya diam tak menjawab, menatap ke luar jendela. Mencoba tak berinteraksi banyak dengan haikal, dia masih berat meninggalkan bundanya.

.....

"Ayo masuk". Ajak haikal.

Asya mengikuti haikal di belakang, mereka berada di ruangan keluarga yang haikal maksud.

"Assalamu'alaikum".

"Waalaikumsalam".

"Haikal. Apa kabar nak?"

Seorang wanita paruh baya menyambut asya dan haikal. Tampak di wajah nya senyum kesedihan.

"Baik bibi. Bibi apa kabar?"

Haikal menyalami tangan adik dari almarhumah ibu nya dan bertanya kabar.

"Alhamdulillah baik nak. Eh, ini siapa yang ada di samping kamu?" tanya bibi haikal itu.

nyantri bareng suami Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang