part 37

6.2K 335 23
                                        


Dunia masa kecilku, hanya bunda - asya
.
.
.

Haikal berdiri di samping istrinya, memegang tangannya erat sebelum mereka masuk ke dalam ruang rawat bunda nilam. langkah asya terasa berat, gadis itu membuka pintu ruang rawat.

Bundanya masih terbaring, asya segera menghampirinya. Gadis itu merunduk, mengelus kulit pucat bunda nilam. Wanita itu tak kunjung membuka matanya, membuat asya sedih.

Gadis itu merapikan selimut yang menutupi sebagian tubuh sang bunda, membenarkan rambut sang bunda dan mendoakan sang bunda.

Air matanya sudah jatuh lagi, dia tak bisa menahannya jika berkaitan dengan bunda nilam. asya mengusap air matanya pelan, tersenyum.

“Bunda pasti bakal sehat lagi” katanya penuh harap. Diiringi senyuman yang membentuk semangat.

Saat mendongak, netranya tak sengaja menemukan seseorang di sudut ruangan. Duduk termenung menyaksikan mereka, asya yang terkejut segera waspada.

Gadis itu mengelilingi ranjang sang bunda untuk lebih dekat pada pria itu. “Kamu siapa? Ngapain kamu disini?” Tanya asa judes.

Pria itu tersenyum, rasa bahagia meluap dihatinya. Dia tak menyangka akan melihat putrinya setelah sekian lama. Tak sanggup berkata kata, bibirnya terlalu bungkam oleh kehadiran anaknya. Momen haru ini, dia tak pernah merasakan nya.

Asya yang tak kunjung menerima jawaban pun mendadak kesal. Gadis itu menegaskan nadanya, “pak, bapak dengar? Saya tanya loh. Bapak siapa? Ngapain bapak ada disini?” Ulang asya menuntut.

Haikal segera menenangkan istrinya, mengusap bahu wanita itu yang tampak kesal. Dia melirik pada sang mertua yang hanya diam saja, menerima semua resiko.

“Tenang sayang” ucap haikal berbisik.

Asya menghentakan bahunya. “Gimana mau tenang? Dia siapa? Kok ada di ruangan bunda?” Tangkas asya bertanya.

Haikal menghela nafasnya, menguatkan tekadnya. Memijat pelan kepalanya, lalu matanya memandang sang mertua yang hanya tersenyum.

Situasi ini benar benar di luar kendalinya, entah akan bereaksi seperti apa istrinya setelah mengetahui siapa pria itu. Tapi haikal tak bisa berbuat lain, mungkin memang sudah saatnya.

Haikal mengeratkan genggaman nya. “Dia… dia ayah kamu asya” kata pria itu.

Asya yang mendengar itu jelas tak percaya, gadis itu menggeleng sambil membantah. “Enggak enggak. Aku gak punya ayah, kamu bohong. jawab jujur, dia siapa?” Asya mulai terbawa suasana. Tanpa Sadar nadanya meninggi menuntut penjelasan.

Haikal memegang pundak asya, membuat gadis itu menghadap nya. Haikal rendahnya tubuhnya agar sejajar dengan sang istri. Lalu dia beri pengertian pelan.

“Asya dengerin saya, dia memang ayah kandung kamu. Ayah syarif, ayah kamu. Saya tahu kamu benci, tapi itu faktanya. Mau gak mau kamu harus menerima itu" ujar haikal.

Asya kekeh menggeleng, menepis tangan haikal dari bahunya. “Nggak! Aku gak punya ayah!” Pekik asya menatap tajam pria di sudut ruangan itu.

“Aku cuma punya bunda, aku gak punya ayah. Jangan ngaku ngaku!” Desis gadis itu pada pria yang haikal bilang ayahnya.

Dia tak terima, selama hidup didunia ini dia tak punya ayah. Yang dia punya hanya bundanya, orang tuanya hanya bundanya. Tidak ada yang namanya ayah dalam hidupnya, asya tak terima.

Asya mendekati pria itu lalu menunjuknya dengan tegas. “Gak usah ngaku ngaku ayah saya. Saya gak pernah punya ayah, ayah saya udah mati! Lebih baik kamu pergi dari sini, jangan gangguin bunda!” Usir asya dengan tega nya.

nyantri bareng suami Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang