part 40

4.3K 261 11
                                        

40. Kebenaran?
.
.

Happy reading

Saat adzan duzhur berkumandang, haikal segera menunaikan ibadahnya. Berbarengan dengan asya, gadis itu ikut berjamaah dengan haikal sebagai imam.

Setelah selesai asya dan haikal makan siang dulu, kebetulan di depan rumah sakit ada warung nasi. Keduanya makan disana.

Setelah menunaikan ibadahnya, hati asya tampak tenang. Dia tampak lebih segar Dan pikirannya lebih jernih.

“Sayang, boleh mas tanya sesuatu?” Tanya haikal setelah mengakhiri makannya.

Asya mengangguk. “Boleh. kamu mau tanya apa mas?”

“Soal ayah kamu, kamu udah bisa maafin dia belum?”

Haikal mencoba kembali membujuk asya, istrinya itu cukup keras kepala. Meski alasannya masuk akal, namun jika dilihat dari sudut yang berbeda asya salah paham.

Kembali ke topik yang menyebalkan wajah asya cemberut, mendung di gelayuti muram. “Belum” lirih asya membuang pandangan.

Dia tak mau melihat wajah marah haikal padanya, pasti suaminya tidak suka. Tapi mau bagaimana lagi? Luka di hatinya susah di sembuhkan.

Haikal mencoba lebih sabar. Dia meraih tangan asya yang bertengger di meja lalu di genggamnya, menarik tubuh gadis itu agar berhadapan.

“Ayah kamu itu, sayaaaang banget sama bunda. Selama belasan tahun dia hidup dengan rasa bersalah terhadap kalian” tutur haikal lembut.

“Kalo memang sayang, kenapa dia ninggalin bunda waktu bunda masih hamil? Kenapa baru sekarang dia datang disaat bunda sudah seperti ini?” Tanya asya menggebu gebu.

Haikal memejamkan matanya singkat, lalu menunjukan senyumnya. “Dia tinggal jauh dari perkotaan, jauh dari jakarta. Mencari kamu dan bunda tak semudah itu, apalagi ini kota besar.”

“Ayah cerita sama mas, di merasa bersalah telah meninggalkan bunda dan kamu. Bahkan dia menentang orang tuanya sampai menceraikan istri barunya hanya untuk bertahun tahun menunggu dan mencari kalian. Dia di usir oleh keluarganya dan kembali memulai dari nol dengan terus mencari kalian” lanjut nya.

Mendengar penuturan haikal hati asya yang semula sekeras batu kini mulai melunak. Dia terdiam beberapa saat mencerna apa yanh haikal ungkapkan.

“Apa Itu benar? Bisa jadi dia bohong” kilah asya masih tak percaya.

Haikal harus extra sabar meski berkali kali kepalanya menggeleng. “Dia sudah berubah sayang, percaya sama mas” haikal meyakinkan istrinya.

Asya menatap netra suaminya mencoba mencari keraguan, namun tak dia temukan. Hanya keyakinan dan tekad yang tampak bulat dan tak terbantahkan.

sebelum mengambil keputusan, asya meraup oksigen banyak lalu dia hembuskan.

“Akan aku coba… memaafkan” putusnya yang dihadiahi senyuman.

Haikal mendukung penuh, dia mendekap istrinya sebelum kembali ke rumah sakit.

Pasutri itu berjalan beriringan menuju ruang rawat bunda nilam, keduanya tampak serasi dengan baju koko dan gamis creamnya.

Saat haikal mendorong kenop pintu hingga terbuka, langsung terlihat pemandangan yang menyejukan hati. Dimana ayah syarif dengan telaten menyuapi bunda nilam, dengan lembut dia berbicara. Senyum tak luntur dari wajahnya, terlihat sangat senang.

Kedua nya tampak menoleh saat pintu terbuka, lalu syarif beringsut mundur setelah selesai menyuapi mantan istrinya untuk membiarkan putri dan menantunya melihat keadaan bunda mereka.

nyantri bareng suami Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang