Happy reading
.
.
.
...
Haikal berjalan terburu buru menuju asramanya. Setelah dia menerima telepon dari pihak rumah sakit yang mengabari kabar bunda nilam kritis, dirinya tak bisa tenang dan berdiam diri.
Keputusan nya keluar dari pesantren akan di lakukan bulan depan. Namun karena kondisi yang buruk mengharuskan nya keluar lebih cepat.
Haikal mengemas barang barang miliknya yang tak terlalu banyak, di bantu anak anak santri yang lainnya.
“ustadz keluar?” Tanya salah seorang santri yang membantunya.
Haikal mengangguk di tengah kepanikannya. “Iya. Sebelumnya tolong sampai kan maaf saya kepada semua. Bunda asya kritis dan kami harus segera pulang” jelas haikal.
“Baik ustadz”
“Oh ya. Saya meminta tolong, tolong masukkan barang barang ini ke dalam bagasi mobil. Terima kasih sebelumnya ” haikal melemparkan kunci mobil miliknya pada ikhsan.
Dia akan berpamitan dulu pada keluarga pesantren, sebelum itu dia harus memberitahu asya. Kebetulan sekali begitu keluar dari asrama dan berjalan menuju ndalem, dia melihat asya dan teman temannya.
“Asya!” Panggil haikal agak keras agar terdengar.
Asya yang tengah sibuk mengobrol menoleh pada pria itu, dia lalu menghampiri nya. “Kenapa ustadz?” Tanya nya dengan raut wajah bingung. Melihat haikal yang panik dan nampak khawatir.
“Kita pulang sekarang sya, bunda kritis. Kemas barang barang kamu nanti saya ambil” kata pria itu.
Mata asya memelotot terkejut, otaknya seketika ngeblank. “K-kritis? Maksud ustadz?”
Ah haikal lupa belum memberi tahu asya kalau bunda nilam di rawat. “sya, maaf aku gak kasih tahu kamu. bunda nilam sakit dan di rawat di rs, kondisinya kritis sekarang” jelas haikal cepat.
Tentu asya terkejut bukan main, sampai sampai tubuh nya kaku tak bisa bergerak. Dia kehabisan kata kata, ucapan haikal masih belum bisa dia cerna.
“Bunda…” lirihnya tak bertenaga.
Haikal tahu asya pasti terkejut, namun ini bukan saat yang tepat. “Sya, saya tahu kamu pasti terkejut. Tapi ini bukan saatnya untuk marah, kamu segera berkemas ya? Kita pulang sekarang” Ujar haikal lalu matanya beralih pada hani dan dira yang juga ikut cemas.
“Tolong bantu asya mengemasi barangnya” ucap haikal kemudian di angguki keduanya.
Mereka berpisah disana, hani dan dira segera menarik asya yang masih kaku. Membantunya berkemas barang barang, untungnya barang barang asya tak sebanyak milik mereka.
Hanya jadi satu koper dan satu tas kecil. Asya segera mandi dan berganti pakaian, sepanjang Kegiatan dia tak henti hentinya menangis.
“Bunda…” lirih asya pelan dengan air mata yang mengalir.
Dia berdiri di depan cermin, sambil membenarkan kerudungnya. Namun air mata tak hentinya turun, meski Asya sudah mengelapnya berkali-kali.
“Sya…” Panggil kak fatim.
Asya menoleh, lalu bibirnya kembali melengkung ke bawah dengan tangisan yang semakin deras. Kak fatim melebarkan tangannya, dengan senang hati menerima asya.
Asya pun maju dan memeluk wanita itu, dia menangis disana tak bisa berhenti. Sampai tersedu sedu, dadanya sangat sesak dan dia kehabisan kata kata.
“Bunda kak..” lirih asya penuh kesakitan.
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Fiksi RemajaBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
