Ku ingatkan kembali dirimu saat ku ucapkan ijab kabul di depan penghulu
.
.
.
.
29.pinangan
Gus arkan berdiri di belakang umi dan abi nya yang tengah menyiram tanaman di halaman belakang. Senyum tak dapat dia tahan, kabar ini mungkin juga akan menebarkan senyuman yang sama.
“Umi, abi” panggilnya.
kedua orang tua itu menghentikan aktivitasnya, sebelum akhirnya menoleh pada sang putra. “Kenapa nak?”
“saya mau minta izin umi, abi” Kata nya.
Sang abi menyahut. “Izin apa?”
sebelum mengatakan keinginan nya gus arkan menarik nafas lebih dulu. “Kalau benar asya terbukti tidak bersalah, saya ingin melamarnya. Saya akan membawanya ke hadapan kalian dan izinkan saya melamarnya” ucap gus arkan mampu membuat kedua orang itu mengerjap.
Mereka saling pandang, seolah berbicara lewat sebuah pandangan. cukup lama, sebelum akhirnya mereka kompak memandang putra bungsunya.
“Kamu yakin? Atas dasar apa? Jangan terburu buru mengambil keputusan” ucap umi sayidah agak tegas.
“Saya yakin umi, tenang saja. Saya sudah memikirkan hal ini dan ini bukan keputusan yang buru buru, saya melamarnya karena saya menyukai dia” jawab haikal tenang. Masih dengan senyumnya yang sama, menyejukan.
Tak bisa berbuat apa apa, umi sayidah hanya menghembuskan nafasnya. Pak kyai yang mengerti mendekati istri dan mengusap punggungnya pelan.
“Jika itu keputusanmu yang terbaik, kami mendukungnya” ujar pak kyai. Gus arkan mengembangkan senyumnya, sebelum pamit pergi.
….
Asya yang awalnya tak berani kembali ke asrama, akhirnya kembali setelah di yakinkan oleh kak fatim. Begitu selesai persidangan nya di ruang gus arkan tadi, dia tak bisa berhenti bersyukur.
Meski dia sudah terbukti tak bersalah, nyatanya tak semua orang sama kembali. Beberapa dari mereka masih menyalahkan nya dan menyudutkannya, dia dituduh sengaja menjerumuskan kak mila dan kak jena ke dalam masalah.
Untungnya, teman teman nya menyambutnya dengan baik. Bahkan kabar baiknya kak fatim pindah ke asrama satu atas perintah gus arkan.
“Asyaaa” pekik dira berlari memeluk tubuhnya.
Asya sampai terhuyung ke belakang sangking kuatnya pelukan gadis itu. Namun bukannya marah, dia justru tertawa senang.
“Asya, selamat kamu terbukti gak bersalah” ujar dira.
“dari awal aku gak percaya sama fitnah itu, untung kamu bisa buktiin kalau kamu gak bersalah. Jadi kita bisa bersama lagi” ujarnya.
Asya tersenyum dengan mengangguk kecil. Beralih pada hani yang juga menghampirinya.
“Asya, alhamdulilah kamu kembali” ujarnya terharu.
Ketiganya saling berpelukan. Melepas rasa rindu karena beberapa saat tak leluasa bertemu.
Hani menarik asya duduk di atas kasur, kemudian dia mulai bersila sembari menghadap gadis itu. “Kamu tahu gak asya? Dira berantem sama santri lain di aula karena belain kamu” ucapnya kemudian.
Mengungkit kembali kejadian kemarin yang sampai dira di panggil ke ruangan gus arkan. Untungnya hanya diberikan hukuman ringan saja.
Asya yang mendengar itu sontak membulatkan matanya, terkejut. “serius? Kapan?”
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Novela JuvenilBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
