Tidak semua hal bisa diberi kesempatan kedua, terkadang sesuatu yang dipaksakan berakhir sengsara.
.
.
.
Happy reading
Dua hari berlalu, hubungan asya dan syarif mulai membaik seiring berjalan nya waktu. Asya juga lebih sering berinteraksi dengan ayahnya, meski masih kaku dan canggung namun hal itu didukung oleh haikal dan bunda nilam.
Seperti hari ini, asya menyiapkan bekal untuk dibawa ke rumah sakit. Meski bunda nilam terlihat sehat, nyatanya kondisi masih lemah dan butuh perawatan intensif.
Keluarga kecil itu berada di taman dengan menggelar karpet di atas rumput. Asya, haikal dan syarif duduk melingkar sambil menikmati makanan yang asya bawa. Sedangkan bunda nilam duduk di kursi roda di antara mereka.
“Apa masakannya enak?” tanya Asya di sela sela kunyahan nya.
Dia belum mahir memasak, was was kalau rasanya tidak enak. Untung haikal pintar masak, jadi Dia dibantu oleh pria itu.
“Enak sayang” jawab haikal melahap makanan yang tersedia.
Ada makanan gurih dan manis. Asya juga belajar membuat cake lewat tutorial dari youtube.
“Ini makanan terenak yang pernah aku makan Karena dibuat oleh putriku sendiri" timpal syarif memuji.
Asya merasa tersanjung, dia tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
melihat asya dan syarif saling tegur, bunda nilam tentu merasakan kesenangan. Hubungan mereka yang membaik memberi efek besar pada haikal dan kesembuhan bunda nilam.
Duduk bersama di bawah pohon rumah sakit, dan menikmati makanan. Mereka selesai dan kembali ke dalam ruangan bunda nilam.
Jika progres bunda nilam terus membaik, secepatnya dia bisa pulang. Besar harapan asya dan keluarga untuk kesembuhan bunda nilam, meski terdengar mustahil namun mereka selalu berdoa diberi tambahan waktu lebih untuk bisa lebih lama bersama bunda nilam.
Bunda nilam kembali ke ranjangnya dengan asya yang menuntun, dia membenarkan selimut yang menutupi tubuh ibunya.
“Kamu makin cantik nak” puji bunda nilam mengusap wajah putrinya.
“Alhamdulillah bunda” Gumam asya pelan.
“Bahagia kamu sama haikal kan? Kamu tambah gendutan, auranya juga makin keluar” kata bunda nilam.
Asya melirik suaminya, mencuri pandang sebelum kembali tersenyum pada bundanya. “Iya bunda” Jawab asya.
Pandangan bunda nilam beralih pada haikal dan syarif. Senyum tulus kembali menghiasi wajah tirusnya yang semakin tua.
Kebersamaan ini yang selalu dia impikan, akhirnya terwujud. Sepertinya jika dia di panggil oleh tuhan secepatnya, dia ikhlas.
“Bunda. Asya minta maaf ya? Selama ini asya selalu egois. Asya selalu mementingkan keinginan asya sampai nyakitin bunda” tutur asya mengambil tangan kecil ibunya dan mengusapnya.
“Kalau semisal bunda mau kembali lagi sama ayah, asya gak papa kok bun. Selagi bunda bahagia, asya gak keberatan” lanjutnya diakhiri senyuman dengan mata nya yang menyipit.
Syarif yang berada di sisi lain tersenyum senang mendapat restu putrinya. Mau setua apapun usia nya, bagi syarif waktu masih seperti dulu. Dia dan nilam saat masih berhubungan.
Nilam membalas tatapan syarif, dia mengerti maksudnya. “Walau bunda gak bersama ayah, bunda tetap bahagia selama kamu bahagia sayang” tukas nya.
Asya menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu maksud asya bun, asya mau bunda menemukan cinta bunda.”
“Cinta bunda itu kamu sayang” sela nilam.
Asya mencebik kesal dengan helaan nafasnya. “Ck, bunda gak ngerti” cibirnya sewot. Memalingkan wajahnya ngambek.
Bunda nilam tertawa pelan, dia masih bisa melihat putrinya ngambek. “Bunda mengerti” Angguk nilam begitu tawanya mereda.
Wajahnya berubah serius, menarik asya agar lebih dekat padanya. “Bunda sangat mengerti maksud kamu, tapi bagi bunda cinta itu sudah berbeda. Kamu, ayah kamu, kalian itu cinta bunda meski bukan cinta yang sama” dia mengedarkan pandangan pada syarif lalu haikal dan pada asya.
Mengamati mereka, memperhatikan bagaimana wajah bahagia mereka. “Melihat kalian bahagia saja itu sudah cukup bagi bunda. Soal kembali dan menemukan cinta sejati, takdir sudah memberikan bunda banyak pelajaran. Mungkin jika memang harusnya, bunda pasti akan kembali bersama pada ayah kamu” dia menjeda.
Menghela nafas kemudian wajahnya berubah sendu, tatapannya turun semakin mendung.
“Tapi kalau takdir bunda justru berkata sebaliknya, meminta bunda untuk cepat kembali, kamu harus siap” lanjut bunda nilam membuat asya mendongak.
“Bunda kok ngomongnya gitu” Tegur asya tak suka.
“Bunda harus sembuh. Bunda gak boleh ngomong gitu” asya sedikit kesal.
Dia tak suka jika bunda nya berbicara yang aneh aneh, siapa yang siap ditinggalkan sosok tersayangnya? Tidak ada.
Meski tuhan memberikan kita clue bahwa kita akan segera kehilangan seseorang, meski Kita sudah mempersiapkan diri dan berjaga jaga pun hasilnya tetap sama, tidak ada ada yang siap.
Seberusaha apapun mereka untuk bersiap, selagi memiliki kasih sayang mereka tetap akan merasa kecewa dan sakit. Pada akhirnya, manusia paling waras adalah mereka yang merasakan sakit, luka, senang dan bahagia.
Sore ini, hujan turun tak terlalu deras, berkunjung ke bumi sebagai gerimis. Asya dan haikal tetap menemani bunda nilam, mereka menyeduh coklat panas dan meminumnya bersama sama.
Setiap Kali bunda nilam membuka topik yang tertuju pada hal yang sama, asya selalu mengalihkannya. Sebisa mungkin menghindari topik itu.
…
Berlalu nya waktu tampak cepat, seseorang bisa saja tak menyadarinya. karena Gerimis, jalan raya menjadi hitam pekat karena basah.
Haikal menyetir dengan hati hati, sesekali dia melirik ke pinggir jalan dimana banyak penjual makanan kaki lima. Lalu menoleh pada asya, gadis itu tampak tengah termenung.
“sayang?” Panggil haikal pelan.
Asya yang tengah melamun terperanjat pelan, menoleh pada suaminya yang memanggil. “ya, Apa?”
“Mikirin apa sih?”
“Nggak ada. Cuma pusing aja dikit” jawab asya pelan.
Kembali memalingkan wajahnya pada luar jendela mobil. Nyatanya alasan itu hanya bualan yang dibuatnya.
“Jangan bohong. Mas tahu kamu lagi ada pikiran, coba berbagi. Siapa tahu mas bisa bantu kamu” Tawar pria itu.
Asya terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya membuka suara. “Aku kepikiran sama omongan bunda mas. Gimana kalau itu jadi kenyataan? Aku takut bundya pergi” tutur asya pelan.
“Jangan berpikiran seperti itu. Gimana pun ke depannya, kita tidak bisa mengaturnya. Cukup berdoa yang baik baik untuk kesembuhan bunda” tegur haikal.
Dia meraih kepala asya agar bersandar pada bahunya. Pun asya yang memasrahkan jiwanya untuk bersandar pada pria yang telah menjadi suaminya itu.
“Semoga bunda cepet sembuh” gumam asya memejamkan matanya.
“Aamiiin” Balas haikal pelan.
Mobil hitam itu melaju dengan hati hati, membelah jalanan yang cukup ramai karena ini malam minggu. Banyak pasangan muda yang terlihat bersama sepanjang perjalanan.
Haikal pun merasa beruntung karena malam minggunya di temani sang istri. Menjalin hubungan pacaran setelah sah dan menikah rasanya semenyenangkan ini.
Lewat ujung mata, haikal melirik asya yang tampak tertidur. Bibir pria itu berkedut pelan membentuk senyuman tipis.
Bukan hanya perasaan asya yang tak enak, perasaan nya pun sama.
“semoga tidak terjadi apa apa” gumam nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Teen FictionBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
