part 23

8.7K 373 60
                                        

23.fitnah

وَٱلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلْقَتْلِ

"Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan"

...

Begitu datang ke kebun asya langsung bergabung bersama bi anis hani dan dira. Mereka tengah menanam bibit ubi jalar dan singkong.

Mereka juga memetik hasil perkebunan seperti cabe, tomat, bawang daun, lobak, saosin dan timun. Cukup lama bergelut dengan tanah, lalu bi anis lebih dulu selesai dan mulai memasak di atas tungku buatan dari bata merah yang di tumpuk.

Asya, hani dan dira membersihkan dahulu hasil panen mereka. Lalu membersihkan tangan dan kaki di air selokan yang mengalir di bawah kebun.

Selokan yang berada di antara sawah dan kebun itu memang sering di gunakan oleh santri santri yang kesana. Di atas nya perkebunan sangat luas, bukan hanya milik bi anis tapi juga keluarga pesantren lainnya.

Seperti sebelah kanan atas yang paling luas itu milik pak kyai, di bawahnya perkebunan milik bu nyai. Dan masih banyak lagi, ada juga kebun masyarakat sini. Tetapi lebih mendominasi keluarga pesantren.

Bahkan sawah pun yang berjajar di bawah itu sama milik keluarga pesantren. Sering anak santri putra atau pun putri kesini, merawat kebun bahkan ada yang izin menanam sesuatu seperti kacang tanah.

“Enak banget disini, pemandangan nya bagus, udaranya juga sejuk sekali. Pantesan banyak santri yang kesini walau cuma sekedar duduk” Ujar asya.

Duduk di saung kecil milik bi anis, kaki nya bergoyang goyang menikmati pemandangan. Tak hanya satu, setiap kebun punya saung nya sendiri.

Asya menoleh ke belakang, pada bi anis yang tengah memasak. Dia memutari saung tersebut dan duduk di samping bi anis yang menunggu liwet matang.

Dira dan hani tadi pamit dulu mau ngambil jambu air di kebun sebelah. Jadi tinggal asya dan bi anis yang duduk disini.

“Bi, daun singkong sama cabe asya masukin sekarang” Ujar asya.

Tiga bulan mondok tak sia sia bagi asya, dia yang awalnya sama sekali tak mengerti membuat liwet kini jadi mahir.

Bi anis mengangguk, dia tengah memotong perbawangan untuk memasak saosin yang di ambilnya. Bumbu, penyedap semuanya tersedia di sini.

Seraya menunggu dira dan hani kembali, asya dan bi anis mengobrol banyak. Salah satunya tentang hubungan dia dan haikal.

“nak haikal beruntung sekali mendapatkan nak asya. Sudah cantik, pinter jago masak lagi” Celetuk bi anis.

Asya jadi malu mendengar nya. “Alhamdulillah bi. Asya juga beruntung dapat suami ustadz haikal” sahut asya.

Bi anis mengangguk, jadi ingat almarhum suaminya dulu. “Kalian ini sudah berapa lama menikah? Kok bisa malah masuk pondok” Tanya bi anis.

Asya berpikir sebentar, lalu mengerjap kan matanya. “Sekitar empat bulanan lah bi. Sebenarnya aku sama ustadz haikal di jodohin, kami nikah. Aku gak kenal dekat sama ustadz haikal, tapi orang tua kami berteman. Pas awal nikah, justru asya takut banget sama ustadz haikal. Pikirannya negatif terus kalau sama dia, padahal dia suami asya” Jelas asya panjang lebar.

Mengingat kembali ketika awal awal menikah, saat itu dia sangat takut pada haikal yang menurutnya binatang buas. Tapi begitu masuk pesantren, sudut pandang nya jadi berbeda. Asya yang awalnya merasa hal itu wajar justru kini merasa bodoh, aneh dan malu kalau mengingat hal dulu.

nyantri bareng suami Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang