Benci ini bukan keinginan tapi rasa yang tumbuh karena terbiasa
.
.
.
Happy reading
Pagi cerah menyapa pasutri yang masih terbilang baru itu. Haikal dan asya menyelesaikan shalat subuhnya dengan tadarus bersama.
Sedari bangun tidur wajah haikal begitu fresh, sumringah sampai senyumnya tak luntur. Sudah jelas ada alasannya.
“Suara kamu bagus sayang” puji pria itu begitu mengakhri sesi tadarusnya.
Asya tersenyum malu mendengar pujian suaminya. “Alhamdulilah” katanya.
“Hari ini kita ke rumah sakit lagi ya ustadz” ujar gadis itu.
Haikal mengangguk. “Jangan panggil ustadz lagi sya, gak enak denger nya” tegur pria itu karena panggilan Asya tak berubah.
“Terus manggil nya harus apa?”
“Apa aja, asal jangan ustadz. aku kan suami kamu sekarang” balas haikal.
Sekarang dirinya menjalani kehidupan sebagai suami asya, bukan guru. Tak enak rasanya mendengar istri sendiri memanggilnya sebagai guru.
Asya mengetukan jarinya ke dagu, berpikir mencari nama panggilan yang bagus. “Mas haikal, Abi haikal, atau…” asya menjeda ucapannya memikirkan nama panggilan lain.
Jari nya mengetuk ngetuk dagu.
“Sayang” Sela haikal memberi pilihan.
Asya menggeleng spontan. “Aku udah nyaman manggil ustadz” keluhnya mengerdikan bahu.
“Gak boleh dong. Masa manggil suami nya pake ustadz” tegur haikal lembut.
Bibir asya mengerucut, menjatuhkan tubuhnya pada haikal. “Terus apa dong? Mas haikal” keluh asya gemas.
Haikal terkekeh mendengarnya, meletakan dagunya dikepala sang istri yang tengah dia dekap. “Gitu dong. Kan enak aku denger nya” ujar haikal.
Asya terkikik geli, menutup mulutnya. Merasakan kehangatan dari pelukan suaminya, tubuhnya berguncang ke kanan dan ke kiri.
“Terima kasih” celetuk haikal berbisik.
Asya mendongak, alisnya bertaut bingung. “Untuk apa?” Tanya nya.
“Untuk semalam” jawab haikal dengan sengaja mengedipkan matanya.
Seketika wajah asya memerah malu, gadis itu segera menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami. Haikal tertawa gemas melihat reaksi sang istri saat malu.
Sesi mesra mereka berakhir dengan membereskan sajadah yang mereka gunakan tadi. Asya dan haikal bersiap untuk menjenguk bunda nilam, kata dokter bunda nilam sudah di pindahkan ke ruang rawat vvip.
“Mas, Aku pengen sarapan bubur deh” Asya menghampiri suaminya lalu menggelendot manja.
“Kita sarapan bubur dulu sebelum ke rumah sakit” putus haikal diangguki asya.
Kaki keduanya serempak melangkah ke luar apartemen. Haikal membenarkan hijab asya yang terbuka di bagian dada. Lalu menggandengnya dan keduanya mencari sarapan.
“Ustadz pengen langsung punya anak?” Tanya asya tiba-tiba. Gadis itu melupakan panggilannya, kebiasaan nyebut ustadz bilang mas jadi agak kagok.
“Mas haikal sayang, bukan ustadz” haikal meralat.
asya mengangguk. “Iya mas” katanya memperbaiki.
“Kalau di kasih sih, mas gak mau nunda. Itu pun kalau kamu siap, tapi kalau semisal kamu belum mau punya anak dulu gak papa. Aku hargai keputusan kamu” jelas pria itu fokus pada jalan di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Teen FictionBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
