Bahkan jika terjadi sesuatu padamu,
sesulit itu aku memaafkan diriku
25. Kacau
.
.
.
.
.
D
engan penuh kepanikan, haikal berlari menuju ruang rawat sang mertua. Sebelum masuk dia berdiri di depan pintu, menarik napas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan.
Menetralkan wajahnya, haikal berusaha untuk tak terlihat panik dan cemas. Kondisi saat ini tak memungkinkan untuk memberitahu keadaan asya pada bundanya.
Dirasa cukup, dia memutar kenop pintu ruang rawat bunda nilam. Terlihat bunda nilam terduduk setelah meminum obat yang sudah di jadwalkan. Di temani seorang suster yang sigap membantu sang bunda.
Begitu suster itu pergi haikal lalu menarik kursi di samping berankar dan duduk di sana. Berusaha menenangkan hatinya yang nyatanya sangat panik dan cemas karena kondisi asya saat ini.
“Bunda” Panggil haikal pelan. Memaksakan senyumnya agar merekah dan tak terlihat getir.
Bunda nilam, yang sudah dua hari di rawat pun ikut tersenyum. Membalas sapaan sang menantu dengan suara lemahnya.
“Kenapa nak? Bunda repotin kamu ya?” Tanya bunda nilam dengan lirih.
Tentu saja haikal menggeleng keras, sama sekali tidak. Tidak ada yang merepotkan nya, justru haikal senang bisa berbakti pada sang mertua.
“kenapa bunda bicara begitu? Haikal nggak pernah kerepotan bunda. Justru senang karena bunda percaya sama haikal” Kata haikal.
Bunda nilam tersenyum senang mendengar nya. Tidak salah dia memilih haikal sebagai menantu nya.
“Terima kasih nak. Sekali lagi bunda minta maaf ya bikin kamu jauh jauh datang kesini” Ujar bunda nilam.
“Gak papa bunda. Oh ya, haikal mau pamit bunda ada urusan di pondok. Tadi haikal juga udah tanya sama dokter katanya besok pagi bunda boleh pulang” Ucap haikal menjelaskan.
“Soal biaya dan yang lainnya, semuanya sudah haikal bereskan. Bunda tinggal fokus sama kesehatan bunda, asya masih sangat membutuhkan bunda” lanjutnya.
Bunda nilam tersenyum getir mendengar penuturan haikal. Dirinya merasa telah merepot kan sang menantu, apalagi begitu datang haikal terlihat sangat kelelahan.
“Tolong jaga asya ya kal, bunda titip dia sama kamu. Tolong bimbing dan cintai putri bunda dengan tulus nak. Takut bunda kenapa napa.” celetuk bunda nilam.
Haikal menghembuskan nafasnya, dia tak suka dengan ucapan bundanya itu. Memang kematian tidak ada yang tahu, tapi haikal tak suka melihat bunda nilam yang sudah berputus asa atas penyakitnya.
Terlebih dia trauma karena hal ini mengingatkan nya pada sang ibu dahulu. Sampai sekarang haikal masih merasa bersalah atas kematian sang ibu. Meski tahu jika itu sudah jadi ketentuan dari sang pencipta.
“Jangan berbicara begitu bunda, haikal yakin bunda akan sembuh. Tidak ada yang mustahil jika allah sudah berkehendak” ucap haikal.
Bunda nilam membalasnya dengan senyuman kecil. Sangat terlihat jelas dari sorot matanya yang tampak redup, seolah menggambarkan dirinya yang sudah tak memiliki banyak harapan.
Haikal kemudian bangkit dan merapikan kemeja yang di kenakan nya. Sebelum pergi dia meraih tangan bunda nilam dan mengecup nya.
“Haikal pamit bunda”
“Iya nak. Jangan kasih tahu asya soal ini ya nak? Bunda tak mau mengganggu putri bunda mengaji” ujar nya.
Meski berat haikal mengangguk tak yakin. “Insyaallah bunda. Kalau begitu haikal pamit, assalamualaikum”
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Teen FictionBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
