part 32

6.6K 433 36
                                        

32. Kepergok

...

Sembari membereskan isi lemari sesekali asya melirik kak fatim yang tengah rajin menghafal. Mendengar suara indah nya merdu melayu melantunkan Ayat suci al-quran.

Terlalu indah sampai asya hanyut terbawa suasana, melipat pakaian yang biasanya tak sampai setengah jam pun menjadi satu jam. Itu pun selesai karena kak fatim mengganti hapalan nya menjadi nadhom.

“Suara kak fatim bagus banget, hapalan nya juga udah jauh. Aku iri sekali” ucap asya merendah diri seraya memberi pujian pujian halus pada kak fatim.

kak fatim yang mendengar itu terkekeh pelan, menggerakkan kakinya untuk berdiri dan menyimpan al-quran serta mazmu ke dalam lemari kitabnya.

“Amiin, kamu juga bisa asya asal rajin belajar dan hafalan” ujar nya.

bahu asya merosot bersamaan dengan nafas yang keluar. Tangannya masih asik melipat sarung yang baru dia cuci. “iya kak, amiin. Dari awal masuk sampe sekarang aku stuck aja hafalan nya di juz 1” kata asya mencurahkan isi hatinya.

Dia terbuka hanya kepada kak fatim, hani dan dira. Sisanya asya lebih banyak bungkam dan tak banyak tingkah. Sekarang dia lebih suka tinggal di asrama, setelah mengaji, mandi dan kegiatan diluar lainnya asya selalu langsung ke asrama.

Dia tak ingin bertemu orang orang, rasa di hakiminya selalu menguat. Meski mereka tak banyak bicara, namun mata serta wajah datar mereka sudah menjelaskan. Seolah wajahnya sudah memiliki subtitle sendiri.

“Yang sabar aja, rajin rajin hafalan nya. Aku dulu juga susahnya di juz satu, tapi karena terus dituntut hafalan jadi semangat. Alhamdulilah nya sekarang udah juz sembilan” seru kak fatim.

Duduk di samping asya, membantu gadis itu menyelesaikan pekerjaanya.

“Asya coba”

Setelah selesai asya mengeluarkan beberapa makanan yang dia punya dari lemari untuk dimakan bersama. Melihat snack berwarna merah itu menyala dari lemari asya, dira yang memang pecinta pedas segera menghampiri. Padahal tengah belum selesai melipat pakaian.

“Hani mau ini gak?” Tawar asya pada hani yang sibuk membaca buku sembari rebahan dikasur.

“itu apa?”

“Pikca” jawab dira.

“Mauu!”

Dengan semangat hani menutup buku nya dan menghampiri mereka. Dengan alas karpet tipis keempatnya duduk mengelilingi satu plastik berisi pikca yang asya bawa.

“Kamu beli ini kapan sya?” Tanya dira.

“Kemarin. Udah lama aku mau pikca cuma gak nemu nemu. Terus kemarin waktu patrol di rumah bi anis aku pesen deh pengen pikca” kata asya.

Pikca, keripik kaca tipis yang terbuat dari singkong. Asya dan yang lainnya sangat suka karena rasanya yang gurih dan pedas.

“Kalian udah makan belum?” Tanya kak fatim di sela sela kunyahan nya. Ketiganya menggeleng bersamaan.

Lalu tangan kak fatim menunjuk pada lemari makanan yang disediakan di sana. “Ada nasi di lemari, tadi saya sama teman teman yang lain disatuin liwetnya. Coba deh ambil”

Dira langsung bersemangat empat lima, mengambil nasi yang masih hangat itu. Namanya juga anak pondok, apapun makanannya selagi ada nasi bisa di jadikan lauk. Kecuali yang manis manis.

“Eh bentar deh, aku kayaknya tadi beli usus deh dari depan belum di makan” celetuk hani tiba tiba teringat usus nya.

Dia pun segera bangkit dan mengambil usus krispi setengah matang yang dia titip beli. Lalu menaburkan nya ke atas nasi untuk di makan bersama.

nyantri bareng suami Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang