Ibaratnya kaca yang dijatuhkan dari gedung berlantai sepuluh, seperti itulah hasil dari sebuah kepercayaan yang di khianati
.
.
.
28. Terungkap
Tiba Tiba malam ini mati lampu terjadi sesaat setelah selesai pengajian. Asya bersama bi anis dan kak fatim pun menyalakan lilin sebagai penerang. Untung semua pekerjaan sudah selesai dengan cepat atas bantuan asya dan kak fatim.
Tapi asya tiba tiba merasakan perutnya lapar, dia ingin makan sesuatu padahal tadi saat bangun langsung makan disana.
“Aku kok lapar lagi ya bi? Pengen nyeduh mie aja. Boleh kan bi?” Asya meminta izin lebih dulu.
Bi anis mengangguk. “boleh dong. Kamu pilih aja mau mie rasa apa” Kata bi anis menunjuk rak tempat mie berada.
Karena berbeda lantai asya turun dan mulai memilih mie yang dia inginkan. Ada banyak rasa, namun pilihan nya jatuh pada mie kuah rasa ayam bawang.
“Aku satu sya, mie goreng rasa rendang” sahut kak fatim.
Asya pun mengangguk, mengambil satu lagi mie rasa rendang. Kemudian dia naik ke lantai kedua dan masuk ke dapur untuk memasak mie tersebut.
“Biar bibi aja yang masak sya” cegah bi anis lebih dahulu menyusulnya.
Lalu dia menyuruh gadis itu untuk duduk bersama fatimah. “Kamu duduk aja dengan kak fatim” ucapnya.
Asya yang merasa tak hendak menolaknya, namun bi anis tetap kekeh dan membuatnya akhirnya menurut.
“Biar asya aja bi, gak papa” kata asya tak enak hati.
Bi anis menggeleng, seraya mengambil mie dari tangan gadis itu dan berlalu menuju kompor. “Biar bibi aja nak asya. Kamu duduk disana, gak perlu sungkan begitu” jawabnya dengan sedikit senyuman.
Asya kembali duduk di samping kak fatim, sembari menunggu mie nya matang mereka mengobrol sedikit. Namun saat itu haikal tiba tiba datang dengan senter dari ponselnya untuk menjemput sang istri.
“Assalamualaikum”
Asya dan kak fatim sontak menoleh secara bersamaan. “Waalaikumsalam” jawab mereka.
Haikal dapat melihat istrinya dengan cahaya remang remang dari lilin, sontak dia tersenyum dan segera menghampirinya. Asya pun segera meraih tangan sang suami dan menciumnya.
“Sudah baikan?” Tanya pria itu dengan lembut.
asya mengangguk, melirik singkat pada kak fatim yang diam sembari menahan senyumnya. “Udah kok” katanya menjawab.
Haikal yang duduk agak berjarak dari mereka mengangguk. Lalu menatap fatim untuk berterima kasih karena telah menjaga istrinya.
“Terima kasih sudah menjaga istri saya” ujarnya dengan tulus.
“Sama sama ustadz, jangan sungkan. Saya senang kok bisa menjaga asya” ujar wanita itu tersenyum tulus pada asya.
Di balas senyuman pula oleh gadis itu. Rasa rasanya asya seperti anak kecil di tengah orang dewasa itu, sampai harus dijaga dengan baik.
Tak lama bi anis muncul dengan tiga mangkuk mie dan meletakan nya didepan mereka. “Loh, Ada kamu kal?” Tanya bi anis pada haikal.
Haikal mengangguk pelan, terus memperhatikan istrinya yang mengambil mangkuk mie. Pipi tembamnya mengembung begitu mie itu masuk ke dalam mulutnya dan dikunyah.
Merasa di perhatikan, asya menoleh ke kiri dimana haikal berada. Benar saja, pria itu begitu intens menatapnya yang tengah makan. asya jadi merasa malu, pipinya memanas seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
nyantri bareng suami
Teen FictionBagaimana jadinya jika kita menikah dan masuk ke pesantren bersama sang suami? Itulah yang di rasakan Anastasya Sabila. Gadis yang sering di panggil asya itu menerima perjodohan sebagai bukti baktinya pada orang tua. Haikal Zayyan Atharrazka. Pria b...
