part 36

7.1K 402 134
                                        

Kematian adalah masa depan sesungguhnya.
.
.
.
.....

Central Hospital Indonesia, Rumah sakit besar dengan taraf internasional. Selama beberapa pekan bunda nilam dirawat disana, berjuang melawan penyakitnya.

Asya berlari kencang menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruang rawat bundanya. Begitu sampai disana, seorang dokter keluar dari ruangan itu.

Bergegas sasa menghampirinya, didampingi haikal yang senantiasa disampingnya. “Dokter, gimana keadaan ibu saya?” Tanya sasa tak sabaran.

Dokter berjenis kelamin pria itu melirik singkat pada haikal sebelum tertuju kembali pada Asya. “Beberapa saat lalu, pasien mengalami kondisi kritis. Namun bersyukur beliau berhasil melewati masa kritisnya” jelas sang dokter mendapat anggukan bahagia dari asya.

Gadis itu menghapus jejak air matanya, bersiap menemui sang bunda. Setelah dokter berlalu, barulah sasa masuk ke dalam ruang rawat bundanya.

Langkah nya langsung rapuh dengan kaki yang melemah. Melihat bunda nilam terbaring lemah dengan infusan di tangannya, dan selang oksigen di hidungnya.

Asya meraih tubuh sang bunda, dengan tangan bergetar dan tubuh lemah. Bahkan dirinya hampir ambruk jika haikal tidak membantunya.

“Bunda..” lirih gadis itu.

Duduk di samping sang bunda, tangan lemahnya meraih wajah yang mulai penuh kerutan itu. Air mata lolos menjatuhi pipinya, isakan berat tertahan terdengar.

Asya meraih nya, wajah dari tubuh lemah yang terbaring. Mengusapnya, jarinya seolah kaku tak dapat di gerakan. tatapan sendu gadis itu turun kemudian mengambil tangan sang bunda. Yang tak sehangat dulu.

Dia menggenggamnya, mendekapnya erat dengan isakan deras semakin terdengar. “Bunda bangun…” rintih asya meminta.

“Bunda jangan tinggalin asya. Bunda janji bakal temenin asya terus” gadis itu semakin sesegukan.

“Maafin asya baru dateng sekarang” gadis itu mengusap air matanya dan kembali memandangi wajah yang terlelap. “Bunda pasti kesepian ya? Selama ini asya gak ada di samping bunda waktu sakit.”

“Bunda jangan pergi” lirihnya semakin keras. Tangis nya semakin deras sampai sampai bahunya ikut bergetar. Memeluk Lengan sang bunda dan menempelkannya di pipi.

Terakhir kali mereka bertemu, bunda nilam baik baik saja. Wajahnya yang cantik tersenyum dan berseri melepasnya pergi ke pondok.

Tapi sambutan kepulangan nya bukan seperti ini yang dia mau. Bunda nilam terbaring lemah, Tubuhnya di gerogoti penyakit bahkan tanpa bisa melihatnya.

Asya benar benar tak bisa melihat hal seperti ini, bundanya adalah bunda tercinta. Bunda yang selalu menceritakan dongeng sebelum tidur padanya. Bunda yang selalu dengan lembut mengelus kepalanya.

Melihat betapa rapuhnya kini bunda nilam, membuat asya putus asa. Hatinya ikut hancur seiring mendingin nya tubuh sang bunda.

“Bunda sakit apa?” Tanya asya pada sang suami yang berada di sampingnya.

“Kanker rahim, stadium akhir” dengan berat hati haikal mengatakan nya.

Semakin meraunglah tangis sasa, pecah sudah tangisan nya. Meraung dan meracau menangisi hal itu, dadanya mulai sesak dan hidungnya seolah tersumbat.

“Bunda…” racaunya putus asa.

“Bunda tega ninggalin asya? Bunda… Hiks, asya gak mau” dia semakin meracau.

Semakin erat memeluk tubuh lemah itu, yang ternyata selama ini di gerogoti penyakit ganas.

“Bunda sayang asya kan? Kalau sayang bunda harus bangun” Lirihnya semakin melemas. Tubuhnya melemah perlahan hingga kemudian jatuh pingsan di atas tubuh bunda nilam yang terbaring.

nyantri bareng suami Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang