Renjun menghentakkan langkahnya kesal saat dia sampai di rooftop sekolah, apalagi saat matanya menangkap Mark yang sedang duduk di kursi dan sebuah asap rokok mengepul dari bibirnya membuat Renjun semakin berdecak kesal.
Renjun dengan wajah garang mendekati Mark dan merebut rokok yang terselip di bibir Mark, ia kemudian menginjak rokok itu hingga hancur tidak berbentuk.
"Kenapa kau menyuruhku ke sini?" tanya Renjun, dia melipat tangan di depan dada sembari menatap Mark dengan kesal.
Mark balas menatapnya dengan emosi, dia mencengkeram kerah seragam Renjun hingga membuat pemuda itu tersentak. "Jangan macam-macam denganku hanya karena aku tidak pernah memukulmu, aku bisa memperlakukanmu lebih parah daripada Haechan."
Renjun melototkan mata saat Mark mulai mencekik lehernya. Renjun dengan cepat berusaha menarik tangan Mark yang semakin menekan lehernya. "Beraninya kau menghancurkan rokok terakhirku?"
Mark berdecih saat Renjun kesulitan mengambil napas, wajah Renjun terlihat ketakutan. "Baru begini saja kau sudah takut? Masih mau melawanku?"
Mark melepas cekikannya dan melempar tubuh Renjun hingga pemuda itu terjatuh. Renjun mengambil napas sebanyak-banyaknya. Dia mengepalkan tangannya kesal dan kembali berusaha berdiri sembari bergumam. "Aku paling benci asap rokok, kalau mau menemuiku kau harus mengikuti aturanku."
Mark hanya membalasnya dengan decihan. Ia balik menatap Renjun yang kini sudah memandang dirinya dengan emosi.
"Langsung intinya saja, aku sibuk. Kenapa kau selalu mengganggu Haechan? Kau meneleponnya terus menerus seperti pengangguran, kau tidak tahu kalau itu menganggu Haechan?"
Mark tertawa. "Apa aku peduli? Kalau aku menyuruh Haechan ke sini dia harus ke sini, apapun yang terjadi padanya."
Renjun mendorong bahu Mark. "Haechan lagi sakit, brengsek!"
"Lalu?" Mark menaikkan satu alisnya, dia masih bisa bersabar walau Renjun sudah mendorong bahunya berkali-kali.
"Berhentilah mengganggu Haechan dan jauhi dia, aku tidak mau adikku semakin sakit karenamu," ujar Renjun serius.
"Kalau aku berhenti mengganggu Haechan selama dia sakit, apa kau mau menggantikannya?" Mark tersenyum miring saat melihat keterkejutan di wajah Renjun.
"Kalau kau tidak mau sih tidak apa-apa. Aku akan tetap menyuruh Haechan mendatangiku dan memukulinya setiap hari." Mark melangkah menjauhi Renjun.
Renjun mengepalkan tangannya kuat, dia menyayangi Haechan lebih dari ia menyayangi dirinya sendiri. Namun satu hal yang Renjun bingungkan, kenapa Haechan seakan-akan terikat perjanjian dan tidak bisa menolak jika Mark menyuruhnya?
"Aku setuju," kata Renjun.
Mark menghentikan langkahnya, dia berbalik badan dan memasukkan kedua tangannya di saku, sebuah senyum miring tercetak di wajahnya.
***
"Apa yang harus aku lakukan untuk menggantikan Haechan?"
Renjun kini duduk di depan Mark, mereka masih berada di rooftop bahkan saat bel pelajaran masuk sudah berbunyi. Mark melarangnya masuk kelas dan menyuruhnya untuk membolos pelajaran.
"Tidak banyak. Kau harus datang saat aku memanggilmu di mana pun kau berada, kau harus menuruti perintahku dan saat aku butuh samsak kau harus mau menjadi samsak," balas Mark santai yang mana membuat Renjun menelan ludahnya.
Berarti selama ini yang dilakukan Haechan? Renjun diam-diam merasa kasihan pada Haechan.
"Kalau aku nggak mau?" Renjun mengerutkan keningnya kesal tanda tidak setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fanfiction"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
