Haechan tersenyum lebar saat kini Mark meneraktirnya makan malam, walau hanya makan di rumah, katanya itu sebagai balasan karena telah mengunci dirinya dan Renjun di gudang, padahal karena itu ia dan Renjun bisa baikan sekarang.
"Sudah, berhenti tersenyum seperti orang bodoh, sekarang makan, Haechan," ujar Mark jengah.
"Hehe, terima kasih Mark Hyung." Haechan kemudian memakan kimchi jjigae yang beberapa menit lalu dipesan secara online.
"Terima kasih, Mark," ujar Renjun tulus.
Mark hanya bergumam untuk menjawab, dia melihat Haechan dan Renjun makan dengan lahap makanan mereka yang mana membuat kedua sudut bibir Mark terangkat.
"Renjun, boleh aku coba ayammu sedikit?" Haechan menunjuk ayam yang ada di piring Renjun.
Tangan kanan Renjun yang memegang sumpit segera memasukkan ayam ke dalam mulutnya, kemudian tangannya yang lain menyeret piringnya menjauh dari jangkauan Haechan.
"Salah siapa beli kimchi jjigae?!"
Haechan meringis. "Soalnya lagi pengen, tapi waktu lihat kau makan ayam sepertinya enak."
"Kenapa tidak minta punya Mark saja? Hyungmu bukan aku saja ya." Renjun tetap tidak mau memberikan ayamnya.
Haechan kemudian menoleh pada Mark yang langsung saja tersenyum lebar.
"Apa?" tanya Mark singkat.
Haechan dengan cepat menggeleng, dia berbisik pada Renjun walau tidak bisa dipungkiri Mark juga bisa mendengarnya dengan jelas. "Aku tidak berani minta Mark Hyung, lihat aku senyum saja sudah melotot dia."
Mark tersenyum tipis, dia kemudian memberikan semua ayamnya pada Haechan.
"Eh kenapa Hyung?" tanya Haechan bingung.
"Biar kau tidak berisik, aku ke kamar mandi dulu." Mark lantas berdiri dan meninggalkan Haechan dengan kebingungan.
"Kenapa dia tiba-tiba baik begitu?" Renjun mencomot satu ayam milik Mark tanpa sepengetahuan Haechan.
"Mark Hyung sebenarnya sayang sama kita, cuma gengsinya saja yang besar," jawab Haechan.
"Walau dia sering memukulimu dan menyumpahimu agar mati?" Renjun skeptis dengan pernyataan Haechan perihal rasa sayang Mark.
Haechan mengangguk, ia menatap punggung Mark yang semakin menjauh. "Mark Hyung selalu mengobatiku setelah dia melukaiku, kalau dia benar-benar ingin aku mati, dia pasti sudah lama menghabisiku."
"Aneh, jadi dia penggores luka sekaligus pengobat luka?"
***
Haechan kini mengerjakan tugas matematika di kamarnya, sedangkan Renjun mengerjakan sesuatu di balkon, sebenarnya Haechan penasaran apa yang dilakukan kakaknya itu di sana, tetapi dia masih harus menyelesaikan tugasnya dahulu.
Haechan menghela napas lega setelah bisa menyelesaikan tugas matematikanya, dia sedikit bersorak senang karena bisa selesai lebih dulu mengerjakan tugas itu dibandingkan Jeno yang kini merenggut kesal.
Masih terhubung dengan Jeno melalui panggilan video, Haechan dengan sombong memperlihatkan tugasnya yang sudah selesai.
"Cih, ini lah Lee Haechan, tidak di game atau matematika, aku selalu menang. Lee Haechan tidak pernah kalah," ujarnya lantas tertawa.
"Baru kali ini, biasanya aku juga yang selesai dulu," sahut Jeno.
Haechan memperlihatkan Jeno yang masih serius mengerjakan tugasnya. "Masih kurang berapa? Perlu bantuanku kah? Penawaran tidak datang dua kali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fanfiction"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
