Weekend kali ini Renjun menghabiskan waktu bersama Haechan, sesekali mereka menghabiskan waktu berdua di pinggir Sungai Han sembari piknik kecil-kecilan. Hal ini juga Renjun lakukan untuk membujuk Haechan yang merajuk, karena sebenarnya dia ada janji dengan Yangyang.
"Yang adekmu itu aku atau Yangyang sih? Selalu waktu libur kau main terus sama Yangyang!"
Renjun masih ingat saat di rumah tadi Haechan kentara sekali kalau sedang cemburu. Renjun hanya bisa tertawa melihatnya, kemudian dia membatalkan janjinya dengan Yangyang dan mengajak Haechan jalan-jalan, katanya dia bosan, di rumah tidak ada siapa-siapa. Mark main ke rumah temannya sedangkan orang tuanya masih ada urusan sehingga beberapa hari kemudian baru bisa pulang.
"Ini kita mau diam-diaman saja sampai pulang?" tanya Renjun disertai kekehan, melihat bibir Haechan yang masih cemberut.
"Ish, bentar aku masih kesel sama kau!" Haechan melipat kedua tangannya di depan dada, berekspresi marah.
Renjun tidak tahan untuk mencubit pipi Haechan. "Ututu adekku kalau marah lucu sekali."
Haechan kemudian tiba-tiba memeluknya. "Jangan tinggalin aku, Renjun."
"Eh, tiba-tiba?" Renjun terkejut, tetapi kemudian dia ikut memeluk Haechan. "Ada apa?"
Haechan menggeleng. "Aku bermimpi kau mati dengan banyak darah, kau berlumuran darah, Renjun. Aku takut."
Renjun mengelus pelan kepala Haechan. "Tidak apa-apa, itu hanya mimpi. Mungkin juga gara-gara kau takut darah, jadi mimpi seperti itu."
"Tapi tetap saja, aku takut kehilanganmu."
Renjun tersenyum. "Aku tidak akan pergi, aku janji."
Haechan kemudian mengangguk, dia melepaskan pelukannya. "Apa kau pernah mimpi buruk juga, Renjun?"
"Di antara mimpi buruk yang pernah aku alami, ini adalah mimpi yang paling buruk. Aku bermimpi kau tenggelam di lautan dan aku tidak bisa menyelamatkanmu karena aku phobia laut, walau tidak separah phobiamu. Tapi di sana aku benar-benar menyesal karena tidak bisa menyelamatkanmu."
Haechan mengelus bahu Renjun. "Tenang saja itu tidak akan terjadi, aku kan bisa berenang."
Renjun lantas tertawa. "Benar juga."
"Tapi Renjun, kenapa kau takut laut?"
Renjun memandang hamparan sungai di depannya, dengan beberapa makanan di sekitar mereka yang kini dibiarkan tidak tersentuh, Renjun kemudian berucap. "Aku memiliki trauma, tapi lebih dari itu, laut memang menakutkan. Aku membayangkan diriku tenggelam di sana dan mati kehabisan napas, mengingatnya saja membuatku sesak napas."
"Kau memiliki trauma?" Haechan bingung, setahunya Renjun tidak pernah terlibat apapun dalam urusan dunia perlautan, kenapa dia memiliki trauma?
"Kau mau mendengarkan ceritaku?"
Haechan mengangguk dengan semangat.
***
Beberapa tahun lalu saat Renjun masih di Beijing, waktu hari libur musim panas dia menghabiskan waktu bersama keluarganya untuk berlibur ke pantai, sekalian Papa bertemu dengan teman lamanya yang berasal dari Korea.
Renjun yang waktu itu berumur sepuluh tahun meyakini bahwa mermaid itu ada, makhluk-makhluk itu jelmaan dari alien yang turun ke bumi. Renjun pernah melihat sendiri saat dia bersantai di balkon rumahnya, ada sebuah bendah berkilau jatuh ke arah laut, dan itu pasti pesawat luar angkasa.
Mama tersenyum mendengar cerita Renjun, mereka berdua kini duduk di pasir tepi pantai. "Jadi Renjun ke sini mau membuktikan kalau mereka itu ada?"
Renjun mengangguk. "Aku yakin mereka menjelma jadi mermaid."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fiksyen Peminat"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
