Part 39 - Keluarga Lee

301 48 12
                                        

Aroma rerumputan bercampur tanah tercium begitu Haechan dan Renjun menginjakkan kaki di pemakaman, sudah lama Haechan  tidak ke sini, sekitar beberapa minggu dia tidak mengunjungi orang tuanya.

Haechan menghela napas berat, kenangan beberapa tahun silam saat dia menangis sesengukan di pemakaman ini masih terekam jelas di ingatannya. Dengan langkah mantap dia berjalan menuju makam yang letaknya ia hapal di luar kepala. Di belakang, Renjun mengikuti Haechan tanpa banyak kata.

Haechan duduk di sebelah salah satu makam begitu dia sampai di makam orang tuanya, bunga mawar putih dia letakkan di dua pusara yang berdekatan itu, sampai saat ini tidak ada suara dari Haechan, ia hanya memandangi batu nisan dari kedua makam itu, matanya menatap sendu dan tanpa sadar air mata turun tanpa bisa dia bendung.

Renjun mengernyitkan kening, dia tidak terlalu tahu makam siapa yang kini mereka kunjungi, yang dia tahu hanya makam papa kandungnya Haechan---Lee Baekhyun, dia tidak tahu siapa makam yang ada di sebelahnya.

Renjun merangkul Haechan yang sudah menangis, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memeluk Haechan yang kini butuh sandaran. Renjun melirik nama yang ada di pusara sebelah papa kandungnya Haechan, nama Lee Taeyeon tertulis di sana. Keningnya mengerut lagi, nama itu familier tetapi dia tidak ingat di mana Renjun pernah mendengarnya.

"Papa ... Mama, maaf karena aku jarang datang," ujar Haechan.

Renjun refleks melepas rangkulannya, dia menatap Haechan dengan pandangan bingung, tetapi hanya sebentar karena Haechan balik menatapnya, Renjun buru-buru mengalihkan pandangan.

"Kabar Mama sama Papa di sana bagaimana? Kalian pasti bahagia di sana, yah walaupun aku kecewa karena kalian meninggalkanku sendirian di sini." Haechan menundukkan kepala, lantas dia menoleh ke arah Renjun.

"Tapi kalian tenang saja, aku sudah punya kakak yang baik dan juga keluarga baru yang menyanyangiku." Haechan menyeka air matanya.

"Aku hari ini bawa bunga kesukaan Mama, kalau Papa kan nggak suka bunga, jadi aku kasih yang sama saja seperti bunga kesukaan Mama." Haechan terkekeh, dia menatap mawar putih di hadapannya.

"Aku nggak bisa lama-lama di sini, ada yang harus aku bicarakan dengan Renjun." Haechan sekali lagi mengelus batu nisan kedua orang tuanya, ia berdoa sebentar dan kemudian berbisik walau Renjun masih bisa mendengarkannya. "Aku janji akan menyusul kalian, tadi mungkin butuh waktu sedikit lama."

Haechan berdiri, ia menepuk-nepuk pantatnya yang kotor karena debu. "Ayo Renjun kita kembali."

"Kau baik-baik saja, Haechan?" Renjun meraih uluran tangan Haechan dan berdiri.

Haechan mengangguk. "Setelah berbicara dengan orang tuaku, aku baik-baik saja. Ayo kita cari makan dulu, setelah ini ada yang ingin aku bicarakan."

"Maaf sebelumnya, jadi mamamu?"

Belum sempat Renjun meneruskan pertanyaannya, Haechan lebih dulu menjawab. "Ah iya, mama kandungku itu Mama Taeyeon, bukan Mama Yurim. Aku hanya anak tiri, yang anak kandung Mama Yurim itu Mark Hyung."

"Apa?!" Renjun tidak tahu harus berkata apa saking terkejutnya dengan fakta yang baru saja dia dengar.

***

Haechan tertawa. "Tidak usah membuat wajah seperti itu, Renjun. Aku tidak apa-apa."

Renjun mendengus, ia memakan Hotteok yang mereka pesan tadi---mereka tidak jadi makan di restoran karena kenyang, jadi mereka hanya beli Hotteok di pinggir jalan dan memakannya di taman.

"Kenapa kau baru cerita sekarang, Haechan?" Renjun menatap Haechan yang dengan santai minum colanya. "Pantas saja dia jahat padamu."

Haechan tertawa kecil. "Tapi bukannya nggak wajar juga ya jahat sama anak tiri?"

Dear My DreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang