"Kalian dari mana saja?" Mark melipat tangannya di depan dada, wajah angkuhnya menatap Haechan dan Renjun bergantian.
Haechan hanya bisa tersenyum tipis, dia tidak bisa masuk ke rumah karena Mark sekarang berdiri di ambang pintu, seakan-akan sengaja memblokir pintu masuk.
"Kau habis menangis?" Mark menatap wajah Renjun dari dekat.
"Ah, Hyung, kami tadi ke bioskop dan nonton film sedih jadi Renjun menangis." Haechan merangkul Renjun. "Kami masuk ke dalam dulu."
Mark menyingkir dari hadapan Haechan dan Renjun.
Haechan kemudian mengajak Renjun masuk ke rumah dan langsung naik ke lantai dua untuk menuju kamar mereka.
Dalam perjalanan, Renjun mengepalkan tangan begitu mengingat cerita tentang Mark yang Haechan ceritakan tadi sewaktu selesai dari makam.
"Kalau Mark bagaimana? Dia jahat juga?" tanya Renjun.
Haechan meletakkan botol minumnya. "Sebenarnya kelakuan Mark sama seperti mamanya, dia juga sering menyiksaku karena tidak suka padaku."
Renjun menoleh pada Haechan.
"Mark tidak suka Mama lebih perhatian padaku, Mark sangat menyayangi mamanya dan tidak bisa kehilangan mamanya, jadi dia melampiaskan amarahnya padaku gara-gara Mama mulai membagi kasih sayangnya padaku. Mark takut mamanya aku ambil, dia takut mamanya pergi selayaknya papanya dulu." Haechan menatap jalanan di depannya.
"Selama bersama mereka, apa kau pernah merasa bahagia Haechan?"
Haechan mengangguk. "Dulu saat papaku masih hidup, mereka memperlakukanku sangat baik selayaknya keluarga, Mark Hyung juga menyayangiku seperti adiknya sendiri, mengajakku bermain, mengajariku main gitar dan membantuku mengerjakan tugas sekolah, tetapi semua berubah sejak papaku menginggal."
Renjun terdiam, helaan napas berat terdengar.
"Aku tidak begitu tahu kisah papa kandungnya Mark Hyung, aku dengar dia masih hidup, mereka bercerai saat Mark Hyung masih kecil dan Mark Hyung marah jika aku membahas papanya."
***
Haechan tidak ingat berapa lama dia tertidur di kamar, tetapi dia yakin sudah sangat lama sampai-sampai mendengar pertengkaran antara Mark dan Renjun di kamar sebelah.
Haechan mengucek matanya, dia berusaha duduk kemudian tak lama dia berjalan menuju kamar Mark yang ada di sebelahnya, yang secara kebetulan tidak dikunci.
Tangan Haechan terhenti saat dia mendengar suara Renjun yang membentak Mark.
"Aku selama ini menghormatimu karena Haechan menganggapmu sebagai hyungnya, tapi kalau kau menyakiti Haechan lagi, aku tidak segan-segan akan membunuhmu."
Haechan menelan ludah, ada apa ini? Kenapa saudaranya saling bertengkar? Bukankah mereka baik-baik saja pada awalnya?
"Ha? Apa maksudmu? Siapa yang menyakiti anak itu? Dan kau akan membunuhku?" Mark tertawa. "Kita lihat dulu siapa yang akan mati."
Haechan membuka sedikit pintu kamar itu agar bisa melihat keadaan di dalamnya. Mark sedang duduk di kursi dan Renjun berdiri membelakangi pintu sehingga Haechan hanya hisa melihat ekspresi Mark yang tersenyum meremehkan.
"Kau! Aku tahu kau suka menyiksa Haechan saat kalian masih belum menjadi keluargaku, kau benar-benar keterlaluan untuk seseorang yang dianggap manusia, kau lebih buruk dari iblis!" Renjun mencengkeram kerah baru Mark.
Mark terlihat sedikit terkejut, dia melirik ke arah pintu dan tidak sengaja melihat Haechan berdiri di sana. "Ah, jadi anak itu yang memberi tahumu? Padahal dia biasanya hanya diam saat aku siksa, dia hanya bisa mengangis. Sayang sekali kau sudah tahu, padahal aku ingin melihatnya menangis lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fanfiction"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
