Part 20 - Kebebasan Seniman

654 82 3
                                        

"Kenapa aku tidak boleh ikut Mama?" Renjun mengigau.

Tepukan pelan di pipinya membuat Renjun tersadar dari tidur panjangnya. Ia menatap Mama Yurim yang kini ada di sebelahnya, Mama memasang wajah khawatir.

"Akhirnya Renjun sadar juga, ada yang sakit, Nak?" tanyanya lembut.

"Kenapa ... aku masih hidup?" gumam Renjun.

Mama menggeleng. "Jangan bicara seperti itu Renjun, kau harus tetap hidup. Mama sangat khawatir karena Renjun tidak sadar seharian penuh."

Renjun menghela napasnya pelan, matanya melirik tempat di sekitarnya, barulah dia menyadari kalau sekarang keberadaannya bukan di kamarnya ataupun di gudang, tetapi di rumah sakit.

"Renjun ada di rumah sakit dekat rumah kita," ujar Mama menjawab kebingungan Renjun.

"Papa mana?" tanya Renjun dengan suara yang kentara sekali kalau sedang takut.

Mama menggeleng. "Entahlah, kemarin malam Papa marah-marah kemudian dia pergi entah ke mana dan sampai sekarang belum pulang, jadi tengah malam Mama mengambil Renjun di gudang setelah memastikan kalo Papa tidak pulang."

Renjun tersenyum tipis. "Terima kasih, Mama."

Mama mengangguk. "Sudah tugas Mama untuk menjaga Renjun. Tenang saja tadi malam dokter juga sudah mengobati Renjun."

Mama mengelus pelan pipi Renjun. "Mama tidak mau Renjun terluka seperti ini, kalau Papa menyakiti Renjun lagi, bilang saja sama Mama."

Renjun hanya diam karena dia sama sekali tidak mau membahas tentang Papa.

"Kenapa Renjun sampai dipukuli Papa? Apa karena Papa melihat keadaan Haechan kemarin?" tanya Mama lagi.

Renjun menggeleng keras, ia tidak mau nanti Mama menyalakan Haechan, dia tidak mau memperbesar masalah.

"Tidak usah menjawab, Mama sudah tahu."

Renjun memandang langit-langit kamar dengan pandangan kosong, matanya berkaca-kaca tanpa dia sadari.

"Renjun kalau ada masalah cerita saja sama Mama karena aku sekarang juga mamanya Renjun. Renjun bisa cerita semua keluh kesah Renjun sama Mama."

Mendengar ucapan hangat Mama dan elusan lembut di kepalanya membuat Renjun menangis, Mama kemudian memeluk Renjun dan membiarkan anaknya itu menangis di pelukannya sampai puas.

Renjun kemudian dibantu Mama untuk duduk dan minum air putih. Ia melirik sekilas jam dinding yang berada di atas pintu, masih jam lima pagi.

"Ma, aku mau pulang, mau ketemu Haechan," kata Renjun. "Mau sekolah juga."

"Renjun masih sakit, biar nanti Haechan yang ke sini sepulang sekolah, dan nanti Mama yang minta izin ke guru kalau Renjun sakit."

Pemuda itu menolak. "Aku sudah tidak apa-apa, Ma. Aku tidak mau nanti Papa marah lagi kalo aku bolos sekolah."

"Nak, kalau Papa marah biar nanti Mama yang memarahinya," ujar Mama berusaha meyakinkannya.

"Memangnya Mama berani? Dia kan monster Ma." Renjun memandang Mama dengan serius.

Mama tersenyum tipis, ia kemudian memeluk Renjun. "Mama juga sebenarnya tidak berani kalau papamu marah, tapi kalo Renjun memaksa pulang tunggu sampai infusnya habis dulu ya? Mama tanya dokter dulu boleh tidak pulang sekarang."

Renjun tersenyum kemudian mengangguk semangat. Mama mengecup pelan kening Renjun kemudian keluar dari ruang rawat inap.

Renjun menyentuh pelan dahinya, ia menyadari kalau ada plester di sana. Tangan kirinya yang diinfus dia angkat untuk melihat kasa yang melilit di telapak tangannya akibat menggenggam pecahan kaca kemarin malam.

Dear My DreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang