Part 32 - Kehangatan

606 72 13
                                        

Lamunan Haechan buyar begitu sebuah tangan menepuk pelan bahunya, pemuda itu kemudian berdiri saat melihat Mama yang ada di hadapannya.

Pandangan Haechan memperhatikan sekeliling dan tiba-tiba saja dia merasa takut saat menyadari kalau hanya ada dirinya dan Mama di ruangan itu.

"Nih minum dulu obatnya biar demamnya turun." Mama menyodorkan obat penurun panas yang biasanya diminum Haechan sehingga dia tidak pernah perlu curiga atas obat yang dia minum.

Selesai meminum obat, Mama mengantarkan Haechan ke kamar. Mama menuntunnya untuk berbaring di ranjang, kemudian tangannya cekatan menyelimuti Haechan sampai ke dadanya.

Mama sibuk sendiri sedangkan pikiran Haechan entah melayang ke mana. Dia mengira Mama hanya berkata omong kosong tadi, rupanya dia benar-benar menjaga Haechan saat dia sakit, bahkan saat tidak ada siapapun di sini yang mengartikan kalau Mama tidak sedang cari muka.

Haechan terkejut saat sesuatu yang dingin menyentuh dahinya, rupanya Mama dari tadi sibuk menyiapkan air untuk mengompres Haechan.

"Haechan istirahat dulu ya biar cepat sembuh?" kata Mama dengan suara lembut yang mana membuat Haechan refleks mengangguk.

"Mama tutup dulu ya tirainya biar nggak silau." Mama menutup tirai di jendela karena hari masih petang.

Sebenarnya Haechan malas sekali kalau disuruh tidur, apalagi matahari masih bersinar terang, tetapi karena badannya agak lemas dan kali ini Mama yang menyuruhnya, jadi Haechan tidak bisa menolak. Pemuda itu paling tidak bisa menolak kalau Mama yang menyuruhnya.

Haechan mulai menutup matanya saat kamarnya sudah tidak silau. Namun beberapa detik kemudian dia membuka lagi matanya karena terkejut dengan Mama yang tiba-tiba mengecup pipinya.

"Selamat tidur, Haechan."

Mama kemudian keluar kamar dan menutup pintu kamar Haechan.

Haechan masih terdiam di tempatnya, ucapan Mama dan kecupan di pipi masih teringat jelas di kepalanya, tanpa sadar pemuda itu tersenyum, tetapi tak lama setelah itu tubuhnya merinding.

"Benarkah tadi Mama? Takut banget dia dirasuki hantu, kok bisa akhir-akhir ini Mama baik sekali," gumam Haechan.

Haechan menggelengkan kepala saat sebuah pemikiran aneh muncul di kepalanya, bagaimana kalau perlakuan Mama tadi sebagai bentuk ucapan terakhir darinya? Lalu setelah Haechan tidur dia tidak akan bangun lagi?

"Aduh, aku semakin ngaco." Haechan menggelengkan kepala.

Pemuda itu meremat selimutnya. "Apa sudah saatnya aku bahagia? Renjun juga sudah kembali lengket dengan papanya, hanya saja aku belum bisa berdamai dengan Mark Hyung."

Ponsel Haechan yang berada di saku berdering. Dengan susah payah Haechan berusaha mengambil ponselnya dan melihat nama Jeno di sana, tanpa berpikir dua kali, dia menerima panggilan dari sahabatnya.

"Main game yuk!" ujar Jeno begitu panggilan tersambung.

Seakan lupa bahwa dia sedang demam, Haechan langsung mengubah posisinya menjadi duduk yang mana membuat kompres di dahinya jatuh, dia melirik pintu yang tertutup kemudian senyuman lebar dia tunjukkan.

"Ayo!" jawabnya dengan semangat.

Haechan sudah mematikan panggilannya dengan Jeno, dia melompat dari ranjang dan berlari menuju meja belajarnya untuk membuka komputernya.

Jemarinya sudah berada di atas keyboard dan layar komputer itu sudah menunjukkan game yang akan Haechan mainkan.

Persetan dengan demamnya, Haechan laki-laki kuat, demam tidak akan menghentikannya dari bermain game dengan Jeno.

Dear My DreamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang