Kening pemuda itu mengernyit saat merasakan rasa sakit di tubuhnya. Mata yang semula terpejam itu kini perlahan terbuka. Kepalanya masih pusing, apalagi sinar matahari yang masuk lewat jendela membuat hidungnya gatal.
Haechan kemudian bersin, membuat atensi kedua orang yang duduk tak jauh darinya itu mengalihkan fokusnya pada Haechan karena dari tadi mereka berdebat.
"Haechan? Masih ada yang sakit?"
Haechan menoleh, dia menggeleng menjawab pertanyaan Papa, sedangkan Mama duduk agak jauh dari Papa. Mereka kini berada di kamar Haechan dan Renjun.
"Kalian habis bertengkar?" tanya Haechan dengan suara pelan.
Tidak bisa Papa sama Mama menunjukkan pertengkarannya di depan Haechan, ia baru pertama kali tahu kalau tadi Mama dan Papa berdebat.
Kenapa mereka bisa bertengkar? Apa pernikahan Papa dan Mama malah membawa dampak yang buruk bagi mereka?
"Tanya saja pada papamu yang gila itu," jawab Mama dengan suara kesal, ia kemudian menghentakkan kaki dan berjalan menuju pintu. "Rawat saja anakmu itu, Chanyeol. Aku mau menemui, Renjun."
"Sayang, jangan begitu." Papa mengejar Mama, kemudian dia memeluk istrinya itu. "Maafkan aku ya?"
Haechan hanya diam memperhatikan orang tuanya, dia sebenarnya bingung, apa yang terjadi di antara keduanya? Lalu kenapa dari tadi mereka membahas Renjun?
Haechan menoleh ke sebelahnya, tempat biasanya Renjun tidur kini kosong, biasanya mereka selalu tidur seranjang, tetapi kasur itu kini kosong. Renjun di mana? Seingat Haechan, terakhir kali mereka bertemu itu tadi malam saat di ambang pintu rumah.
Papa kembali duduk di pinggir ranjang setelah tidak berhasil membujuk Mama dan membiarkan Mama pergi entah ke mana.
"Mama kenapa Pa?" tanya Haechan, dia berusaha untuk duduk dan dengan cekatan Papa membantunya.
Ringisan kecil keluar dari bibir Haechan, punggungnya terasa nyeri karena pukulan Mark semalam. Mark benar-benar menggila tadi malam, Haechan beruntung karena Renjun datang tepat waktu, kalau tidak mungkin sekarang dia hanya tinggal nama.
"Biasa, wanita memang suka marah-marah," jawab Papa santai yang mengundang tawa dari Haechan.
"Iya, Pa. Mama memang suka marah-marah nggak jelas, Papa yang sabar ya?"
Senyum di wajah Papa mengembang, ia mengacak pelan rambut Haechan dan membuatnya berantakan. Matanya kemudian menatap wajah Haechan yang penuh luka.
"Katakan pada Papa, siapa yang melukai Haechan," ujar Papa dengan suara lembut.
Haechan menundukkan kepala, ia meremas selimutnya cemas. Haechan tidak mungkin berkata jujur kalau Mark yang memukulinya, ia tidak mau menambah masalah lagi.
"Haechan mau jujur sama Papa?"
Haechan akhirnya mengangguk saat Papa memeluknya. "Kakak seniorku yang memukulku, Pa."
Pelukan singkat itu terlepas, wajah Papa menunjukkan amarah. "Kenapa dia melakukannya, Haechan? Siapa dia biar Papa beri pelajaran karena buat anak Papa terluka."
Haechan menggeleng kuat. "Tidak perlu, Pa. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Kami hanya melakukan pertaruhan dan aku kalah."
Haechan mulai mengarang cerita, ia sedikit merasa bersalah pada Papa karena berbohong.
"Apa yang kau taruhkan?" Wajah Papa melunak, ia tidak lagi menunjukkan wajah yang marah. "Cewek ya? Jadi kalau kalah dipukuli?"
Haechan cepat-cepat mengangguk walau dia sama sekali tidak pernah melakukannya, biarkan saja masalahnya cepat selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fanfiction"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
