Renjun terbangun setelah tidak sadarkan diri semalaman, pemuda itu mengernyitkan kening saat memperhatikan ruangan di sekitarnya yang tampak asing.
"Kenapa aku ada di rumah sakit?" gumam Renjun.
Pemuda itu memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing, sedikit terkejut saat ada infus yang menancap di tangannya. Renjun berusaha mengingat kejadian yang menimpanya semalam.
Suara pintu dibuka mengalihkan perhatian Renjun, pemuda itu mengernyit saat melihat Mark masuk dengan menggunakan seragam sekolahnya, wajah pemuda itu tampak kusut.
"Kau kemarin pingsan saat naik motor dan kau kecelakaan," ujar Mark dengan nada datar, ia lantas duduk di dekat ranjang Renjun.
Renjun melototkan mata, ia berusaha duduk walau dengan susah payah. "Motor Papa gimana? Aduh, aku bisa dimarahin, nggak dikasih uang jajan sama dipukuli nanti."
"Bisa berhenti ngomel nggak? Kalian berdua hari ini membuatku suntuk." Mark mengacak rambutnya kesal.
"Kau tidak tahu Papaku bagaimana Mark, dia akan marah padaku kalo motornya rusak, aku bisa mati." Renjun menatap Mark dan membayangkan apa yang akan dilakukan Papa jika tahu motornya rusak.
"Seharusnya dia bersyukur kau selamat, bukannya meributkan motor, memangnya papamu miskin?" tanya Mark sinis.
"Iya, dia miskin kasih sayang." Renjun memutar bola mata malas, ia lantas menyadarkan punggungnya di ranjang. "Asal kau tahu Mark, pukulanmu semalam bukan apa-apa dibandingkan pukulan Papa, jadi kau jangan heran jika aku terbiasa, jadi itulah alasannya aku mau menggantikan Haechan, karena Haechan tidak diperlakukan sama oleh Papa."
Mark menoleh pada Renjun yang menatap depan dengan senyum teduh yang penuh luka. "Jika kau sangat ingin membunuh Haechan entah karena apa, mungkin masih kalah dengan keinginan Papa untuk membunuhku, kau tidak akan tahu rasanya, Mark."
"Tentu saja aku nggak akan tahu, aku nggak punya Papa lagi," balas Mark, dia mendengus kesal.
"Kalau kau sudah sadar aku pergi dulu, Haechan sama keluarganya ada di ruangan lain." Mark berdiri.
"Siapa yang sakit?" Pertanyaan Renjun menghentikan langkah Mark.
"Adik kesayanganmu," balas Mark. "Dia pingsan karena liat kecelakaan tadi."
Renjun melirik Mark yang keluar ruang rawatnya, beberapa detik berlalu, Haechan, Papa dan Mama datang. Haechan berlari kecil menghampiri Renjun yang sudah duduk, wajah Haechan terlihat khawatir.
"Renjun Hyung!" Haechan memeluk Renjun.
Renjun tersenyum mendengar nada lucu Haechan, ia balas memeluk Haechan yang sudah menangis. "Kau kok bisa kecelakaan sih? Keluar nggak bilang-bilang, katanya dipanggil Mama kok malah hilang seharian?"
Renjun terkekeh mendengar nada merajuk Haechan. "Udah dong, adeknya Renjun Hyung nggak boleh menangis lagi."
Mama mendekat, ia mengelus pelan kepala Renjun yang kini masih memeluk Haechan. "Renjun sudah baikan Nak? Mama panik sekali saat tahu Renjun hilang."
Renjun mengangguk. "Aku kuat kok, Ma. Jadi cepat sembuh."
Renjun mengelus pelan rambut Haechan, ia merasakan kalau badan Haechan hangat. "Kau masih sakit Haechan? Kok bisa kau juga ikut pingsan."
"Kalau aku memelukmu nanti sakitnya hilang, jadi biarin aku memelukmu dulu, Hyung." Kali ini Haechan hanya ingin bermanja-manja dengan kakaknya, dia tidak bertemu Renjun seharian dan Haechan sudah merindukan saudaranya.
Renjun melirik Papa yang dari tadi hanya diam dan menatap Renjun dengan pandangan tidak bisa diartikan. Papa mendekat dan mengulurkan tangannya, mungkin Renjun terlalu percaya diri dan percaya kalau Papa akan mengelus kepalanya seperti yang dilakukan Mama, ternyata berharap lebih pada Papa adalah suatu seni melukis luka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear My Dream
Fanfiction"Apa kau menginginkan pernikahan ini, Haechan?" tanya Renjun. "Aku tidak begitu peduli, yang selama ini kuinginkan itu keluar rumah dan hidup sendiri," jawab Haechan, ia lantas menoleh pada Renjun yang dari tadi menatapnya. "Lalu kau sendiri bagaima...
