Kasus Ketigapuluhlima

117 16 2
                                        


Sosok bayi laki-laki menggeliat di gendongan Buma. Mata polisi yang baru saja mendapat kenaikan pangkat luar biasa itu mengagumi setiap gerak-gerik sang bayi.

"Adikku gemes ya, Bang."

Zidan memamerkan bayi perempuan, yang baru dilahirkan oleh ibu tiri calon istrinya.

"Mereka kayak boneka ya, Dan."

Buma masih takjub. Sejujurnya ia takut menggendong bayi itu tetapi karena terpaksa, dua bayi itu menangis dan orang tuanya tengah konsultasi dengan dokter di ruangan lain, otomatis kedua polisi itu membantu.

"Ayank! Dedekku rewel nggak?"

"Aman sayang. Aman. Nih, Dania sama Daril pinter."

Baru saja dipuji, kedua bayi itu malah menangis bersamaan. Mungkin karena mereka mendengar kakak mereka datang.

"Aduh, duh, cup. Kakak di sini sayangku. Duh, kok nangis semua."

Davina segera mencuci tangan dan mengambil adiknya dari dekapan Zidan. Ia tak mengira Zidan ternyata di sana bersama Buma.

"Loh, Pak Buma, tadi aku pikir ayah!"

Keterkejutan itu sudah terlambat. Ya, Davina tadi keluar untuk menjemput Cleo yang ingin menjenguk adik-adik dan ibunya. Davina meminta bantuan Cleo untuk menggendong salah satu adiknya yang sudah boleh dibawa pulang.

Hal ini karena sang ibu sama sekali belum boleh menggendong. Itulah kenapa, Davina meminta Cleo datang.

Gadis yang lebih sering keluar menggunakan niqab itu melangkah masuk.

Zidan tak lebih kaget.

"Dan, ini. Dia nangisnya kenceng banget. Kasian, mungkin laper. Aku tunggu di luar aja ya."

"I-iya Bang."

Tanpa melihat ke sosok wanita berniqab hitam itu, Buma menyerahkan adik Davina pada Zidan.

"Aku tunggu di luar."

"I-iya Bang. Maaf ya, ngerepotin. Sebentar lagi aku susul Bang."

Jantung Cleo berdegup kencang. Setelah sekian lama, ia tak bertemu dengan laki-laki itu, akhirnya mereka berjumpa. Namun, Buma sama sekali tak melirik ke arahnya.

Mas... apa kamu sudah benar-benar lupa denganku?

Buma berjalan keluar dengan tenang dan tatapan tertuju ke lantai. Khasnya, yang selalu menjaga pandang dulu. Sebelum ia bertemu dengan Cleo yang selalu menggodanya dengan segala macam cara.

Keduanya berpapasan tanpa ada kata terucap. Aroma parfum sang pria tercium. Tubuh tegap itu terlihat sedikit lebih kurus tetapi tak mengurangi kegagahannya.

Astagfirullahal adzim, Cleopatra... apa-apaan kamu. Kenapa bisa-bisanya berpikiran seperti ini.

Zidan dan Davina sudah tak karuan. Mereka panik karena tanpa sengaja membawa Cleo dan Buma pada satu frame.

"Aku keluar dulu ya. Nanti sopir mama udah siap di luar kalau butuh bisa langsung gas... aku anter Bang Buma jemput ayahnya dulu."

Cleo dan Davina mengangguk. Zidan menciumi dua adiknya sebelum pergi.

"Ya Allah, Mbak. Untung dia nggak ngenalin Mbak." Davina lemas.

Cleo hanya tersenyum simpul di balik cadarnya.

*****


Sore itu, Buma mendapat jatah menjemput ayahnya yang selesai mengisi acara di salah satu pesantren karena Angkasa mendadak ada jadwal flight pagi tadi, sedang Yuhan sakit.

Desus KasusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang