38 | percayakan aku

85 4 0
                                        

Suasana malam terasa begitu hidup, seakan energi dan semangat berpadu dalam keramaian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana malam terasa begitu hidup, seakan energi dan semangat berpadu dalam keramaian. Andai saja ia datang lebih awal, pasti pengalaman yang didapatkan jauh lebih seru. Konon, banyak orang mengenakan kostum unik—dari yang mengundang tawa, menebar kengerian, hingga sosok-sosok ikonik yang seolah keluar dari dunia fantasi. Setiap sudut penuh kejutan, setiap langkah membawa pesona yang sayang untuk dilewatkan.

Kota kembang ini selalu menawarkan banyak hal menarik membuat mata tak jenuh biarpun menelusuri setiap titik keramaian. Justru semakin betah berlama-lama hanya kalau tak ingat waktu.

Mungkin sama halnya seperti, Jalan Braga yang menghadirkan nuansa tempo dulu sangat kental dengan bangunan Deco Klasik, menjadi buruan spot berfotonya sekarang.

"Gimana perasaan lo ke tempat ini lagi?" Matanya mengedip beberapa kali ketika ditanya begitu. "Apa wajah doi nggak kegambar di bayangan lo sekarang?" Ia termenung bingung.

Sebab berbohong jika ia berkata merasa biasa saja, berada di tengah-tengah keramaian, namun hanya memikirkan satu orang di kepala. Biar terkadang teralihkan saat teman-teman mengajaknya bicara."Keren nggak sih?" gumam Fauna bersama Lana.

"Apa perlu gue tanyain Nata di mana sama Lana?" Naren melirik tajam malas mendengar sedangkan cowok yang dibicarakan, tidak ada usaha mencari.

Itu artinya bisa saja dia memang lebih menyukai Lana ketimbang Naren. Agak menyedihkan rasanya, tetapi mulai dari sekarang ia tidak akan mengemis dicintai lagi.

Dengan ucapan usil dan senyuman konyol itu Lengkara terus menggodanya. Sepanjang jalan sudah serasa berat ditambah cuitan tidak jelas dari Fauna. Ia muak ingin cepat pulang.

"Naren!" Lana memanggil saat Naren justru mengarahkan kaki ke parkiran. Melepaskan minat dari muaranya. "Kita belum ke Braga woi!"

Bruk! "Eh! Maaf, maaf, A nggak sengaja lagi." Seperti bayangan yang muncul hanya dalam kedipan mata, barusan ia menabrak seseorang––berpenampilan tertutup seolah-olah menyimpan rahasia di balik tiap lipatan kainnya, namun alih-alih bereaksi orang tadi justru lanjut berjalan.

Acuh tak acuh atau hanya malas. Padahal Nareina sudah terlanjur malu sampai menunduk kaku, enggan sekedar melirik.

Sikap angkuh orang asing tadi makin mengingatkan ke mana tempat pikirannya berlabuh pada saat ini. Nareina menggeram pelan."Nathala Mahareza, banjingann, ke mana sih... Awas kalau gue dapet lo di sekitar sini," geramnya, gemas ingin meremas sesuatu.

"Halah, paling ketemu juga langsung lo pelukk, tau gue!" goda Fauna lagi, memanaskan kuping.

"Terserah!" balasnya lanjut mengentak-hentakan kaki kembali. Sementara yang lain tak berkomentar namun tetap julid lewat tatapan.

 Sementara yang lain tak berkomentar namun tetap julid lewat tatapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Catching FeelingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang