________________________________________________
Libur musim panas akhirnya tiba, sesuai janji mereka waktu di sekolah. Semua sibuk mempersiapkan keberangkatan ke Puncak.
Claudia dan gengnya, The Girls, sedang sibuk mengemas perlengkapan. Rachel hanya bisa menghembuskan napas panjang melihat barang bawaan teman-temannya yang seperti ingin pindah negara.
“Kalian mau ke Puncak atau pindah negara sih?” tanya Rachel malas.
“Diem lo, makanya jadi cewek normal. Biar tahu barang apa aja yang wajib dibawa,” sahut Luvena dengan sarkas.
“Betul,” tambah Nevy.
“Gue normal, kalian aja yang berlebihan,” balas Rachel.
“Udah, ayo kita siapin semuanya terus berangkat,” ujar Claudia mengakhiri perdebatan.
“Eh, Clau, gue berangkat bareng cowok gue ya,” ucap Luvena takut-takut.
“Iya, gue tahu,” sahut Claudia datar.
---
Sementara itu, Bela sedang menelepon Olivia untuk menanyakan persiapannya.
“Jadi gimana, semuanya udah siap?”
“Udah, Bel. Tinggal berangkat. Btw, lo berangkat bareng Irel, kan?”
“Gue bareng Stiward.”
“Stiward? Ketua Cobra?”
“Hm.”
“Oke deh.”
●tutt
Bela selesai mempersiapkan barang bawaannya dan kini duduk menunggu kedatangan Stiward. Mamanya yang melihat Bela tersenyum lagi merasa lega, karena seminggu terakhir senyum itu tak pernah muncul.
Saat mamanya hendak menghampiri, papanya buru-buru menahan.
“Kenapa sih, Pa?”
“Bela masih marah. Kalau kamu samperin dia, bisa-bisa dia batalin liburannya.”
“Aku cuma mau pastiin dia baik-baik aja. Aku khawatir kalau nanti di Puncak dia malah ke-trigger sama kejadian waktu itu.”
“Lihat aja, dia baik-baik aja. Sekarang kita harus bersiap karena ayahnya Irel minta ketemuan.”
---
Kini semua telah berkumpul di rumah Claudia untuk berangkat bersama. Namun suasana terasa canggung. Mereka hanya saling menatap tanpa berbicara.
Claudia pun memecah keheningan.
“Bisu ya lo semua?” tanya Claudia malas.
“Niatnya mau liburan, bisa gak sih happy aja?” sindir Luvena.
“Lupain masalah kalian. Sekarang kita udah berteman,” timpal Sandra.
Namun mereka tetap diam. Karena merasa malas, Claudia spontan membatalkan rencana.
“Yaudah, batal aja deh ke Puncaknya.”
“Enak aja! Gue udah siap dari subuh,” protes Aurel.
“Gue mau quality time sama cewek gue,” sahut Marion.
“Apaan sih, Clau? Kalau lo gak mau ikut ya udah. Gak usah dibatalin semua,” kesal Revan.
“Sayang, kenapa jadi gini?” tanya Skyler bingung.
“Lo semua dari tadi saling tatap doang kayak mau perang,” gerutu Claudia.
(Emang bener, bentar lagi perang akan terjadi) — batin salah satu dari mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
