-
--
Malam ini, sejak tadi Bela hanya mengurung diri di kamarnya sambil menangis mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya.
Ia bingung—apa yang sebenarnya sedang terjadi? Semua terasa janggal, tapi ia tak tahu apa.
Melihat kondisi putri semata wayang mereka, kedua orang tua Bela tampak sangat khawatir.
> “Bela sayang, ayo keluar. Kamu dari tadi belum makan,” ujar sang Mama lembut.
> “Bela nggak lapar, Ma,” jawab Bela lirih, sesekali terisak.
> “Kamu kenapa, sayang? Kamu lagi nangis? Apa yang terjadi sama kamu?” tanya mamanya penuh kekhawatiran.
> “Sayang, buka pintunya. Cerita sama Mama dan Papa apa yang terjadi,” pinta papanya.
> “Bela nggak apa-apa, Pa, Ma,” ucap Bela, berusaha berbohong.
> “Kamu nggak bisa bohong sama Mama dan Papa, sayang. Mama tahu, pasti ada yang nggak beres. Ayo keluar, cerita semuanya,” bujuk mamanya.
Karena tak sanggup lagi menahan semua kegelisahan yang menumpuk di pikirannya, Bela akhirnya membuka pintu dan menghampiri kedua orang tuanya.
Melihat wajah Bela yang kacau, Mama dan Papanya langsung panik.
> “Sayang, kamu kenapa sampai begini?” tanya Mama.
> “Apa hubungan Mama dan Papa dengan mamanya Irel?” tanya Bela, nadanya mulai penuh emosi.
Kedua orang tuanya hanya bisa saling menatap, terdiam.
> “Hubungan apa, sayang?” tanya Papa balik.
> “Bela mau Mama sama Papa jujur sama Bela sekarang,” pinta Bela serius.
> “Sayang, semua ini masih terlalu rumit buat kamu mengerti,” jawab Mama lembut.
> “Apa lagi sih, Ma, Pa? Bela bukan anak kecil lagi. Jangan karena trauma masa lalu, Mama dan Papa jadi menutup semua hal dari Bela,” kata Bela kesal.
> “Sayang, kamu bicara apa sih?” tanya Papa bingung.
> “Bela cuma mau tahu yang sebenarnya,” tegas Bela.
Tapi lagi-lagi, mereka hanya diam.
> “Emang karena trauma itu Mama sama Papa jadi nggak pernah terbuka sama Bela,” ujar Bela kecewa, lalu berlari meninggalkan mereka.
---
Hari ini, para murid Angkasa High School sedang fokus menghadapi ujian semester ganjil.
Di kelas XI MIPA 1, suasana relatif tenang—semua murid sibuk mengerjakan soal.
Namun, berbeda dengan Olivia. Sejak tadi ia tampak gelisah, pikirannya melayang ke arah sahabatnya, Bela, yang tak datang sekolah.
Karena terlalu hanyut dalam pikirannya, Olivia sampai ditegur oleh Mrs. Itha.
> “Olivia, jangan melamun terus. Kerjakan dan segera dikumpulkan!”
Olivia tersentak dari lamunannya dan mengangguk, lalu kembali fokus pada lembar soal.
---
Di kelas XII MIPA 1, suasana pun sama sibuknya. Semua murid tampak serius—kecuali Revan.
Sejak tadi, Revan sibuk mencari contekan dari teman-temannya, tapi tak ada yang menggubris.
Ia bahkan memberi kode ke Kris, namun Kris mengabaikannya.
> “Kris, nomor 3 dong. Sumpah gue buntu banget,” rengek Revan.
Tak digubris, Revan melempar kertas ke arah Malvin dan Skyler.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
TeenfikceCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
