“Whatever you are, be a good one.”
---
Saat ini, Bela sedang duduk di halte menunggu bus. Ia termenung, memikirkan kejadian di sekolah bersama Irel. Entah kenapa, sosok cowok itu membuatnya heran.
Kenapa suasana hati Irel bisa berubah-ubah begitu cepat?
Ada yang aneh. Seolah dia menyimpan sesuatu di balik sikap cueknya. Bela juga teringat bagaimana sikap Irel kepada ibunya… sesuatu terasa janggal.
Semakin Bela mencoba mencari tahu, semakin sulit menemukan jawabannya.
“Ahhh, ngapain juga gue mikirin dia,” ucap Bela kesal.
“Mikirin siapa?” tanya seseorang di sampingnya.
“Tu cowok aneh… Irel,” jawab Bela asal ceplas-ceplos.
“Seneng banget mikirin gue, ya?” sahut suara yang sangat dikenal.
Bela langsung menoleh. Irel berdiri tepat di sampingnya.
Wajah Bela langsung merah padam. Malu banget! Gimana bisa dia keceplosan ngomong begitu… dan orangnya sendiri denger!
Buru-buru Bela cari cara biar cowok itu gak ge-er.
“Lo ngagetin aja kayak hantu,” sindir Bela, berusaha mengalihkan topik.
“Ngapain lo mikirin gue?” tanya Irel, menatap Bela.
“Ge'er banget jadi cowok! Kirain gue gak ada kerjaan apa?” balas Bela cepat.
“Lo sendiri yang bilang,” ucap Irel santai.
“Sana deh lo! Jauh-jauh dari gue!” usir Bela.
“Kirain halte ini punya bokap lo?” sindir Irel balik.
“Gue gak mau berurusan lagi sama lo. Sana dehh!”
“Kirain gue juga mau berurusan sama lo?”
“Cowok aneh!”
“Cewek gila!”
“Kalau lo gak pergi, gue yang pergi,” Bela berdiri.
“Sana!” usir Irel ketus.
Sial banget cowok ini!
Gak cuma nyebelin, tapi juga kasar. Bela benar-benar gak habis pikir, gimana bisa ada cowok kayak dia. Kalau dibilang "garang", iya. Tapi sopan santun? Nol besar.
Tapi satu hal yang Bela perhatikan—Irel memang jarang bicara. Tapi sekali buka mulut, kata-katanya selalu tajam.
Bela tahu, kalau dia harus berurusan sama Irel, mentalnya harus siap.
Keduanya kembali diam. Sesekali saling melirik sekilas.
Lalu, Irel akhirnya membuka suara.
“Wooy!”
“Apa?” jawab Bela cepat.
“Gue mau ngajak lo ke satu tempat,” ucap Irel.
“Gue gak mau,” sahut Bela cuek.
“Gue gak nerima penolakan,” kata Irel, langsung menarik tangan Bela.
“Apa-apaan sih lo?! Lepasin gak! Woy!” teriak Bela panik.
Tapi Irel tak menghiraukannya. Ia terus menarik Bela menuju motornya.
---
Beberapa waktu kemudian...
Di sepanjang jalan, tak satu kata pun keluar dari mulut mereka. Hening.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang tenang dan indah. Bela terpukau.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
