● Whatever you are, be a good one ●
---
Hari ini, saat semua siswa-siswi sedang makan bersama di kantin, Claudia The Circle tiba-tiba menghampiri meja geng Death.
> “Eh, liat tuh cewek lo mau datengin lo,” kata Revan sambil melirik ke arah Claudia dan gengnya.
“Hai, Rel~” sapa Claudia manja.
Irel yang dipanggil hanya diam dan tetap fokus menyantap makan siangnya, seolah tak peduli.
> “Ini gue punya sesuatu buat lo, diterima ya,” ujar Claudia sambil menyodorkan sebuah kotak kecil ke arah Irel.
Irel sebenarnya enggan menerima hadiah dari siapa pun, tapi karena teman-temannya memandanginya, akhirnya ia terpaksa mengambilnya.
> “Eh, ada Nevy! Nih dari tadi Kris lihatin lo mulu,” goda Revan jahil.
“Gila lo!” sambar Kris, kesal.
“Yah, Nevy... cabut kutukan lo dong. Kasihan temen gue menderita!” lanjut Revan bercanda.
“Bisa diem gak sih tuh mulut?” balas Nevy kesal.
“Sekarang marah-marah, dulu mah bucin lo ke Kris gak ketolong,” cibir Revan.
“Lain dulu, lain sekarang. Gak semua orang harus bergantung sama masa lalu, kali!” bela Luvena.
“Lo gak diajak ngomong,” sindir Revan.
“Gak nanya juga,” balas Luvena tajam.
“Jadi gimana, Nevy? Mau cabut kutukan mantan lo atau balikan sama Kris? Pilih salah satu,” desak Revan.
> “Kedatangan kita ke sini cuma nganter Claudia. Bukan buat bahas hal gak penting kayak gini,” potong Nevy, kesal.
> “Nih buat lo aja, Van,” kata Irel tiba-tiba, memberikan kotak dari Claudia kepada Revan.
> “Wah, beruntung banget gue dapet hadiah! Thanks, Rel! Makasih juga ya, Claudia!” jawab Revan semangat.
“Tapi Rel… itu buat lo…” protes Claudia, kecewa.
“Gue gak butuh apa pun dari lo,” balas Irel tajam.
“Tapi setidaknya lo terima…”
“Gue udah terima.”
“Trus kenapa lo kasih ke Revan?”
“Mau lo apa sih? Ngebacot aja, gangguin makan siang gue,” sahut Irel dengan nada dingin.
> “Eh udah-udah! Gue udah nerima kok. Hitung-hitung gue wakilin Irel, ya,” kata Revan mencoba menengahi.
“Bisa diem gak, lo?” ucap Rachel menegur Revan.
Revan langsung terdiam.
Tiba-tiba Alin datang bersama dua sahabatnya.
> “Hai, sayang. Kamu dicari Pak Robet di ruang olahraga,” ucap Alin ke Marion.
“Oh oke. Guys, gue tinggal sebentar, ya. Nanti gue nyusul ke kelas,” pamit Marion.
Teman-temannya mengangguk paham.
> “Alin, sini gabung bareng kita,” ajak Revan.
“Makasih, tapi gue harus nemenin Marion,” tolak Alin sopan.
> “Yaelah, ngapain sih gangguin waktu bucin orang,” celetuk Kris.
“Yaudah, Kheyes sini!” panggil Revan lagi.
Kheyes sempat melirik ke arah Revan, lalu menoleh ke Malvin yang sedang sibuk membaca.
> “Gak usah deh. Gue sama Sandra mau ke kelas,” tolak Kheyes.
“Masih jam istirahat. Nyantai dulu lah, di kelas malah suntuk,” bujuk Revan.
> “Kalau gak mau, jangan dipaksa. Kesannya gak baik,” ujar Malvin yang dari tadi diam, tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
Kheyes langsung terkejut. Ternyata Malvin memperhatikan sejak tadi.
> “Kita lagi ada urusan, lain kali aja,” ucap Sandra lalu menarik tangan Kheyes pergi.
---
Beberapa menit kemudian...
> “Rel, gue mohon... terima hadiah ini,” pinta Claudia.
Ia mengambil kotaknya kembali dari tangan Revan dan menarik tangan Irel, meletakkan kotak itu ke tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Fiksi RemajaCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
