---
Sesuai dengan perkataan Bela semalam, pagi ini ia sudah menyiapkan bekal untuk Irel.
Sebenarnya bukan Bela yang menyiapkannya, melainkan mamanya. Bela hanya membantu dan memantau.
> “Jadi ini mau dikasih ke calon menantunya Ibu?” goda mamanya Bela.
“Ihh, Mama! Apaan sih,” kesal Bela sambil tersipu malu.
“Kalau gitu kamu harus belajar masak, Bel. Biar nanti bisa nyiapin sendiri buat calon suaminya,” ledek mamanya.
“Iya, Ma. Lagian, siapa juga sih yang mau sama cewek gak bisa apa-apa kayak aku,” ujar Bela.
“Ya sudah, ini bekalnya. Jangan lupa salam dari Mama dan Papa ya,” pinta mamanya seraya menyerahkan kotak bekal.
“Oke, bos!” seru Bela semangat.
---
Hari ini Claudia tampak sangat bahagia karena papanya mengantarkannya ke sekolah. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bersama ayahnya, karena kesibukan sang papa membangun rumah sakit ternama di luar kota.
Selama ini Claudia lebih sering bersama ibunya dan menjadi lebih dekat dengannya.
Sesampainya di depan gerbang Angkasa High School...
> “Clau,” panggil ayahnya.
“Iya, Pa?”
“Maafin Papa ya, Sayang. Karena Papa jarang di rumah dan gak bisa banyak habiskan waktu bareng Mama dan kamu.”
“Gak apa-apa, Pa. Semua itu juga demi kebaikan Claudia. Aku senang kok kalau Papa dan Mama masih terus ada di samping Claudia,” jawab Claudia sambil tersenyum.
> “Apa kamu masih menyukai Jizrael?” tanya ayahnya pelan.
(FYI, ayah Claudia tahu sejak dulu bahwa anaknya sangat menyukai Irel dan terus mengejarnya, jadi tidak heran kalau dia tahu soal itu.)
Wajah Claudia yang tadinya cerah langsung berubah murung.
> “Apa Papa salah bicara?”
“Nggak, Papa gak salah. Yang salah itu aku… karena berharap terlalu banyak ke Irel.”
“Kalau kamu mau, Papa bisa atur kontrak kerja sama dengan ayahnya Irel. Kita bisa bahas kelanjutan hubungan kalian.”
“Irel udah punya pacar.”
“Siapa pacarnya?”
“Bela… Isabela Elena.”
“Bela?” Ulang ayahnya, terheran-heran seolah nama itu tidak asing di telinganya.
“Papa kenal sama dia?”
“Enggak kok. Ya sudah, selamat sekolah ya, Sayang. Nanti Papa jemput?”
“Gak usah, Pa. Aku bareng teman.”
Claudia lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke area sekolah.
---
Sementara itu, di rumah Kris...
Irel dan Kris sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tapi dari tadi Irel terus menunggu Kris yang belum juga keluar dari toilet.
> “Kris! Cepetan dong!” teriak Irel.
“Santai aja, bro. Telat kan hal biasa,” sahut Kris dari dalam.
“Iya gue tahu. Tapi lo udah dua jam di toilet dan gak kelar-kelar!”
“Iya-iya, ini gue keluar,” ujar Kris sembari keluar.
Irel memperhatikan wajah Kris yang tampak pucat.
> “Lo kenapa?”
“Gak papa.”
“Muka lo pucat banget. Lo sakit?”
“Lebay, lo. Takut telat kan? Ayo, berangkat!”
Kris berjalan lebih dulu keluar rumah. Irel mengernyit heran.
> “Aneh...” gumamnya.
---
Sementara itu, Claudia dan gengnya sedang berkumpul di kelas.
> “Ven, beneran kemarin lo gak ada di markas waktu anak Death ke sana?” tanya Nevy.
“Gue emang ke sana. Tapi waktu gue sama Randy jalan, gak ada anggota Death yang muncul,” jelas Luvena.
“Baguslah. Kemarin lo bikin kita bertiga khawatir,” ujar Rachel.
“Gue rasa kemarin lo gak khawatir, malah ngomel-ngomel si Vena gak jelas,” sindir Claudia.
“Lo ngomong apa, Chel?” bentak Luvena kesal.
“Astaga, Clau! Mulai ya, lo mau fitnah gue. Lo tahu sendiri kan gue kayak gimana.”
“Iya, kita semua tahu lo paling susah dibilangin,” timpal Nevy sarkas.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
