05.Bullying Lagi

134 6 0
                                        

● I'm just silent, but I'm not blind ●

Pagi ini cerah, tapi tidak secerah suasana hati para murid Angkasa High School. Ya, hari Senin adalah hari wajib upacara. Semua siswa diwajibkan berdiri di bawah terik matahari sejak pagi.

Sayangnya, hari ini semesta seperti tidak berpihak kepada Isabela Elena. Ia datang terlambat, dan sebagai hukuman, harus berdiri di bawah matahari menyengat.

“Hufff... sial banget sih hari ini. Baru juga semangat pagi, eh langsung dapet apes,” gumam Bela kesal.

Dari kejauhan, murid-murid melihat Bela dan mulai bergosip tentang dirinya yang katanya mengusik ketenangan anak-anak Death. Tatapan sinis dan bisik-bisik itu kembali menyelimutinya. Tapi seperti biasa, Bela memilih bersikap masa bodoh. Buat apa peduli?

Matanya sempat menangkap sosok Stela dari kejauhan. Mereka saling menatap sejenak. Tapi Stela dengan cepat mengalihkan pandangannya dan berjalan pergi. Bela hanya bisa terdiam. Ia tahu, Stela memang sedang menjauh darinya.

Setelah hukumannya selesai, Bela segera menuju kelas. Namun, di koridor, langkahnya terhenti saat bertemu Claudia dan gengnya.

“Hai~,” sapa Claudia dengan senyum yang terlalu manis untuk jadi tulus.
“Iya,” jawab Bela singkat.
“Boleh ngobrol sebentar?”
“Ini juga lagi ngobrol, kan?” jawab Bela sinis.

Claudia mencoba tetap tenang.

“Gue dan teman-teman pengin ajak lo masuk circle kita. Gimana?”

Bela terlihat berpikir sebentar, lalu menjawab santai,

“Gue gak tertarik sama yang namanya circle. Tapi makasih loh... ternyata gue cukup menarik buat dilirik.”

Setelah itu, Bela langsung pergi meninggalkan mereka.

Begitu Bela berlalu, Claudia langsung menghadap ke teman-temannya.

“Gimana guys, menurut kalian?”
“Songong banget tuh cewek!” sahut Luvena.
“Pengen gue injek mukanya!” geram Rachel.
“Tapi guys...” ucap Nevy. “Kalian gak sadar? Jawaban dia tadi itu clue buat misi kita, loh.”

Mereka saling pandang, lalu tersenyum penuh rencana, dan melangkah ke kelas.

Rooftop

Bela yang tak diperbolehkan ikut pelajaran pertama karena terlambat, memutuskan pergi ke rooftop. Di sana ia berdiri menatap ke bawah, menarik napas panjang dan perlahan membuangnya.

Hening...

Sampai sebuah suara memecah keheningan.

“Baru segitu aja, udah mau akhiri hidup? Lemah banget jadi cewek!”

Itu suara Irel. Ternyata ia juga sedang membolos. Penampilannya acak-acakan: dasi berantakan, dan rokok di sela jari.

“Siapa juga yang mau bunuh diri?”
“Lo sendiri yang keliatan begitu,” ujar Irel.

Bela mendelik,

“Aneh.”
“Lo yang aneh,” balas Irel santai.

Saat Bela ingin pergi, pintu rooftop terbuka. Ternyata Pak Leo, guru killer sekolah, sedang berkeliling. Irel refleks menarik Bela ke pojok, bersembunyi.

“Ngapain sih lo?” tanya Bela heran.
“Berenang,” jawab Irel sarkas.
“Hah??”
“Ssst! Lo mau ketahuan? Mau dijemur lagi kayak tadi?” bisik Irel sambil menahan tawa.

Bela terdiam. Dalam hatinya, dia gak menyangka Irel memperhatikannya sejak pagi tadi. Mereka bertatapan beberapa detik.

“Gue tahu gue ganteng. Gak usah tatap gue gitu,” ucap Irel dengan senyum menyebalkan.

Bela memalingkan wajah, malu. Lalu Irel pergi meninggalkannya.

Perpustakaan

Saat jam istirahat, Randa pergi ke perpustakaan seperti biasa. Ia tenggelam dalam bukunya, sampai seseorang menyapanya.

“Hai.”

Malvin. Randa menoleh, sedikit kaget.

“Gue ngomong sama lo, bukan sama bukunya,” kata Malvin ketus.
“Iya... ada apa?”
“Lo kenapa? Ada yang gangguin lagi?”
“Gak kok.”
“Tapi lo keliatan aneh.”
“Cuma perasaan lo aja.”

Malvin merasa canggung dan akhirnya pergi.

Tak lama, Claudia dan geng datang.

“Pake pelet apaan lo?” sentak Nevy.

Randa menegang.

“Selain lemot, lo bisu juga ya?” ejek Luvena.
“Muka lo minta ditonjok tau gak?” tambah Rachel dengan emosi.

“Gue gak cari masalah sama kalian...” jawab Randa pelan.
“Lo kira kita seneng cari masalah sama lo?” bentak Nevy.
“Kalau gitu, tinggalin gue sendiri!”

Rachel langsung menyambar buku-buku Randa dan membuangnya ke tong sampah. Sebelum mereka berbuat lebih jauh, sekelompok anggota Cheers masuk ke perpustakaan.

“Hari ini buku lo yang dibuang. Besok bisa lo-nya,” ancam Claudia.

Mereka pergi dengan senggolan penuh ejekan.

Randa hanya bisa menunduk, merasa lemah dan tak berdaya.

Di sisi lain…

Alin, Kheyes, dan Sandra — anggota cheers — melihat kejadian tadi. Mereka pura-pura tidak peduli, tapi…

“Gue rasa Claudia udah keterlaluan,” ucap Sandra pelan.
“Tumben lo merasa kasihan,” celetuk Kheyes.
“Kesambet apaan?” tanya Alin.
“Gue cuma... gak enak aja liatnya,” ujar Sandra.

Kheyes yang sudah bosan mengganti topik,

“Besok bisa nemenin gue ke mall gak?”

“Gue gak bisa. Gue sama Mr Ly mau quality time,” kata Alin.
“Yaelah, tiap hari aja. Gak ada hari libur apa?” sindir Kheyes.
“Namanya juga buciners,” tambah Sandra sambil tertawa.

Markas Death

Anggota inti Death sedang berjalan di koridor. Semua siswa melirik mereka kagum dan takut. Bagi Kris, ini kesempatan pamer pesona.

“Aduh Kris, stop deh. Lo tuh udah punya pacar, masih aja nebar pesona,” kesal Revan.
“Yaudah bro, gue ke taman dulu. Mau pacaran~,” pamit Kris.
“Pacar lo yang mana lagi?” goda Mr Ly.
“Ngiri yah?” ejek Kris.

Perdebatan mereka konyol tapi hangat.

Sementara itu, Irel dan Malvin hanya menyimak sambil tersenyum kecil. Meski punya masa lalu kelam, terutama Irel sebagai anak broken home, ada bagian dari dirinya yang merasa... nyaman bersama mereka.

Penutup

Maaf kalau ada kesalahan penulisan. Author masih belajar. Terima kasih buat yang sudah baca! Jangan lupa komen kalau ada masukan yaaa~
See you di Bab 6: Cemara VS Broken Home

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang