● Believe in Yourself ●
Hari ini, Angkasa High mendadak gempar. Puluhan geng motor mengepung gerbang sekolah. Dari raut wajah mereka, jelas terlihat mereka datang untuk mencari masalah dengan anggota Death.
> "Panggil tuh anak-anak Death, suruh keluar sekarang juga!" teriak salah satu dari mereka.
Mendengar teriakan itu, para siswa langsung panik. Beberapa dari mereka bergegas mencari anggota Death untuk memberi tahu apa yang terjadi di gerbang sekolah.
> "Kak Irel! Di depan banyak geng motor! Mereka nyuruh anak-anak Death keluar buat hadapi mereka!" lapor salah satu siswa dengan wajah cemas.
Berita itu membuat anggota Death tercengang. Geng motor itu jelas nekat—datang ke sekolah mereka untuk cari gara-gara?
Irel yang sudah dibakar emosi langsung melangkah pergi dari kelas, diikuti oleh teman-temannya.
Sementara itu, keributan di luar sekolah sudah semakin memanas. Para geng motor melempari gedung Angkasa High dengan batu, merusak fasilitas sekolah.
Security mencoba menghalau, tapi kalah jumlah. Amarah para geng motor membuat mereka sulit dihentikan.
Guru-guru hanya bisa bertahan di dalam sekolah, memberi instruksi kepada para siswa untuk tetap tenang dan tidak panik.
---
> "Sayang, kamu sama Kheyes dan Sandra mending cari tempat aman deh. Bahaya kalau geng itu sampai masuk ke sekolah," ucap Marion dengan nada khawatir.
> "Tapi kamu mau ke sana? Bahaya banget, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!" balas Alin.
> "Aku nggak mungkin ninggalin teman-teman aku. Ini sudah jadi tanggung jawabku sebagai anggota Death."
> "Yaudah... tapi kamu hati-hati ya..."
> "Kheyes, Sandra—kalian bawa Alin cari tempat aman. Jangan sampai kepisah, oke?"
Kheyes dan Sandra mengangguk. Mereka bertiga segera pergi mencari tempat perlindungan.
Sementara itu, Marion melangkah cepat menyusul teman-temannya.
Di dalam sekolah, siswa-siswi panik dan berlarian mencari tempat aman.
---
Di kelas, Olivia sudah panik sejak tadi. Ia menarik tangan Bela, memaksanya untuk keluar mencari tempat perlindungan. Tapi, Bela terlihat santai, wajahnya datar, seolah tak peduli dengan kekacauan yang terjadi.
> "Bel, situasinya kayak gini kok lo masih santai sih? Ayo cari tempat aman," pinta Olivia.
> "Trus gue harus lari-lari teriak gitu? Mending duduk tenang di tempat," jawab Bela santai.
> "Bel, lo lama banget! Ayok pergi! Nggak penasaran apa sama Irel? Dia lagi ngadepin tuh geng motor sendirian."
Mendengar nama Irel disebut, Bela jadi penasaran. Ia tahu, kalau Irel marah, dia bisa jadi versi tergelap dari dirinya. Bela yakin saat ini Irel sedang tidak bisa dikontrol.
> "Bel! Jangan melamun! Ayo pergi!" seru Olivia.
> "Ayo."
Mereka pun bergegas meninggalkan kelas.
---
Berbeda dengan Claudia dan geng The Circle, mereka justru sedang berdebat—bukan panik mencari tempat aman.
> "Gue tahu ini pasti ulah cowok yang lagi deketin lo," sarkas Claudia.
> "Maksud lo Randy?" tanya Luvena.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
