25.perhatian

77 3 14
                                        

●Still Hope●

---

Setelah kejadian kemarin, para anggota Death hari ini dipanggil ke ruang BK.

> “Kalian penyebab masalah ini, kan?” tanya Pak Leo menginterogasi mereka berlima.

> “Yah nggak lah, Pak! Buktinya kita yang bantu beresin para pengacau itu,” kesal Revan.

> “Kalau saya bicara, jangan pernah kamu menyela, Revan,” ujar Pak Leo dengan nada sarkas.

> “Lagian, Pak nanya, ya saya jawab. Nggak mungkin Kang Ujang yang jawab pertanyaan Bapak, kan?” ledek Revan.

> “Malvin, sebagai ketua OSIS, seharusnya kamu jadi teladan untuk siswa-siswi Angkasa High School, bukannya malah ikut tawuran,” jelas Pak Leo.

> “Karena saya ketua OSIS yang baik, saya berusaha membela sekolah kita dari para bajingan itu,” balas Malvin.

> “Tapi bukan dengan berkelahi kalian menyelesaikan masalah. Kenapa tidak dibicarakan baik-baik?” ucap Pak Leo.

> “Pengecut kayak mereka nggak pantas buat dinego,” timpal Kris.

> “Lalu siapa mereka kemarin?” tanya Pak Leo lagi.

> “Kami juga nggak tahu, Pak. Tapi kalau tahu, orangnya udah habis di tangan kita,” jawab Revan.

> “Kalian ini murid Angkasa High School. Karena geng kalian, nama baik sekolah kita tercemar!” kesal Pak Leo.

> “Bukan karena geng kami, tapi karena mereka yang nggak punya otak,” ujar Marion.

> “Udah selesai ngomong?” tanya Irel yang sejak tadi hanya diam.

> “Kalau bicara sama guru, saya harap kamu bisa sopan, Irel,” pinta Pak Leo.

> “Bacot. Kalau mau nyelesaiin masalah, kenapa nggak cari tahu siapa yang nyerang sekolah? Malah nginterogasi kami pakai pertanyaan sampah kayak gini!” kesal Irel, lalu langsung keluar dari ruang BK.

Pak Leo menghela napas berat.

> “Anak itu… Ayahnya ketua yayasan sekolah ini. Tapi kelakuannya jauh dari contoh yang baik,” gumam Pak Leo.

> “Semua orang punya cara masing-masing dalam menyikapi masalah,” ujar Kris, lalu pergi.

> “Kalian bertiga juga mau melawan seperti mereka?” tanya Pak Leo.

> “Kita anak teladan, loh, kalau Pak lupa,” jawab Revan sambil tersenyum jahil.

> “Kamu itu banyak bicara, tapi nol dalam tindakan,” kesal Pak Leo.

> “Kayak Bapak paling benar aja di dunia,” ejek Revan.

> “Tingkah kalian ini bikin malu sekolah. Geng kalian bisa dibubarkan kalau kejadian ini terulang. Saya akan bahas ini dengan ketua yayasan. Nasib geng kalian ada di tangan beliau,” tegas Pak Leo.

> “Kita nggak bisa janji kalau masalah nggak datang lagi. Karena masalah selalu cari kita, bukan kita yang cari masalah. Kita berlima bakal bahas ini. Makasih atas ‘nasihatnya’, Pak. Kami permisi,” pamit Malvin.

Mereka bertiga pun keluar dari ruang BK dengan perasaan kecewa.

---

“Bela,” panggil seseorang.

Bela menoleh, dan mendapati Dimas memanggilnya. Ia cukup heran—baru kali ini cowok berandalan itu mengajaknya bicara.

> “Lo kenal gue?” tanya Bela, heran.

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang