“I just wanna be a kid again — no stress, no pressure, and no pain.”
---
Hari ini cuaca sangat tidak bersahabat. Jam pulang sekolah sudah lewat, tapi langit mendung, pertanda hujan akan segera turun.
> "Bela, lo pulang sama siapa?" tanya Olivia memastikan.
> "Kayaknya gue nggak bisa dijemput. Gue pesen ojek online aja," jawab Bela sambil menunduk memeriksa ponselnya.
> "Naik bareng gue aja, bokap gue udah nunggu di depan," tawar Olivia.
> "Nggak usah. Gue pesen ojol aja," tolak Bela halus.
> "Tapi lo nggak papa kan?" tanya Olivia, khawatir.
> "Gak papa. Udah sana, pulang! Bacot lo," usir Bela sambil tersenyum kecil.
> "Ya elah, ini juga mau pulang. Byee!" pamit Olivia sambil melambaikan tangan.
Bela hanya membalas dengan lambaian tangan kecil dan senyum tipis.
---
Kini Bela berdiri sendirian di depan gerbang Angkasa High. Langit mulai meneteskan airnya perlahan. Sudah hampir satu jam ia memesan ojek online, tapi tak satu pun yang menerima.
> "Astagaaa… ini kenapa sih! Sekolah udah sepi lagi!" gerutunya kesal.
Tak lama, hujan deras pun turun. Tapi anehnya, Bela justru menikmatinya. Aroma tanah basah dan suara gemericik air menenangkan pikirannya. Ia tertawa kecil sambil membiarkan tubuhnya basah kuyup.
Berbeda dengan Bela yang biasanya cuek, dingin, dan bermuka datar, kini ia terlihat seperti anak kecil yang bahagia bermain hujan.
Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan. Ia tersenyum tipis melihat tingkah Bela, lalu perlahan mendekat.
> "Kelihatan banget kayak anak kecil lo," ucap suara laki-laki itu.
Bela menoleh. Kaget.
Itu… Irel.
> "Lo?" tanya Bela refleks.
> "Kebiasaan, kalo ketemu orang mukanya kayak monyet," sindir Irel sarkas.
> "Lagian, lo ngapain hujan-hujanan di sini?" tanya Bela balik.
> "Harusnya gue yang nanya. Masa kecil lo kurang bahagia ya?" balas Irel.
> "Gue suka hujan. Entah kenapa, mood gue bisa naik seribu persen," kata Bela dengan senyum lepas.
Irel tampak heran. Jarang ada cewek seperti Bela yang bisa berbicara sepanjang itu dengannya.
Tanpa banyak bicara, Irel membuka jaketnya dan menaungkannya ke kepala Bela.
> "Ngapain sih lo?" tanya Bela risih.
> "Stop jadi anak kecil. Lo bisa sakit," jawab Irel datar.
Saat Bela hendak menjawab, Irel langsung menarik tangannya dan membawanya ke halte terdekat.
Di sana, Bela duduk sambil memeluk lutut, masih basah kuyup tapi tampak bahagia.
> "Gue suka hujan," gumamnya sambil tersenyum.
> "Gue nggak suka hujan," sahut Irel.
> "Kenapa?" Bela menoleh penasaran.
> "Karena kalau lo kayak tadi, hujan bikin lo jatuh sakit. Selain suka hujan, lo juga suka sakit gitu?" tanya Irel.
> "Baru kali ini si Jizrael ngomong panjang lebar," celetuk Bela.
> "Udah beberapa kali, lo aja yang baru denger," jawab Irel.
> "Katanya lo dingin, cuek, galak… kok bisa jadi kayak gini?"
> "Gue biasa aja," jawab Irel singkat.
Tanpa banyak bicara lagi, Irel memakaikan jaketnya ke tubuh Bela yang mulai menggigil.
> "Nggak usah repot-repot. Lo lupa gue siapa?" tanya Bela.
> "Anak baru yang songong itu, kan?" ucap Irel santai.
Bela mendengus. Kesal, tapi malas menanggapi.
> "Lo mau gue tinggal atau bareng gue pulang?" tanya Irel.
> "Ya pulang bareng lah!" jawab Bela cepat, menurunkan gengsinya.
Irel naik ke motornya dan menoleh.
> "Naik sekarang atau jalan kaki?"
> "Yaudah, yaudah… bareng lo," kata Bela sambil naik.
---
Di perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Mungkin karena dua-duanya memang dikenal dingin.
> "Rumah lo di mana?" tanya Irel.
> "Jalan ______," jawab Bela.
Sesampainya di rumah, Bela melihat ibunya sudah menunggu di depan. Irel pun menghentikan motornya.
> "Thanks buat tumpangannya. Soal jaket… besok gue balikin ya?" tawar Bela.
> "Terserah," jawab Irel datar.
Tiba-tiba…
> "Belaa! Astaga, kamu main hujan-hujanan lagi ya? Mama udah bilang berapa kali!" omel ibunya panik.
Bela buru-buru menutup telinganya, malu karena dimarahi di depan Irel.
> "Eh? Ini pacar baru kamu ya, Bel?" tanya ibunya polos.
Bela dan Irel serentak melotot kaget.
> "Ibu, apa-apaan sih! Dia cuma temen!" bela Bela panik.
(Dalam hati: "Omggg amit-amit banget gue nganggep dia temen! Yang ada gue pengen nginjek kepala ni anak!")
Irel hanya tersenyum canggung.
> "Tante, saya temannya Bela," jelas Irel.
> "Namanya aja Irel, pantes cakep kayak oppa-oppa Korea. Gini nih mantu idaman ibu-ibu. Kapan-kapan main ke rumah ya, biar tante kenalin ke ayahnya Bela!" ucap ibunya antusias.
Bela makin pusing dan cepat-cepat menutup momen itu.
> "Makasih ya, Rel. Bye! Jangan ngebut ya, hati-hati. Daaa!" kata Bela buru-buru sambil narik ibunya masuk rumah.
Irel hanya tertawa kecil dan melaju pergi.
---
Di jalan, wajahnya masih terbayang percakapan tadi. Dalam hati, dia iri.
Andai orang tuaku masih utuh...
Irel kini hidup bersama ibu tirinya sejak orang tuanya bercerai. Ia tak tahu di mana ibunya sekarang. Sosok ibu seperti ibu Bela tadi membuat dadanya terasa sesak.
Sesampainya di rumah, ia membuka helm, duduk di kamarnya, dan bergumam pelan:
"Ternyata… dia."
---
Maaf kalau ada kesalahan. Terima kasih sudah membaca. Mohon bantuannya untuk saran dan kritik, karena author masih belajar 🙏
—Author
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
