04.Perang Dingin

164 6 0
                                        


---

●Life tip: stop expecting●

Hari ini sudah seminggu lamanya Bela berada di Angkasa High School.

Sejak kejadian di kantin, hari-hari Bela dipenuhi dengan tatapan dan bisikan dari siswa-siswi lainnya. Tapi, Bela tidak menghiraukannya—baginya semua itu tidak penting.

Seperti saat ini. Bela dan Olivia yang hendak pergi ke perpustakaan untuk meminjam novel favorit mereka, tiba-tiba bertemu dengan anak-anak Death Boys.

Dan sesuai dugaan, mereka langsung menghujani Bela dengan pertanyaan.

“Mana yang namanya Bela?” tanya Revan.

Bela dan Olivia pun berhenti melangkah.
Olivia tampak pucat. Ia gugup berada di hadapan para Death Boys. Walau sebenarnya senang bisa dekat mereka, tapi berada dalam situasi seperti ini bukan mimpi yang diharapkannya.

Bela menoleh dan menjawab tenang, “Gue Bela.”

“Ooh, lu yang namanya Bela. Pahlawan kesialan itu, ya?” sindir Kris meremehkan.

Malvin yang sejak tadi diam, menunjuk Olivia. “Lo boleh pergi, kita cuma butuh teman lo.”

Olivia menatap Bela dengan cemas. Tapi Bela tersenyum menenangkan, memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja.

“Lo tahu kan konsekuensi cari masalah sama kita?” kata Mr. Ly dingin.

Bela menjawab santai, “Gue gak pernah cari masalah sama kalian. Jadi buat apa lo semua nahan gue di sini?”

Para Death Boys tertawa mendengar jawaban angkuh Bela.

“Anak baru, cantik sih. Tapi sayang... bego,” ejek Revan.

Bela menahan amarah. Bisa-bisanya dia disebut bego oleh cowok brengsek seperti itu.

“Jadi mau kalian apa?” tanya Bela akhirnya.

“Kita mau lo minta maaf ke Malvin. Seenaknya lo sok berkuasa depan semua orang waktu itu,” kata Kris.

“Oke. Gue minta maaf. Puas? Gue boleh pergi?” ujar Bela dengan datar.

Revan menatap Bela meremehkan. “Jadi cewek songong banget, lo.”

Bela menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan diri. Lalu ia menatap Malvin dan berkata, “Maafin gue. Gue janji gak bakal cari masalah sama kalian lagi.”

Tanpa menunggu respon, Bela berbalik untuk pergi. Tapi...

Seseorang yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara.

“Udah jelek, kumel, belagu, songong, dan sok berkuasa. Serendah itu ya harga diri cewek murahan kayak lo?” kata Irel sinis.

Ucapan itu menghantam hati Bela. Ia berusaha menahan air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan mereka.

Sambil menggenggam rok seragamnya, Bela menjawab, “Gue bukan cewek murahan seperti yang lo bilang. Camkan itu!”

“Oh? Kalau bukan cewek murahan... cewek gratisan?” balas Irel dengan kejam.

Teman-teman Irel hanya diam. Mereka tahu, kalau Irel ikut campur, ujungnya pasti sekeras ini.

“Lo punya hati gak sih? Gak mikirin perasaan orang yang lo hina barusan?” Bela tak tahan lagi, nadanya mulai tinggi.

Irel hanya menyeringai. “Kalau lu cewek lemah, jangan sok kuat. Waktu itu sok belain orang lain, padahal lo sendiri lebih lemah dari si culun itu.”

Setelah itu, Irel dan yang lain pergi. Saat lewat di samping Bela, dia menabraknya hingga Bela terjatuh.

Olivia buru-buru menghampiri Bela dan membantunya berdiri. Sejak tadi dia tak pergi karena khawatir dengan Bela.

“Bela, lo gak apa-apa?” tanya Olivia panik.

“Gue gak apa-apa kok,” ujar Bela pelan.

“Yaudah, gue anterin lo ke UKS ya,” ajak Olivia. Bela mengangguk pelan.

Sesampainya di UKS:

“Udah gue bilang Bel, jangan cari masalah sama Death Boys. Mereka kejam,” ucap Olivia.

“Gue gak cari masalah. Tapi mereka yang sok berkuasa,” bela Bela.

“Emang mereka penguasa di Angkasa High School, Bel,” jelas Olivia.

“Jadi lo takut sama mereka?” tanya Bela heran.

“Semua murid di sini takut. Gak ada yang berani ribut sama mereka... kecuali lo. Anak baru pula,” kata Olivia.

“Lo gak perlu takut,” tegas Bela.

Olivia diam sejenak. “Setelah ngelihat lo ribut barusan, gue malah makin takut.”

Bela tak menjawab.

“Lo itu teman gue. Kalau lo cari masalah, otomatis gue juga jadi sasaran. Gue mohon, Bel... stop,” pinta Olivia jujur.

Bela menatap Olivia tajam. “Kalau lo gak suka cara gue... lebih baik lo gak usah jadi teman gue.”

Olivia terdiam. Ia tak percaya Bela memutuskan persahabatan yang baru seminggu mereka jalin. Tanpa berkata sepatah kata pun, Olivia pergi meninggalkan Bela.

Tanpa mereka sadari, seseorang sedari tadi diam-diam mendengar semuanya.

Dia adalah Nevy, teman satu circle Claudia.
Nevy segera berlari menghampiri teman-temannya dan menceritakan informasi menarik itu.

Claudia hanya tersenyum tipis. “Kita lanjut ke rencana kedua.”

Mereka semua saling menatap dan tertawa.

---

Di markas Death Boys

Mereka sedang membahas kejadian barusan.

“Rel, kata-kata lo tadi gak terlalu kasar, kan?” tanya Mr. Ly. Dia tidak suka sifat Bela, tapi di sisi lain merasa kasihan.

Revan menimpali, “Menurut gue malah masih kurang buat cewek yang ngeremehin Death.”

Irel hanya tersenyum dingin. “Ini baru awal. Tunggu permainan selanjutnya... Isabela Alena.”

---

Sementara itu, Bela hanya mengurung diri di kamar.

Ibunya berulang kali membujuknya keluar untuk makan malam, tapi Bela menolak.

Dia masih menangis, mengingat kata-kata Jizrael Rayan Vernando—laki-laki yang dengan mudah merendahkannya di depan semua orang.

Padahal selama ini tak pernah ada yang memperlakukannya seperti itu. Di rumah, dia selalu mendapat kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya.

“Bela sayang, ayo keluar. Kita makan malam. Papa udah nungguin kamu,” bujuk ibunya lembut.

“Aku gak lapar, Ma,” jawab Bela berbohong.

“Kamu kenapa, sayang?”

“Aku gak apa-apa. Aku capek... mau istirahat.”

“Ya sudah. Kalau lapar, ke bawah ya. Mama udah siapin makanan.”

Ibunya pun meninggalkan kamar.

Sepulang sekolah, mood Bela benar-benar rusak.

Walau banyak yang menganggap dia cewek kuat karena berani menghadapi Death Boys, kenyataannya… Bela gak sekuat yang orang-orang pikir.

Mengambil napas panjang, Bela berbisik pada dirinya sendiri:

"Perang dingin dimulai."

---

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang