11.DIA?

84 5 0
                                        


"Stop loving the person who can’t love you back. Stop hurting yourself."

Saat ini, Bela sedang bersiap-siap pergi ke rumah Irel. Ia sudah mendapatkan alamat rumah Irel dari Revan. Meskipun Revan terus-menerus mengiriminya pesan panjang yang membuatnya risih, Bela akhirnya tetap membalas karena merasa berutang budi padanya.

📱 Revan
Loc: ________
Ini alamatnya. Kalau lo butuh apa-apa, bilang aja ke gue, gak usah sungkan.
Anggep aja teman sendiri, ya.
Belaa?

📱 Bela
Makasih.

📱 Revan
Sama-sama.
Lo jadi ke rumahnya Irel?
Btw lo ke sana bareng siapa?
Kalau mau, gue bisa nganterin.

📱 Bela
Gue bareng bokap.

📱 Revan
Ohh yaudah, hati-hati ya!
Kalau ada apa-apa langsung kabarin gue.

(Read)

Setelah membaca pesan terakhir dari Revan, Bela segera keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya.

“Sayang, kamu udah siap?” tanya mamanya.
“Iya, Ma. Ini tinggal jalan aja,” jawab Bela.

“Yaudah tunggu sebentar, Papa kamu masih siap-siap. Lagi dikit turun, kok,” ujar mamanya lagi.
“Iya, Ma.”

“Oh iya, setelah kamu kasih jaketnya calon mantu Mama—eh maksud Mama, Irel—jangan lupa sekalian kasih brownies buatan Mama, ya,” pinta mamanya sambil menyelipkan plastik berisi brownies.
“Mama, apa-apaan sih! Udah Bela bilang, kita gak ada hubungan apa-apa! Deket aja enggak! Ngapain Mama sampai segitunya?” Bela mengeluh.

“Mama gak mau tahu. Coba kalau dia gak nganterin kamu, bisa-bisa kamu keluyuran di sekolah sampai pagi,” ujar mamanya tegas.

“Lagian, kalau gak ada dia, aku masih bisa nikmatin hujan lebih lama. Dia datang dan ngerusak semuanya,” jawab Bela ketus.

“Pokoknya Mama gak mau tahu.”

Sebelum pembicaraan berlanjut, ayah Bela muncul.

“Ayo kita jalan, Sayang,” ajak ayahnya.
“Ayo, Pa,” sahut Bela.

“Ma, aku sama Bela berangkat dulu,” pamit sang ayah.
“Yaudah, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut kalau lagi jalan sama Bela, Sayang,” pesan mamanya.
“Siap, Bos,” jawab ayahnya sambil tertawa.

Mereka pun berangkat. Setelah sampai di titik lokasi yang dikirimkan Revan, Bela menyuruh ayahnya berhenti.

“Kayaknya di sini deh, Pa.”

Ayahnya memarkir mobil dan turun bersama Bela.

“Jadi nanti pulangnya Papa jemput atau gimana?”
“Nggak usah, Pa. Aku bisa pesen ojek atau taksi online,” jawab Bela.

“Tapi kalau ada apa-apa, langsung kabarin Papa ya.”
“Iya, Pa,” jawab Bela sambil tersenyum.

Ayahnya mencium keningnya lalu masuk kembali ke mobil dan pergi meninggalkannya.

Bela memandangi rumah di hadapannya—atau lebih tepat disebut mansion. Megah dan mewah, membuatnya terpukau.

Ia membunyikan bel beberapa kali. Tak lama, seorang wanita cantik dan modis keluar membukakan pintu.

“Selamat sore, Tante. Maaf, apa ini rumahnya Irel?” tanya Bela ragu.

“Ohh, kamu temannya Irel ya?”
“Iya, Tan,” jawab Bela sedikit gugup.

“Irel ada di dalam, ayo masuk.”
“Gak usah, Tan. Saya di sini aja,” tolak Bela.

“Gak papa, gak usah takut. Saya ibunya Irel, kok.”

Saat Bela hendak melangkah masuk, tiba-tiba Irel keluar dari rumah. Ia mengenakan kaus hitam dan celana pendek, rambutnya acak-acakan—tapi entah kenapa justru membuatnya makin memikat.

Ya Tuhan… Bela, barusan lo muji dia? Amit-amit! pikir Bela panik. Gara-gara dia juga, gue jauh-jauh ke sini cuma buat nganterin jaket!

Ibunya Irel tersenyum melihat anaknya.
“Irel, ini ada teman kamu.”

Tapi Irel hanya berjalan tanpa menanggapi ucapan ibunya. Bela heran. Sikap Irel pada ibunya terasa dingin, seperti tak peduli.

Akhirnya, sang ibu pun masuk ke dalam rumah, membiarkan mereka berdua di luar.

“Udah puas liatin gue?” tanya Irel datar.

Bela cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
“Ini jaket lo. Sama ini titipan dari nyokap gue, brownies. Sebagai ucapan terima kasih katanya.”

“Kalau niat ngasih orang sesuatu, mukanya jangan ditekuk gitu,” ucap Irel menatap tajam.
“Iya-iya,” Bela tersenyum paksa.

Irel menerima dua totebag itu.

“Udah kan? Gue rasa ini terakhir kalinya kita ketemu. Gue gak mau berurusan sama lo lagi,” ucap Bela.

“Tergantung.”

“Hah? Gue udah gak mau bermasalah sama fans-fans lo itu. Lagian, apa sih yang menarik dari lo sampai mereka tergila-gila?”

“Yang menarik dari gue gak ada di lo. Itu jawaban simpelnya.”

“Muka lo minta ditonjok,” ujar Bela kesal.

“Gue gak mau muka mulus gue kena tangan kotor lo.”

“Jadi cowok gak bisa ngalah dikit?”
“Jadi cewek gak usah nyari topik bisa?”

“Siapa juga yang nyari topik buat ngobrol sama lo?! Gak penting! Buktinya gue rela gak makan martabak favorit gue demi nganterin jaket lo!” marah Bela.

“Oh.”

Bela nyaris meledak.
“Sana.”
“Apa?”
“Pergi.”

“Seharusnya lo nawarin gue masuk atau apa kek! Ini baru sampe, udah diusir. Gak jelas banget jadi tuan rumah!”

“Pulang sana.”
“Bacot lo! Tanpa lo usir pun gue juga mau pulang. Gue nyia-nyiain waktu gue buat lo yang gak penting!”

“Gue juga buang 20 menit buat ladenin lo. Pergi sana.”

Irel berbalik meninggalkannya.

Cukup. Ini sudah cukup! batin Bela. Ia kembali mengingat nasihat Stela: jangan berurusan dengan mereka.

Ia juga bingung kenapa banyak cewek Angkasa High School begitu mengidolakan cowok semenyebalkan Jizrael Rayan Vernando.

Saat hendak memesan ojek online, tiba-tiba ada panggilan masuk. Begitu melihat nama di layar, Bela tersenyum. Seketika emosinya mereda.

“Lo di mana?” tanya suara di seberang.
“Ini, di jalan pulang.”
“Area mana?”
“Kawasan ________.”
“Tunggu di situ, gue udah deket.”

Panggilan dimatikan sepihak. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di sampingnya. Bela tersenyum, berbincang sebentar, lalu mereka pergi meninggalkan kawasan rumah Irel.

Tapi semua itu tidak luput dari penglihatan Irel. Ya, sejak tadi dia belum masuk ke rumah. Alasannya? Ia ingin memastikan Bela pulang dengan aman.

Dalam hati kecilnya, ia sebenarnya ingin mengantar Bela pulang—tapi gengsinya terlalu tinggi.

Tiba-tiba ia melihat Bela tersenyum ke arah ponselnya. Lalu datanglah pengendara motor, dan wajah orang itu terasa tidak asing.

Setelah berpikir sejenak, Irel pun bergumam:

“Jadi… DIA?”

Maaf kalau ada kesalahan penulisan dan lain-lain. Author masih belajar, jadi mohon bantuannya jika ada kekurangan.
Sampai bertemu di Bab 12!
Jangan lupa vote dan komen ya, guys!

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang