37.Konflik

56 5 18
                                        

Saat ini, Irel dan Kris sedang berada di rumah Kris. Sepulang sekolah tadi, Irel memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan memilih pergi ke rumah Kris. Orang tua Kris yang sibuk dengan pekerjaan membuat Kris sering kali tinggal sendiri. Kehadiran Irel sedikit mengusir rasa sepi itu.

> "Kris, gue kira cuma gue aja yang gak dapet perhatian dan kasih sayang dari orang tua," ujar Irel.

> "Lo bener, Rel. Bukan cuma lo. Nyokap-bokap gue saking sibuknya kerja, pulang ke rumah cuma sebulan sekali. Dan itu pun gak pernah ngabisin waktu bareng gue," jelas Kris.

> "Mungkin, di antara kita semua, cuma orang tua kita yang paling beda," ucap Irel.

> "Bukan orang tua kita yang beda, Rel. Emang udah takdirnya kayak gini. Tapi satu hal yang harus lo tahu: bersyukur," terang Kris.

> "Lo bersyukur dengan hidup lo yang kayak gini?" tanya Irel.

> "Banget. Karena kalau bukan hari ini, kapan lagi gue bisa hidup? Kita gak pernah tahu ke depannya gimana," jawab Kris.

> "Gue salut sama lo," puji Irel.

> "Lebih salut sama lo. Walaupun lo punya banyak masalah, lo tetap jadi ketua yang bisa diandalkan buat kita semua," ujar Kris.

> "Gue takut gagal jadi ketua yang baik buat kalian," sahut Irel.

> "Lo gak perlu takut, Rel. Kita semua percaya sama lo."

Saat obrolan mereka semakin dalam, bunyi notifikasi dari ponsel mereka mengalihkan perhatian. Setelah membaca pesan dari teman-temannya, mereka langsung bergegas menuju markas.

---

Di sisi lain, Bela dan Stiward sedang berada di minimarket. Sepulang sekolah tadi, Stiward mengajak Bela untuk ikut menemaninya.

> "Bel, gue rasa belanjaan lo udah cukup," ujar Stiward.

> "Iwa, ini masih kurang! Kamu kan tahu, kalau aku mau maraton drakoran, harus banyak cemilannya," rengek Bela.

> "Gue heran kenapa si Irel bisa mau sama cewek mewek kayak lo," ledek Stiward.

> "Yah, mungkin karena ada yang beda dari gue. Buktinya lo juga suka kan sama gue?" goda Bela sambil tersenyum jahil.

> "Gue gak suka sama lo," sahut Stiward sarkas.

> "Kalau gitu, sana pergi!" usir Bela.

> "Yah, gue suka dan sayang sama lo, Bel. Kalau gak, waktu itu lo kecebur di sungai, udah gue tinggalin tuh," jelas Stiward.

> "Itulah gunanya lo sebagai sahabat gue," ucap Bela sambil tersenyum.

> "Gak usah senyum-senyum," Stiward menyindir.

> "Kenapa? Takut jatuh cinta beneran sama gue, ya?" goda Bela lagi.

> "Enggak juga," elak Stiward.

> "Emang gitu. Lo gak boleh suka sama gue melebihi ikatan persahabatan kita. Karena hal itu bisa ngerusak apa yang udah kita jalin dari kecil," jelas Bela.

Stiward hanya mengangguk pelan, menyimpan rasa yang tak sempat terucap.

> (“Hal ini yang bikin gue gak berani ngomong soal perasaan gue ke lo, Bel.”) — batin Stiward.


---

Sementara itu, sepulang sekolah, Luvena dijemput Randy. Randy membawanya untuk bertemu dengan teman-temannya agar mereka semua bisa lebih akrab.

JIZRAEL!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang